22 June 2008

Pers; Tinjauan Historis dan Orientasinya

Oleh : Bungkapit21


"Kau tahu kenapa aku menyayangimu lebih dari yang lain?
karena kau menulis..."

(Pramoedya Ananta Toer)



Mukadimah


Dalam proses interaksi sosial, manusia tidak pernah luput dari apa yang namanya komunikasi. Disini komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi tersebut karena salah satu esensi dalam kehidupan manusia adalah kebebasan berbicara dan berpendapat. Produk manusia yang akhirnya menjadi alat untuk berkomunikasi adalah bahasa. Dengan bahasa inilah manusia berhubungan. Disisi lain bahasa ternyata tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dan bersifat deskriptif(sarana melukiskan fenomena atau lingkungan sekitar), bahasa mampu mempengaruhi cara kita melihat lingkungan. Implikasinya bahasa juga digunakan untuk memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa, misalnya dengan menekankan, mempertajam, memperlembut, atau mengaburkan peristiwa tersebut.


Komunikasi mempunyai beberapa bentuk. Salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan adalah komunikasi massa, yaiut komunikasi melalui media massa. Komunikasi seperti ini biasanya bersifat satu arah(one way traffic communication) dan polanya adalah; KomunikatorPesanKomunikan. Sebagai contohnya adalah koran, majalah, bulletin, tabloid, televisi, radio, dsb. Agar tidak terlalu panjang lebar, pokok bahasan yang lebih ditekankan di sini adalah tentang gerak dan peranan media massa sebagai salah satu bentuk komunikasi massa, khususnya media massa mahasiswa atau biasa disebut persma.


Sejarah Pers di Indonesia


Dalam sejarah perkembangannya pers Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi masyarakat kolonial pada waktu itu. Munculnya pers di Indonesia bermula dari perkembangan sejarah pers Belanda sampai akhir abad ke-19 di Hindia Belanda. Kemudian menginjak awal abad ke-20 adalah sebuah awal pencerahan bagi perkembangan pergerakan di Indonesia yang ditandai dengan munculnya koran.


Ada beberapa tahapan dalam perkembangan sejarah pers di Indonesia. Pertama, di sebut “Babak Putih” yakni dari tahun 1744 sampai tahun 1854 dimana surat kabar mutlak dimiliki orang-orang Nederland yang dibuat menggunakan bahasa Belanda dan dibaca oleh pembaca berbahasa Belanda. Kemudian babak kedua berlangsung antara tahun 1854 sampai masa kebangkitan nasional. Pada tahun 1854 ini dikenla sebagai kemenangan kaum liberal(politik etis) di Nederland yang memberikan kelonggaran pada kegiatan pers di Hindia Belanda.


Di saat inilah media massa yang diterbitkan Tionghoa dan Bumiputera pertama kali muncul. Untuk media Tionghoa ada Li Po yang pertama kali terbit di Sukabumi pada tanggal 12 Januari 1901. Kemudian lahir juga Kabar Perniagaan, Sin Po, dan Sin Tit Po Sin Tit Po yang kesemuanya itu dimiliki oleh orang Tionghoa dan menggunakan bahasa Melayu-Franca. Walaupun semua penerbitan rata-rata dimiliki orang Tionghoa, tetapi kondisi ini juga mendorong proses kemajuan intelektualitas kaum bumiputera. Sedang untuk media massa bumiputera pertama didirikan oleh RM Tirto Adhi Soerjo pada tahun 1902 dengan nama Soenda Berita. Terbitan itu lahir atas kerja Tirto Adhi Soerjo dan bupati Cianjur yang bernama RAA Prawiradiredja. Harian ini pertama kali terbit pada bulan Pebruari 1903. Selain itu, Tirto juga memimpin terbitannya sendiri yang bernama Medan Prijaji di tahun 1907 dan menyebut hariannya tersebut khusus ditujukan pada “bangsa yang terperentah” alias bangsa yang terjajah. Dan alhasil, Medan Prijaji ini mencapai puncak kegemilangannya. RM Tirto Adhi Soerjo inilah yang menjadi pelopor lahirnya pers nasional. Melalui surat kabar ia mengkritisi semua kebijakan pemerintah Belandayang sangat menyengsarakan rakyat. Dialah sang pemula, sosok pembaharu dalam pergerakan di Indonesia.


Dari sejarah Tirto tadi kita bisa simpulkan bahwa seorang jurnalis tidak hanya mampu menulis kondisi zamannya yang buruk tetapi juga ikut aktif untuk merubahnya. Hal ini sama juga dengan pola gerak pers mahasiswa pasca kemerdekaan. Ketika tahun 1966 dimana situasi politk Indonesia sangat memanas dan harga kebutuhan pokok rakyat melambung tinggi, para aktivis pers mahasiswa banyak yang bergerak. Lahirnya media kampus seperti Mahasiswa Indonesia, Harian KAMI, Gelora Mahasiswa Indonesia, dan Mimbar Demokrasi turut berjuang aktif menggulingkan Soekarno. Melalui pemaparannya yang kritis, media kampus memberi kontribusi sehingga Soekarno Jatuh dari kedudukannya.


Setelah kejatuhan Soekarno, pers mahasiswa mencoba memberikan kontribusi melalui media kampus tersebut untuk membangun Indonesia baru. Kemudian ketika tahun 1974 ketika terjadi peristiwa MALARI, pers kampus kembali menyerang pemerintah(masa awal pemerintahan orde baru). Banyak kasus pembredelan terhadap pers kampus dan media massa umum; seperti Indonesia Raya, Pedoman, Jakarta Times, serta Mingguan Nusantara dan Ekspress. Pasca pembredelan tersebut gerak mahasiswa dibatasi dengan dikeluarkannya SK No. 0156/U/1978 oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoet Joesoef pada tanggal 19 April 1979 tentang NKK disusul instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi 002/DK/Inst/1978 tentang pembentukan BKK. Lahirnya NKK/BKK inilah yang akhirnya membatasi ruang gerak mahasiswa.


Pers Indonesia dan Pers Mahasiswa Saat Ini


Saat ini pers di Indonesia sedang mengalami kebebasannya. Pers memiliki kondisi untuk melaksanakan idealismenya. Meskipun hal itu tidak mutlak karena masih ada beberapa kasus yang menunjukkan pers dalam kondisi tertekan, seperti kasus Tempo. Secara umum pers di Indonesia bisa dikategorikan dalam tiga kelompok. Pertama, pers sebagai corong pemerintah dimana pers seperti ini lebih condong berpihak pada pemerintah dan biasanya dimiliki oleh pemerintah. Kedua, pers mengambang dimana pers seperti ini cenderung bersifat oportunis. Ketika kondisi kekuasaan sangat otoriter maka ia akan memuja habis-habisan dan ketika kondisi kekuasaan melemah ia akan ikut-ikutan menghujat. Ketiga, pers progresif dimana pers seperti ini tercermin dalam media massa yang konsisten dalam menjalankan fungsinya sebagai kontrol kekuasaan. Dalam kondisi kekuasaan seperti apapun media massa seperti ini akan tetap pada idealismenya meskipun mempunyai resiko tinggi, yaitu dibredel.


Sedangkan pers mahasiswa saat ini? Kondisi inilah yang perlu kita telaah lagi. Pasca diberlakukanya NKK/BKK yang menutup ruang gerak mahasiswa, persma kembali lagi mempunyai peranan penting ketika masa reformasi ’98 yang ikut serta dalam proses penggulingan reim orde baru yang sangat menindas. Disini peran persma sebagai media propaganda untuk menentang dan menggulingkan Soeharto. Media terbitan kampus kembali menjadi alat perjuangan.


Tetapi pasca reformasi peranan persma kembali menyurut. Persma saat ini ibarat hidup enggan mati tak mau. Ia telah kehilangan semangat perjuangannya. Memang tak dapat dipungkiri media terbitan mahasiswa saat ini dikalahkan oleh media umum, baik dari oplah, berita yang disajikan maupun distribusinya. Kehadiran pers yang dikelola oleh aktivis mahasiswa ini jelas bukan pers yang berperilaku umum seperti pers lainnya, melainkan tampil karena tujuan yang khas yang dapat disebut sebagai tujuan perjuangan.

1 comment:

Agus Rahmat said...

peranan pers selama pasca reformasi, bagi sya memang sedang mencari arah. sama seperti pers umum maupun mahasiswa. kita sekarang ini, belum memiliki musuh bersama. 1998 lalu, kita memiliki 1 kesamaan isu yaitu tumbangkan rezim soeharto, nah sekarang belum ada.
BTW, tulisan2 nya bagus. salam kenal, n share in my blog too..thankz

(agusrahmat.blogspot.com)