<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692</id><updated>2011-11-21T17:02:20.127+07:00</updated><title type='text'>Artikel</title><subtitle type='html'>Blog ini penuh berisi dengan kumpulan artikel dan opini yang dihimpun ama penulis.Silahkan memilih...Salam Cinta dan Rock'n Roll</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>16</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-6384584308913477966</id><published>2009-01-05T23:41:00.007+07:00</published><updated>2009-01-05T23:54:54.637+07:00</updated><title type='text'>DEKONSTRUKSI DERRIDA DAN PENGARUHNYA PADA KAJIAN BUDAYA </title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SWI4rO9vUOI/AAAAAAAAAHw/OtI0oJsW4bY/s1600-h/Derrida.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 242px; height: 271px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SWI4rO9vUOI/AAAAAAAAAHw/OtI0oJsW4bY/s320/Derrida.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5287851227888963810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;title&gt;&lt;/title&gt; 	&lt;meta name="GENERATOR" content="OpenOffice.org 2.4  (Linux)"&gt; 	&lt;style type="text/css"&gt; 	&lt;!-- 		@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } 	--&gt; 	&lt;/style&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Oleh  Satrio Arismunandar&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in; font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Riwayat  Singkat &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Jacques Derrida (1930–2004) adalah seorang filsuf Prancis, yang dianggap sebagai tokoh penting post-strukturalis-posmodernis. Derrida lahir dalam lingkungan keluarga Yahudi pada 15 Juli 1930 di Aljazair. Pada tahun 1949 ia pindah ke Prancis, di mana ia tinggal sampai akhir hayatnya. Ia kuliah dan akhirnya mengajar di École Normale Supérieure di Paris. Derrida pernah mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge. Ia meninggal dunia karena penyakit kanker pada 2004.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Derrida muda dibesarkan dalam lingkungan yang agak bersikap diskriminatif. Ia mundur atau dipaksa mundur dari sedikitnya dua sekolah, ketika ia masih anak-anak, semata-mata karena ia seorang Yahudi. Ia dipaksa keluar dari sebuah sekolah, karena ada batas kuota 7 persen bagi warga Yahudi. Meskipun Derrida mungkin tidak akan suka, jika dikatakan bahwa karyanya diwarnai oleh latar belakang kehidupannya ini, pengalaman kehidupan ini tampaknya berperan besar pada sikap Derrida yang begitu menekankan pentingnya kaum marginal dan yang lain, dalam pemikirannya kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Derrida dua kali menolak posisi bergengsi di Ecole Normale Superieure, di mana Sartre, Simone de Beauvoir, dan mayoritas kaum intelektual serta akademisi Perancis memulai karirnya. Namun, akhirnya ia menerima posisi itu pada usia 19. Ia kemudian pindah dari Aljazair ke Perancis, dan segera sesudahnya ia mulai berperan utama di jurnal kiri Tel Quel. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Karya awal Derrida di bidang filsafat sebagian besar berkaitan dengan fenomenologi. Latihan awalnya sebagai filsuf dilakukan melalui kacamata Edmund Husserl. Inspirasi penting lain bagi pemikiran awalnya berasal dari Nietzsche, Heidegger, De Saussure, Levinas dan Freud. Derrida mengakui utang budinya kepada para pemikir itu dalam pengembangan pendekatannya terhadap teks, yang kemudian dikenal sebagai 'dekonstruksi'. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pada 1967, Derrida sudah menjadi filsuf penting kelas dunia. Ia menerbitkan tiga karya utama (Of Grammatology, Writing and Difference, dan Speech and Phenomena). Seluruh karyanya ini memberi pengaruh yang berbeda-beda, namun Of Grammatology tetap karyanya yang paling terkenal. Pada Of Grammatology, Derrida mengungkapkan dan kemudian merusak oposisi ujaran-tulisan, yang menurut Derida telah menjadi faktor yang begitu berpengaruh pada pemikiran Barat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Keasyikan Derrida dengan bahasa dalam teks ini menjadi ciri khas sebagian besar karya awalnya. Sejak penerbitan karya-karya tersebut serta teks-teks penting lain (termasuk Dissemination, Glass, The Postcard, Spectres of Marx, The Gift of Death, dan Politics of Friendship), dekonstruksi secara bertahap meningkat, dari memainkan peran utama di benua Eropa, kemudian juga berperan penting dalam konteks filosofis Anglo-Amerika. Peran ini khususnya terasa di bidang kritik sastra, dan kajian budaya, di mana metode analisis tekstual dekonstruksi memberi inspirasi kepada ahli teori, seperti Paul de Man. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dekonstruksi sering menjadi subyek kontroversi. Ketika Derrida diberi gelar doctor honoris causa di Cambridge pada 1992, banyak protes bermunculan dari kalangan filsuf “analitis.” Sejak itu, Derrida juga mengadakan banyak dialog dengan filsuf-filsuf seperti John Searle, yang sering mengeritiknya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Bagaimanapun, dari banyaknya antipati tersebut, tampak bahwa dekonstruksi memang telah menantang filsafat tradisional lewat berbagai cara penting. Derrida dianggap sebagai salah satu filsuf terpenting abad ke-20 dan ke-21. Istilah-istilah falsafinya yang terpenting adalah différance dan dekonstruksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;Memposisikan Derrida&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Tidak mudah memahami pemikiran Derrida. Untuk memudahkan mempelajarinya, kita coba menempatkannya dalam konteks pergeseran pemikiran pada era 1950-an sampai 1970-an, dari modernitas ke posmodernitas, dan dari strukturalisme ke post-strukturalisme. De Saussure, Chomsky, Jacobson dan Levi-Strauss mewakili kalangan strukturalis-modernis. Sedangkan Derrida bersama Lacan, Kristeva, Foucault, Barthes, dan Baudrillard, “bisa dikatakan” mewakili post-strukturalis-posmodernis. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pemikiran kalangan posmodernis itu sendiri bisa dibagi tiga. Pertama, yang merevisi pemikiran modernitas, namun cenderung kembali ke pola pemikiran pra-modern seperti metafisika New Age. Tokohnya seperti Capra, Zukav, dan sebagainya. Kedua, pemikiran yang merevisi modernisme tanpa menolaknya mentah-mentah, melainkan melakukan perbaikan di sana-sini yang dirasa perlu. Jadi, semacam kritik imanen terhadap modernism, dalam rangka mengatasi konsekuensi negatifnya. Mereka di antaranya: Habermas, Whitehead, Gadamer, Rorty, dan Ricoeur. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Ketiga, pemikiran yang memandang bahwa sisi gelap dari modernitas bukanlah sekadar efek samping dari pemikiran Pencerahan, melainkan sebagai sesuatu yang melekat di dalamnya.[1] Para pemikir dari kalangan ini terkait erat dengan dunia sastra dan linguistik. Mereka ingin melampaui bahasa, yang secara tradisional dipandang sebagai cermin untuk menggambarkan dunia atau realitas. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Caranya, dengan melakukan dekonstruksi gambaran-dunia, sehingga cenderung anti-gambaran-dunia sama sekali. Gambaran-dunia yang ingin dibongkar itu, misalnya, adalah diri, Tuhan, tujuan, makna, kebenaran, dunia-nyata, dan sebagainya. Para pemikir dari kelompok ini adalah Foucault, Vattimo, Lyotard, dan Derrida.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;Dari Oposisi Biner ke Metafisika Kehadiran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Untuk memahami Derrida, kita mencoba melacak kronologi pemikirannya dari strukturalisme Saussurean yang bernuansa modernitas tersebut. Menurut paham strukturalisme, kenyataan tertinggi dari realitas adalah struktur. Struktur itu sendiri adalah saling hubungan antar-konstituen, bagian-bagian, atau unsur-unsur pembentuk keseluruhan, sebagai penyusun sifat khas, atau karakter dan koeksistensi, dalam keseluruhan bagian-bagian yang berbeda. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Bila bahasa dilihat secara struktural, bisa disimpulkan bahwa bahasa bisa ada karena adanya sistem perbedaan (system of difference), dan inti dari sistem perbedaan ini adalah oposisi biner (binary opposition). Seperti, oposisi antara penanda/petanda, ujaran/tulisan, langue/parole.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Oposisi biner dalam linguistik ini berjalan seiring dengan hal yang sama dalam tradisi filsafat Barat, seperti: makna/bentuk, jiwa/badan, transendental/imanen, baik/buruk, benar/salah, maskulin/feminin, intelligible/sensible, idealisme/ materialisme, lisan/tulisan, dan sebagainya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dalam oposisi biner ini terdapat hirarki. Yang satu dianggap lebih superior dari pasangannya. Misalnya, jiwa diangap lebih mulia dari badan, rasio dianggap lebih unggul dari perasaan, maskulin lebih dominan dari feminin, dan sebagainya. Dalam linguistik Saussurean, lisan (ujaran) dianggap lebih utama dari tulisan, karena tulisan dipandang hanya sebagai representasi dari lisan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Derrida, seperti banyak teoritisi kontemporer Eropa, asyik berusaha membongkar kecenderungan oposisional biner yang mewarnai sebagian besar tradisi filsafat Barat tersebut. Dekonstruksi yang dicanangkan Derrida tidaklah mengajukan sebuah narasi besar atau teori baru tentang hakikat dunia kita. Ia membatasi diri pada membongkar narasi-narasi yang sudah ada, dan mengungkapkan hirarki-hirarki dualistik yang disembunyikan.[2] &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Oposisi biner paling terkemuka, yang dibongkar dalam karya awal Derrida, adalah antara ujaran (speech) dan tulisan (writing). Menurut Derrida, pemikir-pemikir seperti Plato, Rousseau, De Saussure, dan Levi-Strauss, semua telah melecehkan kata tertulis dan lebih mengutamakan ujaran, dengan mengontraskan, dan menempatkan ujaran sebagai semacam saluran murni bagi makna. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Argumen mereka adalah kata-kata yang diucapkan adalah simbol dari pengalaman mental (makna, kebenaran). Sedangkan kata-kata tertulis –sebagai sekadar representasi dari ujaran-- hanyalah turunan kedua, atau sekadar simbol dari simbol yang sudah ada (ujaran) tersebut. Ujaran menurut De Saussure adalah kesatuan petanda (signifie) dan penanda (signifiant), yang dianggap kelihatan menjadi satu dan sepadan, yang membangun sebuah tanda (sign). Makna atau kebenaran adalah petanda, yaitu isi yang diartikulasikan oleh penanda yang berupa suara/bentuk. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Kebenaran yang semula berada di luar penanda (eksternal), kemudian menjadi lekat dengan penanda itu sendiri dalam bahasa. Dia bisa hadir lewat penanda. Kesatuan antara bentuk (penanda) dan isi (petanda) inilah yang disebut Derrida sebagai metafisika kehadiran (metaphysic of presence). Metafisika kehadiran, yang terkadang disebut logosentrisme, berasumsi bahwa sesuatu yang bersifat fisik (penanda) dan yang melampaui fisik (petanda) dapat hadir secara bersamaan, dan hal ini hanya mungkin dalam ujaran, bukan tulisan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Tanpa mempersoalkan rincian tentang cara para pemikir itu menetapkan dan membenarkan oposisi hirarkis semacam ini, penting untuk diingat bahwa strategi pertama dekonstruksi adalah membalikkan oposisi-oposisi yang sudah ada. Derrida menyangkal oposisi-oposisi biner semacam itu, dan akhirnya juga menolak kebenaran tunggal atau logos itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;Differance dan Difference&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dalam karyanya, Of Grammatology, Derrida berusaha menunjukkan bahwa struktur penulisan dan gramatologi lebih penting dan bahkan “lebih tua” ketimbang yang dianggap sebagai struktur murni kehadiran diri (presence-to-self), yang dicirikan sebagai kekhasan atau keunggulan lisan atau ujaran. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Sebagai contoh, dalam keseluruhan bab Course in General Linguistics karya Ferdinand de Saussure, Saussure mencoba membatasi ilmu linguistik hanya pada fonetik (phonetic) dan kata yang bisa didengar (audible word). Dalam penyelidikan ini, Saussure sampai mengatakan bahwa "bahasa dan tulisan adalah dua sistem tanda yang berbeda: yang kedua eksis semata-mata hanya untuk representasi dari yang pertama". Bahasa, tegas Saussure, memiliki tradisi oral yang independen dari penulisan, dan keindependenan inilah yang membuat sebuah ilmu murni ujaran dimungkinkan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Derrida dengan berapi-api menolak hirarki ini. Derrida sebaliknya berargumentasi bahwa semua yang bisa diklaim terhadap tulisan –seperti, bahwa itu sekadar merupakan turunan (derivatif) dan hanya merujuk ke tanda-tanda lain— sebenarnya juga sama berlaku terhadap ujaran. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Derrida menyatakan bahwa signifikasi selalu merujuk ke tanda-tanda lain dan kita tidak akan pernah sampai ke suatu tanda yang hanya merujuk ke dirinya sendiri. Maka, tulisan bukanlah tanda dari sebuah tanda, namun lebih benar jika dikatakan bahwa tulisan adalah tanda dari semua tanda-tanda. Dan proses perujukan yang tidak terhingga (infinite) dan tidak habis-habisnya ini tidak akan pernah sampai ke makna itu sendiri. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Inilah pengertian “tulisan” yang ingin ditekankan Derrida. Derrida menggunakan istilah arche-writing, yakni tulisan yang merombak total keseluruhan logika tentang tanda. Jadi, tulisan yang dimaksud Derrida bukanlah tulisan (atau tanda) sederhana, yang dengan mudah dianggap mewakili makna tertentu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dilihat dengan cara lain, tulisan merupakan prakondisi dari bahasa, dan bahkan telah ada sebelum ucapan oral. Maka tulisan malah lebih “istimewa” daripada ujaran. Tulisan adalah bentuk permainan bebas dari unsur-unsur bahasa dan komunikasi. Tulisan merupakan proses perubahan makna terus-menerus dan perubahan ini menempatkan dirinya di luar jangkauan kebenaran mutlak (logos). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Jadi, tulisan bisa dilihat sebagai jejak, bekas-bekas tapak kaki, yang harus kita telusuri terus-menerus, jika ingin tahu siapa si empunya kaki (yang kita anggap sebagai makna yang mau dicari). Proses berpikir, menulis dan berkarya berdasarkan prinsip jejak inilah yang disebut Derrida sebagai differance. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Differance adalah kata Perancis yang jika diucapkan pelafalannya persis sama dengan kata difference. Kata-kata ini berasal dari kata differer yang bisa berarti “berbeda” sekaligus “menangguhkan/menunda.” Kita tak bisa membedakan differance dan difference hanya dengan mendengar ujaran (karena pelafalannya sama), tetapi harus melihat tulisannya. Di sinilah letak keistimewaan kata ini, yang sekaligus membuktikan tulisan lebih unggul ketimbang ujaran, sebagaimana diyakini Derrida.[3] &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Jika kata terucap (ujaran) membutuhkan tulisan untuk bisa berfungsi secara memadai, seperti ambiguitas dalam kata differance dan difference tersebut, maka ujaran itu sendiri selalu berjarak dari setiap apapun yang diklaim sebagai kejelasan kesadaran (clarity of consciousness). Pernyataan Derrida ini secara tegas telah membantah habis argumen De Saussure, yang berusaha memisahkan ujaran dan tulisan, dan melecehkan tulisan sebagai sesuatu yang nyaris tidak dibutuhkan oleh ujaran. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Differance adalah permainan perbedaan-perbedaan, jejak-jejak dari perbedaan-perbedaan, dan penjarakan (spacing), yang dengan cara tersebut unsur-unsur dikaitkan satu sama lain. Proses differance ini menolak adanya petanda absolut atau “makna absolute,” makna transendental, dan makna universal, yang diklaim ada oleh De Saussure dan oleh pemikiran modern pada umumnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Menurut Derrida, penolakan ini harus dilakukan karena adanya penjarakan (spacing), di mana apa yang dianggap sebagai petanda absolut sebenarnya hanyalah selalu berupa jejak di belakang jejak. Selalu ada celah atau kesenjangan antara penanda dan petanda, antara teks dan maknanya. Celah ini membuat pencarian makna absolut mustahil dilakukan. Setelah “kebenaran” ditemukan, ternyata masih ada lagi jejak “kebenaran” lain di depannya, dan begitu seterusnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Jadi, apa yang dicari manusia modern selama ini, yaitu kepastian tunggal yang “ada di depan,” tidaklah ada dan tidak ada satu pun yang bisa dijadikan pegangan. Karena, satu-satunya yang bisa dikatakan pasti, ternyata adalah ketidakpastian, atau permainan. Semuanya harus ditunda atau ditangguhkan (deferred) sembari kita terus bermain bebas dengan perbedaan (to differ). Inilah yang ditawarkan Derrida, dan posmodernitas adalah permainan dengan ketidakpastian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;Penerapan dan Sistematika Dekonstruksi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Pada awalnya, dekonstruksi adalah cara atau metode membaca teks. Dekonstruksi berfungsi dengan cara masuk ke dalam analisis berkelanjutan, yang terus berlangsung, terhadap teks-teks tertentu. Ia berkomitmen pada analisis habis-habisan terhadap makna literal teks, dan juga untuk menemukan problem-problem internal di dalam makna tersebut, yang mungkin bisa mengarahkan ke makna-makna alternatif, di pojok-pojok teks (termasuk catatan kaki) yang diabaikan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dekonstruksi menyatakan bahwa di dalam setiap teks terdapat titik-titik ekuivokasi (pengelakan) dan kemampuan untuk tidak memutuskan (undecidability), yang mengkhianati setiap stabilitas makna yang mungkin dimaksudkan oleh si pengarang dalam teks yang ditulisnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Proses penulisan selalu mengungkapkan hal yang diredam, menutupi hal yang diungkapkan, dan secara lebih umum menerobos oposisi-oposisi yang dipikirkan untuk kesinambungannya. Inilah sebabnya mengapa “filsafat” Derrida begitu berlandaskan pada teks, dan mengapa term-term kuncinya selalu berubah, karena selalu tergantung pada siapa atau apa yang ia cari untuk didekonstruksi, sehingga titik pengelakan selalu dilokasikan di tempat yang berbeda. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Ini juga memastikan bahwa setiap upaya untuk menjelaskan apa itu dekonstruksi harus dilakukan dengan hati-hati. Ada suatu paradoks dalam upaya membatasi atau mengurung dekonstruksi pada satu maksud menyeluruh tertentu, mengingat dekonstruksi justru berlandaskan pada hasrat untuk mengekspos kita terhadap keseluruhan yang lain (tout autre), dan untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan-kemungkinan alternatif. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Penjelasan ini berisiko membuat kita semakin sulit memahami pemikiran Derrida. Adanya perbedaan yang lebar dan diakui meluas, antara karya-karya awal dan karya-karya terakhir Derrida, juga menjadi contoh yang jelas bagi kesulitan yang akan muncul, jika kita menyatakan bahwa “dekonstruksi mengatakan ini” atau “dekonstruksi melarang itu.” &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Namun, ada ciri tertentu dari dekonstruksi yang bisa kita lihat. Misalnya, keseluruhan upaya Derrida dilandaskan pada keyakinannya tentang adanya dualisme, yang hadir dan tak bisa dicabut lagi pada berbagai pemikiran filsafat Barat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Kekhasan cara baca dekonstruktif, yang dalam proses selanjutnya membuatnya sangat bermuatan filosofis, adalah bahwa unsur-unsur yang dilacaknya untuk kemudian dibongkar bukanlah sekadar inkonsistensi logis, argumen yang lemah, atau premis tidak akurat yang terdapat dalam teks, sebagaimana yang biasanya dilakukan pemikiran modernisme. Melainkan, unsur yang secara filosofis menjadi penentu atau unsur yang memungkinkan teks tersebut menjadi filosofis. Singkatnya, kemungkinan filsafat itu sendirilah yang dipersoalkan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Oleh karena itu, dalam metode dekonstruksi, atau lebih tepatnya pembacaan dekonstruktif, filsafat diartikan sebagai tulisan, dan oleh karenanya, filsafat tidak pernah berupa ungkapan transparan pemikiran langsung. Sebab, setiap pemikiran filosofis tentu disampaikan melalui sistem tanda yang berkarakter material, baik grafis maupun fonetis. Dan sistem tanda itu tentu juga tak hanya digunakan untuk kepentingan filosofis. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Filsafat yang pada dasarnya adalah tulisan, ingin melepaskan statusnya sebagai tulisan, dan keluar dari kerangka fisik kebahasaan yang digunakannya. Bahasa ingin digunakan sebagai sarana transparan untuk menghadirkan makna dan kebenaran riil yang ekstra-linguistik, atau dalam istilah kita tadi, kebenaran absolut, kebenaran yang betul-betul benar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Sedangkan tujuan metode dekonstruksi adalah menunjukkan ketidakberhasilan upaya penghadiran kebenaran absolut, dan ingin menelanjangi agenda tersembunyi yang mengandung banyak kelemahan dan ketimpangan di balik teks-teks. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Sistematika penerapan dekonstruksi dalam berhadapan dengan teks, adalah: Pertama, mengidentifikasi hirarki oposisional dalam teks, di mana biasanya terlihat peristilahan mana yang diistimewakan secara sistematis dan mana yang tidak. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Kedua, oposisi-oposisi itu dibalik dengan menunjukkan adanya saling ketergantungan di antara yang saling bertentangan atau privilesenya dibalik. Ketiga, memperkenalkan sebuah istilah atau gagasan baru yang ternyata tidak bisa dimasukkan ke dalam kategori oposisional lama. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dengan langkah-langkah semacam ini, pembacaan dekonstruktif berbeda dari pembacaan biasa. Pembacaan biasa selalu mencari makna sebenarnya dari teks, atau bahkan terkadang berusaha menemukan makna yang lebih benar, yang teks itu sendiri barangkali tidak pernah memuatnya. Sedangkan pembacaan dekonstruktif ingin mencari ketidakutuhan atau kegagalan setiap upaya teks menutup diri dengan makna atau kebenaran tunggal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;Pengaruh Dekonstruksi terhadap Kajian Budaya&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dalam kajian budaya, dekonstruksi Derrida memberi pengaruh penting. Berkat dekonstruksi Derrida, makna kini tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang mutlak, tunggal, universal, dan stabil, tetapi makna selalu berubah. Klaim-klaim kebenaran absolut, kebenaran universal, dan kebenaran tunggal, yang biasa mewarnai gaya pemikiran filsafat sebelumnya, semakin digugat, dipertanyakan, dan tidak lagi bisa diterima. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Secara sepintas, seolah-olah tidak ada tawaran “konkret” dari metode dekonstruksi. Namun, yang dimaui oleh dekonstruksi adalah menghidupkan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang turut membangun teks. Teks dan kebudayaan tidak lagi dipandang sebagai tatanan makna yang utuh, melainkan sebagai arena pertarungan yang terbuka. Atau tepatnya, permainan antara upaya penataan dan chaos, antara perdamaian dan perang, dan sebagainya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dalam kesusastraan, misalnya, dekonstruksi ditujukan sebagai metode pembacaan kritis yang bebas, guna mencari celah, kontradiksi dalam teks yang berkonflik dengan maksud pengarang. Dalam hal ini, membaca teks bukan lagi dimaksudkan untuk menangkap makna yang dimaksudkan pengarang, melainkan justru untuk memproduksi makna-makna baru yang plural, tanpa klaim absolut atau universal. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dalam proses itu, penafsir juga tidak bisa mengambil posisi netral tatkala menganalisis suatu teks tanpa dirinya sendiri dipengaruhi atau dibentuk oleh teks-teks yang pernah ia baca. Teks itu sendiri juga tidak bisa diasalkan maknanya semata-mata pada gagasan si pengarang, karena pikiran pengarang juga merujuk kepada gagasan-gagasan pengarang lain yang mempengaruhinya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Dekonstruksi, seperti juga pendekatan posmodernisme lainnya, dengan demikian cocok dengan konsep pluralitas budaya, pluralitas permainan bahasa, banyaknya wacana, penghargaan terhadap perbedaan, dan membuka diri terhadap yang lain (the other).[4]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Penghargaan terhadap perbedaan, pada “yang lain” ini membuka jalan bagi penghargaan pada pendekatan lokal, regional, etnik, baik pada masalah sejarah, seni, politik, masyarakat, dan kebudayaan pada umumnya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Penelitian yang bersifat lokal, atau etnik, dan sebagainya kini mendapat tempat, dan pada gilirannya akan memperkaya dan menghasilkan deskripsi atau narasi-narasi khas masing-masing. Mungkin, inilah salah satu sumbangan penting dekonstruksi Derrida terhadap kajian budaya. ***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;Depok, 12 Desember 2008 &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;"&gt;(Paper untuk tugas mata kuliah Filsafat Ilmu dengan dosen DR. Akhyar Yusuf Lubis, di FIB-UI)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;REFERENSI:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;1. Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;2. Bennington, Geoffrey. 2000. Interrupting Derrida. London/New York: Routledge.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;3. Christomy, T., dan Untung Yuwono (ed.). 2004. Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;4. Hardiman, F. Budi. 2007. Filsafat Fragmentaris. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;5. Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;6. http://www.iep.utm.edu/d/derrida.htm (didownload pada 6 Desember 2008).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;7. Kathryn Woodward. 1999. Identity and Difference. London: Sage Publication.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;8. Lubis, Akhyar Yusuf. 2006. Dekonstruksi Epistemologi Modern: Dari Posmodernisme, Teori Kritis, Poskolonialisme, Hingga Cultural Studies. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;9. Magnis-Suseno, Franz. 2005. Pijar-Pijar Filsafat: Dari Gatholoco ke Filsafat Perempuan, dari Adam Muller ke Postmodernisme. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;10. Norris, Christopher. 2008. Membongkat Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;11. Storey, John. 2006. Cultural Theory and Popular Culture: an Introduction. Fourth Edition. Athens, Georgia: The University of Georgia Press.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;12. Williams, James. 2005. Understanding Poststructuralism. Chesham: Acumen. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; color: rgb(51, 51, 255);" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;Footnotes:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;[1] Pandangan ini ditegaskan oleh Lyotard, Foucault, dan Baudrillard. Mereka mendukung gagasan Horkheimer dan Adorno, yang menyatakan bahwa logika dominasi dan penindasan sesungguhnya termuat dalam rasionalitas instrumental, yang logikanya bukan saja mendorong industrialisasi, tetapi juga kamp konsentrasi Auschwitz dan Belsen.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;[2] Kemampuan untuk tidak memutuskan (undecidability) adalah salah satu usaha Derrida yang terpenting, untuk mengacaukan oposisi biner atau dualisme, atau lebih akurat, untuk mengungkapkan bagaimana dualisme-dualisme itu selalu bermasalah. Sebuah undecidable, dan banyak sejenisnya dalam dekonstruksi, tidak bisa berpadu dengan polaritas ataupun dikotomi (seperti, dikotomi hadir/absen). Figur hantu, misalnya, tampaknya tidak-hadir tetapi juga tidak-absen, atau alternatifnya, hantu itu hadir sekaligus absen pada saat yang sama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;[3] Saya banyak berutang pada Inyiak Ridwan Muzir, tentang penjelasan differance, difference, dan deferred, yang diutarakannya secara gamblang dalam pengantar buku terjemahan karya Norris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia,serif;font-size:85%;"&gt;[4] Lubis, Akhyar Yusuf. 2008. Materi kuliah Filsafat Ilmu tentang “postmodernisme Lyotard” di Program Pascasarjana FIB-UI.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-6384584308913477966?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/6384584308913477966/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=6384584308913477966' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/6384584308913477966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/6384584308913477966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2009/01/dekonstruksi-derrida-dan-pengaruhnya.html' title='DEKONSTRUKSI DERRIDA DAN PENGARUHNYA PADA KAJIAN BUDAYA '/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PD1j5O0zIpg/SWI4rO9vUOI/AAAAAAAAAHw/OtI0oJsW4bY/s72-c/Derrida.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-582553127715367362</id><published>2008-12-13T00:27:00.003+07:00</published><updated>2008-12-13T00:35:23.551+07:00</updated><title type='text'>Hari Pahlawan Bukan Sekedar Refleksi</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CINNAHU%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oleh: Ahmad Ikhwan Susilo&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;segenap waktu ia harus siap sedia dan ikhlas buat menderita &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;“kehilangan kemerdekaan diri sendiri”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: right;" align="right"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;(&lt;b&gt;Dari Penjara ke Penjara, Tan Malaka&lt;/b&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hampir saban 10 November kita selalu mengibarkan bendera satu tiang penuh. Upacara penghormatan pun dilakukan untuk memperingati hari Pahlawan. Seremonial tahunan ini menjadi satu refleksi bagi kita semua untuk mengenang jasa-jasa besar para pahlawan Indonesia yang dengan ikhlas mengorbankan segenap jiwa dan raga yang dimiliki sampai tetes darah penghabisan. Semua itu demi satu tujuan: Kemerdekaan! Merdeka dari penghisapan, merdeka dari penjajahan, dan merdeka dari penindasan kolonial. Soekarno pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lupa akan jasa para pahlawannya. Maka dari itu, jangan pernah sekalipun melupakan sejarah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebagaimana laiknya sebuah refleksi, peringatan hari pahlawan ini tak cukup sekedar kita memasang bendera satu tiang penuh dan mengikuti upacara kebesaran yang dipersiapkan, dihadiri para pejabat, didengarkan pidatonya, lantas selesai begitu saja tanpa ada satu nilai. Dan hal ini dari tahun ke tahun terasa semakin kurang dihayati dan menjadi kosong makna karena peringatan ini cenderung bersifat seremonial belaka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lebih dari itu, refleksi ini menjadi satu permenungan kita bersama, sejauh mana kita sebagai angkatan muda(baca: mahasiswa), kaum intelektual terpelajar mampu menjadi bagian dalam proses pembangunan bangsa ini ke depan? Hal signifikan apa saja yang telah kita perbuat di dalam arus persaingan yang &lt;i&gt;go global&lt;/i&gt; ini? karena seperti apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie bahwa kitalah generasi yang akan memakmurkan Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Memang secara legal formal bangsa ini telah merdeka, tetapi bila kita lihat secara hakikat ternyata belum sepenuhnya kita merdeka. Penjajahan yang kita alami sekarang tidak sama dengan apa yang dialami oleh &lt;i&gt;arek-arek Suroboyo&lt;/i&gt; ketika melawan Inggris di Surabaya 63 tahun silam dengan menggunakan beberapa pucuk senjata dan bambu runcing. Bentuk penjajahan yang kita alami saat ini tidak bermuka garang melainkan berwajah lembut. Kita dijajah secara sistem!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tengoklah berapa juta massa rakyat Indonesia yang terbelenggu dalam kemiskinan, mereka yang tidak mampu sekolah, pengangguran yang menumpuk, petani yang dirampas tanahnya, buruh dengan gaji rendah, belum lagi kanker korupsi yang masih menjamur di tubuh birokrasi negeri ini. Tan Malaka membuat sebuah illustrasi yang menyedihkan tentang keadaan rakyat. Sebuah kenyataan yang ditulis puluhan tahun lampau namun masih dekat dengan kenyataan yang sekarang kita alami: &lt;i&gt;Beberapa juta jiwa sekarang hidup dalam keadaan ‘pagi makan, petang tidak’. Mereka tidak bertanah dan beralat lagi, tidak berpengharapan di belakang hari. Kekuasaan atas tanah pabrik, alat-alat pengangkutan dan barang perdagangan, kini semuanya dipusatkan dalam tangan beberapa sindikat...demikianlah rakyat Indonesia tambah lama tambah miskin sebab gaji mereka tetap seperti biasa(malahan kerapkali diturunkan), sementara barang-barang makanan semakin mahal...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Hal inilah yang secara kongkrit harus kita jawab bersama. Bangsa Indonesia saat ini membutuhkan pahlawan-pahlawan baru untuk mewujudkan kehidupan massa rakyat yang demokratis secara politik, adil secara sosial, sejahtera secara ekonomi, dan partisipatif secara budaya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pengalaman-pengalaman besar harus dijemput bukan hanya melalui analisa tapi juga karya-karya penting untuk menggugah kesadaran yang sudah lama terlelap. Di dunia pemikiran kita bukan sekedar membutuhkan gagasan-gagasan baru melainkan juga ‘alat baca’ yang berpihak atas massa rakyat yang tertindas. Intelektual adalah bagian dari arus massa tertindas dan sebaiknya mengerti, memahami, dan menyelami kehidupan mereka. Hal ini tak akan bisa dimengerti jika mengetahui kehidupan hanya sebatas kegiatan-kegiatan pelatihan, workshop, rapat, seminar, diskusi atau penelitian ‘pesanan’. Kegiatan itu hanya akan meningkatkan pendapatan bukan pemahaman atas kenyataan sosial. Membuang keyakinan lama mungkin jadi syarat utama menuju pada tugas serta mandat seorang intelektual terpelajar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pahlawan-Pahlawan Baru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sebuah keniscayaan memang apabila setiap jaman akan melahirkan anak jamannya masing-masing. Disinilah peran generasi muda tak pernah putus dari sejarah bangsa ini. Jika kita menilik ke belakang, dulu kaum terpelajar yang memperoleh kesempatan untuk menikmati pendidikan mempunyai satu cita-cita besar bagaimana bangsa ini bisa merdeka dari belenggu penindasan kolonial. Mereka tidak hanya mempunyai gagasan besar tentang perubahan, tidak hanya berhenti pada satu forum diskusi, tetapi ada satu tindakan riil bagaimana melakukan proses transformasi nilai terhadap massa rakyat yang tertindas. Jalan itupun mereka dapatkan dengan cara mengorganisasikan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tidak hanya itu, mereka juga membuat terbitan-terbitan cetak dalam proses transformasi nilai kepada massa rakyat. Perlawanan terhadap Belanda memasuki babak baru. Tak sekedar dengan rencong dan keris, tetapi juga dengan pena dan kertas (baca: ilmu pengetahuan). Itulah sebabnya Ben Anderson, lewat esai panjang Immagined Communities, menulis: &lt;i&gt;Selain runtuhnya kekuasaan universal (gereja Katolik-Roma) dan kerajaan-kerajaan dinastik, berkembangnya penerbitan dan percetakan yang memungkinkan tulisan para pemimpin pergerakan makin banyak dibaca khalayak adalah elemen terpenting dari kelahiran nasionalisme.&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, rakyat telah mengorbankan nyawanya. Kita wajib menundukkan kepala untuk mengenang jasa-jasa mereka. Karena itulah hari Pahlawan harus kita peringati dan refleksikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Namun, kepahlawanan tidak hanya berhenti di sana. Dalam mengisi kemerdekaan pun kita dituntut untuk menjadi pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani? Bukankah makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat pahlawan seperti keberanian, keperkasaan, dan kerelaan berkorban?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saat negara nasibnya terseok seperti sekarang dimana rakyat hidupnya diperas, perubahan hanya jadi menu diskusi, saat itulah maka gerakan progresif kaum intelektual terpelajar menjadi satu kebutuhan mendesak. Seorang terpelajar bukan semata-mata sosok yang mencintai pengetahuan, tapi bagaimana dapat dan mampu memberikan gagasan-gagasan tentang perubahan. Karena itulah, solusi-solusi baru dan tindakan konkrit untuk perubahan sosial mutlak dibutuhkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Saya masih ingat jelas ungkapan satir yang pernah dituliskan Romo Mangunwijaya: &lt;i&gt;Apa guna kita memiliki sekian ratus ribu alumni sekolah yang cerdas, tetapi massa rakyat dibiarkan bodoh? Segeralah kaum sekolah itu pasti akan menjadi penjajah rakyat dengan modal kepintaran mereka&lt;/i&gt;. Semoga ini bisa menjadi permenungan kita bersama – sebagai ‘intelektual terpelajar’ – dalam merefleksikan peringatan hari Pahlawan dan mengisi kemerdekaan ini dengan penuh makna. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-582553127715367362?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/582553127715367362/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=582553127715367362' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/582553127715367362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/582553127715367362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/12/hari-pahlawan-bukan-sekedar-refleksi.html' title='Hari Pahlawan Bukan Sekedar Refleksi'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-7161844015897415</id><published>2008-07-25T22:36:00.001+07:00</published><updated>2008-07-25T22:43:28.672+07:00</updated><title type='text'>“Budaya” Tulis, Sudahkah Jadi “Budaya” Kita?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Bungkapit21&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Yang tertulis akan tetap mengabadi dan yang terucap akan berlalu seperti angin...”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun yang lalu, di sebuah kedai buku di Jogja, saya bertemu dan mulai berkenal akrab dengan seorang aktivis 98 yang kini masih konsisten di garis perjuangan. Di usianya yang belum bisa dikatakan tua dan tak pantas lagi disebut muda itu, ia masih saja berteriak lawan. Bahkan ia tak lelah untuk terus-menerus memprovokasi mereka, para generasi muda, untuk selalu menempuh garis perjuangan. Mempunyai keberpihakan terhadap massa rakyat yang tertindas. Karena sangat jelas bahwa revolusi merupakan alternatif pilihan yang tepat. Dengan kekuatan massa rakyat yang kuat, terdidik, terpimpin, dan terorganisisir. Hanya saja bentuk perjuangan yang dilakukan seorang yang saya kenal ini lebih banyak melalui pena. Ia tak sering lagi turun ke jalan. Ia hanya menulis. Menulis untuk mengagitasi. Menulis sembari berpropaganda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu waktu ia bertanya kepada saya, “Kapan nie kawan-kawan buat buku? Atau setidaknya kalau ada yang punya tulisan, kumpulkan, dan coba kirim ke penerbit. Masak gak ada yang suka menulis?” sontak saya merasa tertampar dengan pertanyaan tersebut. Dalam benak saya berkata, “Niat seh ada. Tapi, lha ya sebatas niat, belum bisa terealisasi. Jangankan menulis untuk sebuah buku, menulis sebuah artikel untuk buletin internal saja hanya segelintir kawan yang rutin melakukannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis memang bukan perkara yang sepele. Ia bukan suatu hal yang mudah bukan pula suatu hal yang sulit. Sebegitu pentingkah budaya tulis ini kita budayakan di dalam organisasi kita? Seberapa banyak pula di antara kita yang sudah memulai dan membiasakan budaya tulis ini? Ataukah jangan-jangan kita masih melanggengkan budaya lisan dari jaman feodal? Kalau pun itu yang terjadi, maka kelak yang ada hanyalah pendongeng dan pendengar cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menilik sebentar ke jaman kolonial, munculnya organisasi pergerakan nasional berangkat dari sebuah perjuangan melalui media massa. Adalah RM Tirto Adi Soerjo inilah sosok “Sang Pemula dan Pembaharu” dalam pergerakan di Indonesia yang berani menelanjangi kebijakan pemerintahan Belanda yang begitu menyengsarakan rakyat melalui media terbitannya: Medan Prijaji. Pada waktu itu organisasi belum menjadi alat perjuangan karena kesadaran massa rakyat akan perlunya sebuah organisasi sangat minim sekali. Hal ikhwal yang bisa dilakukan dalam melakukan perubahan adalah melalui tulisan. Media massa menjadi alat untuk menumbuhkan kesadaran massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya para pemikir revolusioner dunia yang mempunyai harapan akan perubahan manusia dari sebuah ketertindasan tak pernah menuliskan hasil pemikirannya, niscaya penghisapan manusia atas manusia akan terus bercokol. Darimana kita akan tahu ide-ide revolusioner Marx atau pemikiran gemilang Tan Malaka jika kita tidak pernah membaca karya besar mereka tentang perubahan. Mereka tahu bahwa warisan wacana yang progresif revolusioner tidak hanya bisa dilakukan dengan berorasi dan berkata-kata. Satu hal yang bisa melanggengkan wacana atau ide-ide atas perubahan itu tadi; yaitu dengan menuliskannya. Ialah yang akan terus-menerus berteriak lantang dan menggugah kesadaran individu yang membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah diskusi di warung kopi bersama seorang kawan anggota, saya pernah menanyakan, “Kenapa ya kawan-kawan atau kitalah – minimal – jarang sekali menulis sebuah artikel yang kemudian dikirim ke media sebagai counter culture wacana media yang didominasi wacana-wacana elitis? Padahal kita sering berdiskusi, kita selalu melakukan sitnas, kita juga pernah mengadakan pelatihan jurnalistik, tetapi kenapa masih saja kita belum mampu?” Kemudian dia menjawab, “Sebenarnya hal ini sudah dilakukan oleh kawan-kawan, walaupun tidak semuanya, karena semua kembali ke individu masing-masing anggota.” Pernah juga pertanyaan serupa saya tanyakan pada seorang kawan pengurus yang cukup peduli dengan wacana-wacana budaya dan sastra, dia menjawab, “Memang beginilah adanya. Budaya ini masih lemah sekali ditingkatan kita. Adanya kendala yang beragam atau mungkin terlalu sibuk dengan kerja-kerja organisasi. Sepertinya memang harus kita rintis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pertanyaan yang saya lontarkan tadi, tidak ada satu pun jawaban yang cukup melegakan. Sampai saat ini pertanyaan saya tadi masih terus bergeming di dalam otak. Saya cukup merasa resah. Benarkah budaya tulis ini sebegitu parahnya sehingga belum mampu membudaya di tingkatan kita? Bagaimana kita bisa lentur melakukan proses agitasi dan propaganda melalui media tulis jika diksi dan pemakaian gaya bahasa(elocutio) sebagai rangsangan simpati massa jarang kita latih? Tentu saja hal ini berdampak pada kemiskinan perbendaharaan kata, kekeringan makna, tidak adanya persuasif dan sugesti dalam propaganda tulisan yang kita buat.         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kehebatan kapitalisme hari ini yang mampu menciptakan kontrol baru dengan teknologi informasi yang diciptakannya, sebenarnya menjadi peluang bagi kita untuk membuat media-media baru sebagai alternativ untuk menyebarkan gagasan-gagasan revolusioner. Di internet,semisal,  menjamurnya blog-blog/situs pribadi bisa dijadikan media untuk mengasah kemampuan menulis kita. Media inilah yang harus kita jadikan budaya baru dalam proses transformasi nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang seharusnya seperti itu, bro,” celetuk seorang kawan anggota ketika chat,” Tapi sayangnya, banyak yang lebih suka “nampang” ria dengan pose-pose genit dan sok dramatis di FS daripada nge-blog. Parahnya lagi, Men...boro-boro untuk chat, email, buat FS atau blog, nge-Net aja banyak yang gaptek, kok. Gimana mau melawan kapitalisme, hah?!” lontaran satire itu membuat saya tertawa kecut. Saya tak mampu berkomentar. Saya cuma bisa membalas, “Ha..ha..ha...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secangkir kopi kental pahit dan empat batang rokok telah habis mengantar saya menyelesaikan tulisan ini. Saya tafakur sembari mencoba merefleksikan kembali dinamika yang saya alami selama 5 tahun di organisasi bersama kawan-kawan. Apa saja yang telah saya peroleh dan saya berikan untuk organisasi? Catatan-catatan apa yang pernah saya torehkan di organisasi? Di akhir tafakur, saya mengambil kesimpulan kecil, bahwa memang budaya tulis ini harus kita rintis. Bagaimana kita akan mampu bertutur tentang sejarah organisasi kita kepada benih-benih baru jika kita tidak menuliskannya? Karena kelak suatu waktu mulut kita pasti bungkam dan tak bisa berkata-kata lagi. Jangan sampai kita hanya menjadi seorang pendongeng dan pendengar cerita saja. Bilamana itu terjadi, bagaimana gurgaba di hari depan bisa kita raih?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-7161844015897415?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/7161844015897415/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=7161844015897415' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/7161844015897415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/7161844015897415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/07/budaya-tulis-sudahkah-jadi-budaya-kita.html' title='“Budaya” Tulis, Sudahkah Jadi “Budaya” Kita?'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-4893805889179261695</id><published>2008-06-26T18:56:00.006+07:00</published><updated>2008-06-26T20:18:19.301+07:00</updated><title type='text'>SKIZOFRENIA</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link style="color: rgb(255, 255, 255);" rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:422259148; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1288239940 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l0:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l0:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:788165410; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2057433738 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:900870288; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1852941734 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:1090352392; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:734289996 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l3:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l3:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l3:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l3:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l3:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l3:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l3:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l4 	{mso-list-id:1105274253; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:418383016 974570284 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l5 	{mso-list-id:1222521569; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2082193058 67698699 67698703 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l5:level2 	{mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l5:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l5:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l5:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l5:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l5:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l5:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l6 	{mso-list-id:1299992976; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1698525998 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7 	{mso-list-id:1447309901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1381518010 67698713 67698703 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l7:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level2 	{mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:108.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l7:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:180.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l7:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:216.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l7:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:252.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l7:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:288.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l7:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:324.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l7:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:360.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:360.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l8 	{mso-list-id:1539472827; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1634615324 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l8:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l8:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l8:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l8:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l8:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l8:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l8:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l8:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l9 	{mso-list-id:1673602209; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1063379248 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10 	{mso-list-id:2015062194; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1217711732 67698703 67698699 67698703 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l10:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l10:level3 	{mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l10:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l10:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l10:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l10:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l10:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l11 	{mso-list-id:2020307713; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1507499204 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l11:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l11:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l11:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l11:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l11:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l11:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l11:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l11:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Oleh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Sri Rezeqi Dwi Handayani&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(255, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; color: rgb(0, 0, 0);" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Cara Keluarga Menghadapi Gangguan Skizofrenia&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p 	{mso-margin-top-alt:auto; 	margin-right:0cm; 	mso-margin-bottom-alt:auto; 	margin-left:0cm; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:422259148; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1288239940 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l0:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l0:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l1 	{mso-list-id:788165410; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2057433738 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l1:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:900870288; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1852941734 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:1090352392; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:734289996 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l3:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l3:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l3:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l3:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l3:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l3:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l3:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l3:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l4 	{mso-list-id:1105274253; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:418383016 974570284 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l4:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l5 	{mso-list-id:1222521569; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2082193058 67698699 67698703 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l5:level1 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l5:level2 	{mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l5:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l5:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l5:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l5:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l5:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l5:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l5:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l6 	{mso-list-id:1299992976; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1698525998 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7 	{mso-list-id:1447309901; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1381518010 67698713 67698703 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l7:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level2 	{mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:108.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l7:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:144.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l7:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:180.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l7:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:216.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l7:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:252.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l7:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:288.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l7:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:324.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l7:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:360.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:360.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l8 	{mso-list-id:1539472827; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1634615324 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l8:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l8:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l8:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l8:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l8:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l8:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l8:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l8:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l8:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l9 	{mso-list-id:1673602209; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1063379248 67698713 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l9:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10 	{mso-list-id:2015062194; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1217711732 67698703 67698699 67698703 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l10:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l10:level3 	{mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l10:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l10:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l10:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l10:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l10:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l10:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l11 	{mso-list-id:2020307713; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1507499204 67698713 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l11:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l11:level2 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l11:level3 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l11:level4 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l11:level5 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l11:level6 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} @list l11:level7 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Symbol; 	mso-bidi-font-family:Symbol;} @list l11:level8 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:o; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Courier New";} @list l11:level9 	{mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:Wingdings; 	mso-bidi-font-family:Wingdings;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;A.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Pengertian Skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Menurut&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kartono (2002, h.243) Skizofrenia adalah kondisi psikologis dengan gangguan disintegrasi, depersonalisasi dan kebelahan atau kepecahan struktur kepribadian, serta regresi aku yang parah. Menurut Strausal et al (dalam iman setiadi, 2006, h. 3) Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini di tandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan kognitf dan persepsi. Sedangkan gejala negatifnya antara lain seperti &lt;i&gt;avolition &lt;/i&gt;( menurunnya minat dan dorongan), berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang datar, serta terganggunya relasi personal. Tampak bahwa gejala-gejala skizofrenia menimbulkan hendaya berat dalam kemampuan individu berfikir dan memecahkan masalah, kehidupan afek dan menggangu relasi personal. Kesemuanya mengakibatkan pasien&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;skizofrenia mengalami penurunan fungsi ataupun ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya, sangat terhambat produktivitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Menurut Kartono (1986, h. 259-260) Skizofrenia dibagi dalam tiga kategori, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Skizofrenia      Hebefrenik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Artinya mental atau jiwanya menjadi tumpul. Kesadarannya masih jernih, akan tetapi kesadaran akunya sangat terganggu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Ciri-cirinya:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Orang yang mengalami derealisasi dan depersonalisasi berat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Dihinggapi macam-macam ilusi dan delusi, sebab fikirannya kacau,melantur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Banyak tersenyum-senyum dengan muka yang selalu perat perot tanpa ada perangsang sedikit pun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Skizofrenia katatonik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Ciri-cirinya sebagai berikut&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Urat-uratnya menjadi kaku dan mengalami &lt;span style=""&gt;chorea flexibility&lt;/span&gt; yaitu badan jadi kaku seperti malam atau was.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Ada pola tingkah laku yang &lt;span style=""&gt;stereothypes&lt;/span&gt;, aneh-aneh atau gerak-gerak otomatis dan tingkatah laku yang aneh-aneh yang tidak terkendalikan oleh kemauan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Ada gejala-gejala &lt;span style=""&gt;stupor.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Kadang-kadang disertai &lt;span style=""&gt;catatonic excitement&lt;/span&gt;.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Mengalami regresi total.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Skizofrenia paranoid.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Penderita diliputi macam-macam delusi dan halusinasi yang terus berganti-ganti coraknya dan tidak teratur serta kacau balau.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Pasin tampak lebih waras dan tidak sangat ganjil dan aneh jika dibandingkan dengan penderita skizofrenia jenis lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Akan tetapi pada umumnya dia bersikap sangat bermusuhan terhadap siapapun juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Merasa dirinya penting, besar &lt;i&gt;grandieus.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Sering sangat fanatik religious secara berlebihan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Kadang-kadang bersifat hipokondris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;B.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Sebab-sebab Skizofrenia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ada beberapa penyebab skizofrenia antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;1&lt;/span&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;. Lebih dari separuh dari jumlah penderita skizofrenia mempunyai keluarga psikosis&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;atau sakit mental.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;2. Tipe kepribadian yang schizothyme (dengan jiwa yang cenderung menjadi skizofren) dan bentuk jasmaniah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;asthenis (tidak berdaya/bertenaga) mempunyai kecenderungan kuat menjadi skizofren.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;3. Sebab-sebab organis: ada perubahan atau kerusakkan pada sistem syaraf sentral. Juga terdapat gangguan-gangguan pada sistem kelenjar-kelenjar adrenalin dan piluitari (kelenjar dibawah otak). &lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Kadang kala kelenjar thyroid dan kelenjar adrenal mengalami atrofi berat. Dapat juga disebabkan oleh proses klimakterik dan gangguan menstruasi. Semua ganguan tadi menyebabkan degenerasi pada energi fisik dan energi mentalnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;4. Sebab-sebab psikologis: ada kebiasaan-kebiasaan infantile yang buruk dan salah, sehingga pasien hampir selalu melakukan &lt;i&gt;mal adjustment&lt;/i&gt; (salah-suai) terhadap lingkungan. Ada konflik diantara super ego dan id (freud). Integrasi kepribadiannya sangat miskin, dan ada kompleks-inferior yang berat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;C. Gejala Skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Gejala penderita skizofrenia antara lain:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Delusi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Halusinasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Cara bicara/berfikir yang tidak teratur&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Perilaku negatif, misalkan: kasar, kurang termotifasi, muram, perhatian menurun.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Beberapa study tentang masalah-masalah yang ditimbulkan pasien skizofrenia pada keluarganya yang paling sering muncul menurut Murray adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Ketidak mampuan untuk merawat diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Ketidak mampuan menangani uang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Social with drawal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Kebiasa-kebiasaan pribadi yang aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Ancaman bunuh diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;f.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Gangguan pada kehidupan keluarga, misal: pekerjaan, sekolah, jadwal sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;g.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Ketakutan atas keselamatan, baik pasien maupun anggota keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;h.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Blame and shame.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;D. Penanganan bagi penderita skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="IT" style="font-family:Georgia;"&gt;Prognosa dan penyembuhan bagi penderita skizofrenia pada umumnya sedikit sekali kemungkinan bisa sembuh terutama jika keadaannya sudah parah. Yang penting adalah usaha prefentif menurut Kartini Kartono(2002, h. 247-248) berupa: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;menghindarkan dari frustrasi-frustrasi dan kesulitan-kesulitan psikis lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Menciptakan kontak-konta&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;k sosial yang baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif, dan mau melihat hari depan dengan rasa berani.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Beranikan ia mengambil sikap tegas dalam menghadapi realitas dengan rasa positif dan usakanlah agar dia bisa menjadi extrovert.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Dalam situs &lt;a href="http://www.sivalintar.com/"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;www.sivalintar.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dijelaskan tentang beberapa cara penanganan skizofrenia, yaitu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Sikap menerima adalah langkah awal penyembuhan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Penderita perlu tahu penyakit apa yang diderita dan bagaimana melawannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;c.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Dukungan keluarga akan sangat berpengaruh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;d.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Perawatan yang dilakukan oleh para ahli bertujuan mengurangi gejala skizofrenik dan kemungkinan gejala psyhcotik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;e.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Penderita skizofrenia biasanya menjalani pemakaian obat-obatan selama waktu tertentu, bahkan mungkin harus seumur hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Cara-cara Terapi/Perawatan Skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Selain cara dengan perawatan di rumah sakit (umum atau jiwa) dan rawat jalan, ada cara alternatif, yaitu dirawat hanya pada siang atau malam hari saja di rumah sakit, sebagian hari lainnya pasien berada di rumah bersama dengan keluarga atau di sekolah atau tempat kerja bersama teman-temannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Selain itu ada program terapi residensial, yaitu tempat semacam asrama bagi pasien skizofrenia yang sudah relatif tenang atau mencapai keadaan remisi (tetapi masih memerlukan rehabilitasi, latihan keterampilan lebih lanjut) dapat hidup dalam suasana lingkungan sepeerti keluarga (bersama-sama pasien lainnya) dalam mana ia dapat mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya di tengah-tengah lingkungan yang mendukung sehingga ia kemudian juga terampil menjalani kehidupan ini di luar rumah sakit, di tengah-tengah masyarakat luas seperti anggota masyarakat pada umumnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Semuanya memerlukan semacam dukungan social (social support) dari komuniti atau lingkungan masyarakatnya. Secara tuntas, untuk terapi holistic diperlukan perhatian baik untuk fisiknya (makanan, istirahat, medikasi, latihan fisik), mental-emosionalnya (psikoterapi, konseling psikologis), dan bimbingan social (cara bergaul, latihan keterampilan social) serta lingkungan keluarga dan social yang mendukung). Disamping terapi okupasional (kegiatan untuk mengisi waktu) diperlukan juga terapi /rehabilitasi vokasional (untuk melatih keterampilan kerja tertentu yang dapat digunakan pasien untuk mencari nafkah).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Semua ini membutuhkan jalinan kerja sama seluruh lapisan masyarakat/komuniti, dan tidak mungkin dilakukan oleh satu kelompok komuniti saja, banyak pihak harus terlibat dan saling bekerja sama dengan satu tujuan yaitu membawa pasien kepada keadaan bebas penyakit dan terampil menjalani kehidupan secara mandiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;E. Penderitaan keluarga yang memiliki anggota skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Skizofrenia adalah penyakit yang sangat merusak,      tidak hanya bagi orang yang terkena tetapi pada keluarga juga. Barangkali      tidak ada penyakit lain termasuk kangker yang lebih menimbulkan kepedihan      yang mendalam bagi keluarga seperti skizofrenia (Torrey, 1988)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Atmosfer dalam keluarga adalah seperti menunggu dan      terus menunggu akan meledaknya sebuah bom. Pasien terus menerus meragukan      diri dan penuh pertanyaan. Keluarga hidup dengan ketakutan yang menetap      bahwa gejala-gejala akan muncul lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Banyak keluarga belum mengerti benar apa itu skizofrenia, ketidak mengertian itu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melahirkan jalam pintas. Rata-rata mereka memasukkan kerabatnya ke rumah sakit jiwa, padahal penyakit ini bisa dikendalikan dengan kemauan diri yang keras dan dukungan keluarga penderitanya bisa hidup normal. Seperti yang dialami keluarga Suharjo, salah satu orang tua yang anaknya menderita skizofrenia,” saat anak saya divonis menderita skizofrenia saya kaget sekali. Rasanya saya ingin marah karena anak saya dianggap gila sebab dalam kehidupan sehari-hari dia terlihat normal”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Tetapi akhirnya suharjo melihat sendiri keanehan sikap anaknya, dia merasa terus dimata-matai oleh tetangga, merasa mendengar suara-suara dan sebagainya. ”saya tidak mau anak saya disebut gila”. Tapi kini anaknya memang sedang menjalani perawatan, dia sunggh luar biasa, dia tidak pernah berhenti berusaha setelah tahu dirinya menderita skizofrenia, katanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;F. Yang harus dilakukan keluarga dalam upaya penyesuaian diri dengan kehadiran skizofrenia dalam sistem mereka dan cara mengatasinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Informasi/psikoedukasi&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Informasi-informasi yang akurat tentang skizofrenia,      gejala-gejalanya, kemungkinan perjalanan penyakitnya, berbagai bantua      medis dan psikologis yang dapat meringankan gejala skizofrenia merupakan      sebagian info vital yang sangat dibutuhkan keluarga. Info yang tepat akan      menghilangkan saling menyalahkan satu sama lain, memberikan pegangan untuk      dapat berharap secara realistis danmembantu keluarga mengarahkan sumber      daya yang mereka miliki pada usaha-usaha yang produktif. Pemberian info      yang tepat dapat dilakukan dengan suatu program psikoedukasi untuk      keluarga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Sikap yang tepat adalah SAFE&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Menurut Torrey      (1988) keluarga perlu memiliki sikap yang tepat tentang skizofrenia,      disingkatnya sikap-sikap yang tepat itu dengan SAEF ( &lt;i&gt;Sense of humor,      Accepting the illnes, Familliy balance, Expectations which are realistic).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Support group&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Bilamana keluarga menghadapi skizofrenia dalam      keluarga mereka seorang diri, beban itu akan terasa sangat berat, namun      bila keluarga-keluarga yang sama-sama memiliki anggota keluarga skizofren      bergabung bersama maka beban mereka akan terasa lebih ringan. Mereka dapat      saling menguatkan, berbagi informasi yang mutahir, bahkan mungkin      menggalang dana bersama bagi keluarga yang kurang mampu. Upaya peredaan      ketegangan emosional secara kelompok juga akan lebih efektif dan lebih      murah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Family therapy(Object relations family therapy)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Georgia;"&gt;Family therapy      dapat menjadi bagian dari rangkaian upaya membantu keluarga agar sebagai      suatu sistem meningkat kohesivitasnya dan lebih mampu melakukan      penyesuaian diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Keluarga harus membantu menumbuhkan sikap mandiri      dalam diri sipenderita. Mereka harus sabar dan menerima kenyataan.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Dukungan keluarga dan teman merupakan salah satu      obat penyembuh yang sangat berarti bagi penderita skizofrenia.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Menerima kenyataan, menurut Suryantha adalah kunci      pertama proses penyembuhan atau pengendalian skizofrenia. Keluarga harus      tetap bersikap menerima, tetap berkomunikasi dan tidak mengasingkan      penderita. Tindakan kasar, bentakan, atau mengucilkan malah akan membuat      penderita semakin depresi bahkan cenderung bersikap ksar. Akan tetapi      terlalu memanjakan juga tidak baik.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Pasca perawatan bisanya penderita akan dikembalikan      pada lingkungan keluarga. Penerimaan kembali oleh keluarga sangat besar      artinya, dalam berbicara tidak boleh emosional agar tidak memancing      kembali emosi penderita.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Yang penting usaha-usaha prevenif berupa hindari      frusrtasi dan kesulitan psikis lainnya. Menciptakan kontak-kontak sosial      yang sehat dan baik. Membiasakan pasien memiliki sikap hidup positif dan      mau melihat hari depan dengan rasa kebranian.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Pada skizofrenia fase aktif penderita mudah terpukul      oleh problem yang sederhana sekalipun. Kurangi pemberian tanggung jawab      agar tidak membebani penderita dan dapat mengurangi stres jangka pendek.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Penderita mungkin menggunakan kata-kata yang tidak      masuk akal, agar lebih paham cobalah berkomunikasi dengan cara lain dan      mengajak melakukan aktivitas bersama-sama. Seperti mendengarkan musik,      melukis, nonton tv, atau menunjukkan perhatian tanpa bercakap-cakap.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Keluarga menanggung beban dan tanggung jawab merawat      anggota keluarga yang sakit terutama mengatasi perilaku kacau tanpa      informasi, ketrampilan dan dukungan yang memadai. Akhir-akhir ini      perhatian perhatian para ahli beralih kepada pengaruh keluarga terhadap      timbulnya kekambuhan. Sikap keluarga terhadap penderita dapat ditentukan      dengan apa yang disebut EE(Emotional Expresion) yang terdiri atas kritikan      atau komentar negatif, emotional over involvment, permusuhan terhadap      penderita, ketidak puasan dan kehangatan. Bila keluarga EEnya tinggi maka      kekambuhan akan tinggi, namun sebaliknya bila EEnya rendah maka      kekambuhanpun akan rendah.&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Tritmen Untuk Skizofrenia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;Pasien skizofrenia memerlukan tritmen yang komprehensif, artinya memberikan tritmen medis untuk menghilangkan gejala, terapi (psikologis) untuk membantu mereka beradaptasi dengan konsekuensi/akibat dari gangguan tsb, dan layanan sosial untuk membantu mereka dapat kembali hidup di masyarakat dan menjamin mereka dapat memperoleh akses untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Berikut beberapa tritmen yang biasanya diberikan kepada pasien skizofrenia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tritmen biologis: terapi obat Pemberian obat2an anti psikotik, minyak ikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="EN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="EN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tritmen sosial dan psikologis – &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;intervensi perilaku, kognitif, dan sosial (melatih &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;ketrampilan berbicara, ketrampilan mengelola diri sendiri, ketrampilan mengelola gejala, terapi kelompok, melatih ketrampilan kerja, dll)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;terapi keluarga (melatih keluarga bagaimana menghadapi perilaku anggotanya yang menderita skizofrenia agar tidak kambuh)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:7;"  &gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;program tritmen komunitas asertif (menyediakan layanan komprehensif bagi pasien skizofrenia dg dokter ahli, pekerja sosial, &amp;amp; psikolog yang dapat mereka akses setiap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tapi di Indonesia masih&lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN" style="font-family:Symbol;"&gt;&lt;span style=""&gt;è&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;saat-terutama bagi yang tidak memiliki keluarga)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terlalu mewah ya? Tritmen lintas budaya Penyembuhan tradisional (dengan doa-doa, upacara adat, jamu, dll) sesuai budaya setempat.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;KriteriaSembuh&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Istilah remisi (sembuh bebas gejala) menunjukkan pasien, sebagai hasil terapi medikasi terbebas dari gejala-gejala skizofrenia, tetapi tidak melihat apakah pasien itu dapat berfungsi atau tidak. Istilah recovery (sembuh tuntas) biasanya mencakup disamping terbebas dari gejala-gejala halusinasi, delusi dan lain-lain, pasien juga dapat bekerja atau belajar sesuai harapan keadaan diri pasien masyarakat sekitarnya. Untuk mencapai kondisi sembuh dan dapat berfungsi, seorang pasien skizofrenia memerlukan medikasi, konsultasi psikologis, bimbingan social, latihan keterampilan kerja, dan kesempatan yang sama untuk semuanya seperti anggota masyarakat lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;Kini perlu disadari bahwa peran keluarga sangatlah penting dalam usaha penyembuhan penderita skizofrenia. Keluarga penderita adalah sumber amat penting untuk memudahkan perawatan psikososial, untuk itu jangan jauhi penderita, berilah perhatian dan kasih sayang agar penderita tidak merasa dikucilkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:4.0cm 3.0cm 4.0cm 4.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;Arif, S , 2006&lt;i&gt;. Skizofrenia “ Memahami Dinamika Pasien”&lt;/i&gt;. Bandung: PT. Refika Aditama&lt;/span&gt;&lt;span  lang="SV" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Kartini Kartono, 1986. &lt;i&gt;Patologi Sosial 3” Gangguan-gangguan Kejiwaan&lt;/i&gt;”. Jakarta: CV. Rajawali.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="FI" style="font-family:Georgia;"&gt;Kartini Kartono, 2002. &lt;i&gt;Patologi &lt;/i&gt;sosial&lt;i&gt; 3&lt;/i&gt;. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;http:/www.sivalintar.com/skizofrenia.html :1 maret 2008)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;a href="http://beta.pikiran/"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://Beta.pikiran&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; – rakyat.com : 1 april 2008-04-13&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;a href="http://kompas-cetak/0410/ilpeng/1331282.htm"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://kompas-cetak/0410/ilpeng/1331282.htm&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; : 19 oktober 2004&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;a href="http://id-shovoong.com/medichine-and-health/1617336-seputar-dunia-skizofrenia"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;http://id-shovoong.com/medichine-and-health/1617336-seputar-dunia-skizofrenia&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;: 11juni 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;a href="http://www.jiwasehat.com/"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;www.jiwasehat.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; :4 novembe 2004&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com:2017/"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;www.kompas.com: 17&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; november 2003&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="PT-BR" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;a href="http://www.skizofrenia.com/"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;www.skizofrenia.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;: 31 agustus 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);font-family:Georgia;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-4893805889179261695?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/4893805889179261695/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=4893805889179261695' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/4893805889179261695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/4893805889179261695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/skizofrenia.html' title='SKIZOFRENIA'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-8874519155740298344</id><published>2008-06-26T18:31:00.002+07:00</published><updated>2008-06-26T18:39:50.851+07:00</updated><title type='text'>Globalisasi, Mau Diterima atau Ditolak Ya?</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oleh: Sri Rezeqi Dwi Handayani [1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: center;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kemajuan teknologi di jaman modern ini ternyata membawa dampak yang sangat luar biasa bagi masyarakat, terutama anak-anak muda yang sangat mudah menerima arus globalisasi yang mengalir sangat deras ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Ada dampak positif dari globalisasi namun tidak sedikit dampak negatifnya, jika kita tidak pintar-pintar dalam menyaringnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dampak positif dari globalisasi sangat terlihat dari kemajuan teknologi yang semakin hari semakin maju. Alat-alat rumah tangga kini sudah dikerjakan dengan mesin, masuknya internet mempermudah kita mengakses informasi apapun yang kita inginkan bahkan sekarang pabrik-pabrik sudah tidak membutuhkan tenaga manusia lagi karena semua sudah dikerjakan oleh mesin-mesin atau robot. Sungguh luar biasa pengaruh globalisasi bagi manusia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Itu mungkin beberapa dampak positif dari globalisasi yang kita rasakan sekarang, tapi dampak negatifnya pun cukup banyak dan sangat meresahkan, diantaranya; akibat digantinya tenaga manusia ke mesin atau robot, mengakibatkan banyak pekerja-pekerja pabrik yang di PHK. Dampak dari situasi seperti itu adalah banyaknya pengangguran sehingga mengakibatkan tingginya angka pengangguran di Indonesia. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari sisi teknologi informatika terutama masuknya internet ternyata dampaknya sangat luar biasa bagi anak-anak dan remaja. Mudahnya masuk dalam jaringan internet membuat banyak orang menyalahgunakan fungsi internet yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Di internet sangat mudah kita dapatkan informasi apapun, bahkan situs-situs porno sangat mudah diaksesnya. Akibatnya internet yang awalnya diharapkan menjadi sumber informasi yang mudah dan positif bagi kita semua terutama anak-anak dan remaja, sekarang beralih fungsi meskipun masih tetap menjadi sumber informasi yang paling mudah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Untuk itu, bagi kita yang sadar bahwa arus globalisasi itu tidak harus dimakan mentah-mentah tetapi harus di saring dahulu sebelum di konsumsi, harusnya mampu memberikan penyadaran pada masyarakat yang belum sadar tentang fungsi teknologi terutama internet yang sebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Bagi orang tua berhati-hatilah dengan pergaulan anak-anak anda. Memberikan fasilitas kepada anak-anak dengan tujuan agar mereka lebih kreatif dan cerdas bukan berarti membiarkan mereka melakukan apapun tanpa dibimbing dan diawasi. Beri pengertian pada anak-anak anda bahwa tidak semua situs di internet dapat diakses, mereka harus memilih mana yang penting dan mendukung untuk sekolahnya atau tidak. Situs-situs yang tidak penting lebih baik tidak diakses.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jangan pernah takut menerima perkembangan zaman, jangan pobia terhadap globalisasi. Biarkan semua arus itu masuk namun yang harus kita ingat, pasang saring yang kuat agar dampak negatif yang masuk bisa ditekan dan diminimalisir, sehingga dampak negatif globalisasi tidak dengan mudahnya mempengaruhi kita.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Mau dibilang modern bukan berarti kita jadi orang bodoh yang dengan mudahnya menelan mentah-mentah semua makanan yang layak dan yang tidak layak untuk dimakan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Banjarnegara, 28 Desember 2007&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: right;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pukul.18.30 WIB&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;[1] Penulis adalah orang yang sangat istimewa dan berpengaruh dalam kehidupanku. Thanks Dok...&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-8874519155740298344?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/8874519155740298344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=8874519155740298344' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/8874519155740298344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/8874519155740298344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/globalisasi-mau-diterima-atau-ditolak.html' title='Globalisasi, Mau Diterima atau Ditolak Ya?'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-8319701002555190935</id><published>2008-06-23T21:02:00.002+07:00</published><updated>2008-06-23T21:24:34.356+07:00</updated><title type='text'>Refleksi Perjalanan Indonesia Tahun 2007</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Monotype Corsiva"; 	panose-1:3 1 1 1 1 2 1 1 1 1; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:36;"   lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Oleh : Sri Rezeqi Dwi H.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:810168716; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1465193800 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:108.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pergantian tahun tinggal menunggu hitungan hari saja, dalam waktu sekejap kita akan meninggalkan tahun 2007 yang penuh kenangan yang akan selalu membekas di hati setiap manusia yang tinggal di negri ini, negara Indonesia tercinta. Namun kenangan-kenangan yang tersisa banyak kenangan pahit yang sangat menyayat hati dan cukup menyakitkan untuk di ingat. Banyak kejadian yang terjadi di negri ini selama tahun 2007. maka tidak ada salahnya kalau kita mencoba untuk merefleksikan perjalanan negri ini selama tahun 2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dari awal tahun sampai hampir tutup tahun bencana di negri ini tidak henti-hentinya, dari tenggelamnya kapal, gempa bumi, ancaman gunung meletus, dan terakhir bencana banjir mngancam hampir di seluruh wilayah Indonesia bahkan mengakibatkan tanah longsor yang memakan korban tidak sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tidak hanya bencana alam yang mengancam keselamatan manusia. Walaupun bencana-bencana tadi tidak lepas dari peran tangan-tangan jahil manusia yang punya hobby baru buat gunduli hutan, buang sampah semau gue, belum lagi global warming yang akibatnya sudah kita rasakan (pergantian cuaca yang tidak menentu, bencana alam yang terus menerus). Namun terpuruknya negri ini juga di akibatkan karena banyak pejabat-pejabat yang ga bosen-bosennya buncitin perut pake duit rakyat alias korupsi. Weleh-weleh sungguh luar biasa negri ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tunggu-tunggu, ternyata ga Cuma sampai disitu aja. Masih ada lagi yang lainnya, coba kita lihat lagi, Ternyata orang miskin yang ada dinegri ini semakin bertambah saja, belum lagi banyak pengangguran yang di akibatkan &lt;b&gt;&lt;i&gt;out sorsing &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang di lakukan oleh perusahaan-perusahaan. Tidak hanya itu, tenaga kerja-tenaga kerja yang berasal dari luar negri menggantikan tenaga kerja-tenaga kerja lokal yang diakibatkan adanya pasar bebas yang mulai di berlakukan di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ini belum selesai, masih ada lagi yang lainya. Coba kita lihat lagi. Anda tahu bahwa ternyata sampai sekarang kebijakan-kebijakan yang di buat pemerinah buat rakyatnya bisa di bilang belum terjadi, tidak percaya? &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sekarang kita buktikan:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Subsidi      pemerintah 20% untk pendidikan ternyata itu belum terjadi, padahal sudah      setiap hari mahasiswa-mahasiswa yang peduli dengan pendidikan menyuarakan      dan menuntut haknya kepada pemerintah, namun sayang keinginan itu belum      terpenuhi sampai saat ini. Pemerintah seakan-akan sudah tuli dan selalu      menutup telinga jika mendengar”jeritan-jeritan”rakyatnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;RUU BHP      (Rancangan Undang-undang Badan HukumPendidikan) yang mulai d berlakukan di      Indonesia akan semakin mencekik orang miskin, walaupun pemerintah akan      memberikan keringanan untuk orang miskin namun seperti      biasanya,persyaratan yang akan diajukan sangat berbelit-belit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sampai      sekarang nasib buruh dipertaruhkan. Sampai detik ini mereka harus bekerja      keras menutut kenaikan UMR yang sampai sekarang hanya pengusaha yang      diuntungkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Nasib      buruh migran juga masih memprihatinkan, masih banyak pekerja-pekerja      Indonesia di luar negri menjadi korban kekerasan majikan yang miskin      moral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kalau kita buka semua pasti masih banyak yang harus di koreksi selama beberapa tahun pemerintahan SBY-KALLA. Memang benar semua ini butuh kerja sama yang baik antara pemerintah dengan rakyatnya bila ingin merubah Indonesia menjadi lebih baik. Namun apakah benar pemerinatah mau bekerja sama dengan rakyatnya, sedangkan selama ini kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerntah jauh dari kata adil untuk rakyatnya, terutama rakyat miskin. Tidak hanya itu, ternyata pemerintah masih belum ikhlas menampung aspirasi-aspirasi rakyatnya. Jadi sekarang siapa yang harus mencoba mengkoreksi diri? Hanya rakyat saja, atau pemerintah juga? Coba tanyakan pada hati nurani anda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12;"   lang="FI"&gt;Banjarnegara, 26 desember 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:36;"   lang="FI"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:36;"   lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-8319701002555190935?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/8319701002555190935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=8319701002555190935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/8319701002555190935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/8319701002555190935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/refleksi-perjalanan-indonesia-tahun.html' title='Refleksi Perjalanan Indonesia Tahun 2007'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-2155036663180727935</id><published>2008-06-22T18:35:00.003+07:00</published><updated>2008-06-22T18:45:23.907+07:00</updated><title type='text'>Pers; Tinjauan Historis dan Orientasinya</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CTIGAANET%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: center;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;Oleh : Bungkapit21&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: center;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:georgia;font-size:100%;"  &gt;"Kau tahu kenapa aku menyayangimu lebih dari yang lain?&lt;br /&gt;karena kau menulis..."&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;(Pramoedya Ananta Toer)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Mukadimah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam proses interaksi sosial, manusia tidak pernah luput dari apa yang namanya komunikasi. Disini komunikasi mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses interaksi tersebut karena salah satu esensi dalam kehidupan manusia adalah kebebasan berbicara dan berpendapat. Produk manusia yang akhirnya menjadi alat untuk berkomunikasi adalah bahasa. Dengan bahasa inilah manusia berhubungan. Disisi lain bahasa ternyata tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi dan bersifat deskriptif(sarana melukiskan fenomena atau lingkungan sekitar), bahasa mampu mempengaruhi cara kita melihat lingkungan. Implikasinya bahasa juga digunakan untuk memberikan aksen tertentu terhadap suatu peristiwa, misalnya dengan menekankan, mempertajam, memperlembut, atau mengaburkan peristiwa tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Komunikasi mempunyai beberapa bentuk. Salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan adalah komunikasi massa, yaiut komunikasi melalui media massa. Komunikasi seperti ini biasanya bersifat satu arah(one way traffic communication) dan polanya adalah; &lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Komunikator&lt;/span&gt; – &lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Pesan&lt;/span&gt; – &lt;span style="color: rgb(51, 255, 51);"&gt;Komunikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Sebagai contohnya adalah koran, majalah, bulletin, tabloid, televisi, radio, dsb. Agar tidak terlalu panjang lebar, pokok bahasan yang lebih ditekankan di sini adalah tentang gerak dan peranan media massa sebagai salah satu bentuk komunikasi massa, khususnya media massa mahasiswa atau biasa disebut persma.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejarah Pers di Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam sejarah perkembangannya pers Indonesia tidak bisa dilepaskan dari situasi masyarakat kolonial pada waktu itu. Munculnya pers di Indonesia bermula dari perkembangan sejarah pers Belanda sampai akhir abad ke-19 di Hindia Belanda. Kemudian menginjak awal abad ke-20 adalah sebuah awal pencerahan bagi perkembangan pergerakan di Indonesia yang ditandai dengan munculnya koran.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ada beberapa tahapan dalam perkembangan sejarah pers di Indonesia. Pertama, di sebut “Babak Putih” yakni dari tahun 1744 sampai tahun 1854 dimana surat kabar mutlak dimiliki orang-orang Nederland yang dibuat menggunakan bahasa Belanda dan dibaca oleh pembaca berbahasa Belanda. Kemudian babak kedua berlangsung antara tahun 1854 sampai masa kebangkitan nasional. Pada tahun 1854 ini dikenla sebagai kemenangan kaum liberal(politik etis) di Nederland yang memberikan kelonggaran pada kegiatan pers di Hindia Belanda.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Di saat inilah media massa yang diterbitkan Tionghoa dan Bumiputera pertama kali muncul. Untuk media Tionghoa ada &lt;i style=""&gt;Li Po &lt;/i&gt;yang pertama kali terbit di Sukabumi pada tanggal 12 Januari 1901. Kemudian lahir juga &lt;i style=""&gt;Kabar Perniagaan, Sin Po, &lt;/i&gt;dan &lt;i style=""&gt;Sin Tit Po Sin Tit Po &lt;/i&gt;yang kesemuanya itu dimiliki oleh orang Tionghoa dan menggunakan bahasa Melayu-Franca. Walaupun semua penerbitan rata-rata dimiliki orang Tionghoa, tetapi kondisi ini juga mendorong proses kemajuan intelektualitas kaum bumiputera. Sedang untuk media massa bumiputera pertama didirikan oleh RM Tirto Adhi Soerjo pada tahun 1902 dengan nama Soenda Berita. Terbitan itu lahir atas kerja Tirto Adhi Soerjo dan bupati Cianjur yang bernama RAA Prawiradiredja. Harian ini pertama kali terbit pada bulan Pebruari 1903. Selain itu, Tirto juga memimpin terbitannya sendiri yang bernama &lt;i style=""&gt;Medan Prijaji &lt;/i&gt;di tahun 1907 dan menyebut hariannya tersebut khusus ditujukan pada “bangsa yang terperentah” alias bangsa yang terjajah. Dan alhasil, Medan Prijaji ini mencapai puncak kegemilangannya. RM Tirto Adhi Soerjo inilah yang menjadi pelopor lahirnya pers nasional. Melalui surat kabar ia mengkritisi semua kebijakan pemerintah Belandayang sangat menyengsarakan rakyat. Dialah sang pemula, sosok pembaharu dalam pergerakan di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dari sejarah Tirto tadi kita bisa simpulkan bahwa seorang jurnalis tidak hanya mampu menulis kondisi zamannya yang buruk tetapi juga ikut aktif untuk merubahnya. Hal ini sama juga dengan pola gerak pers mahasiswa pasca kemerdekaan. Ketika tahun 1966 dimana situasi politk Indonesia sangat memanas dan harga kebutuhan pokok rakyat melambung tinggi, para aktivis pers mahasiswa banyak yang bergerak. Lahirnya media kampus seperti Mahasiswa Indonesia, Harian KAMI, Gelora Mahasiswa Indonesia, dan Mimbar Demokrasi turut berjuang aktif menggulingkan Soekarno. Melalui pemaparannya yang kritis, media kampus memberi kontribusi sehingga Soekarno Jatuh dari kedudukannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Setelah kejatuhan Soekarno, pers mahasiswa mencoba memberikan kontribusi melalui media kampus tersebut untuk membangun Indonesia baru. Kemudian ketika tahun 1974 ketika terjadi peristiwa MALARI, pers kampus kembali menyerang pemerintah(masa awal pemerintahan orde baru). Banyak kasus pembredelan terhadap pers kampus dan media massa umum; seperti Indonesia Raya, Pedoman, Jakarta Times, serta Mingguan Nusantara dan Ekspress. Pasca pembredelan tersebut gerak mahasiswa dibatasi dengan dikeluarkannya SK No. 0156/U/1978 oleh menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoet Joesoef pada tanggal 19 April 1979 tentang NKK disusul instruksi Dirjen Pendidikan Tinggi 002/DK/Inst/1978 tentang pembentukan BKK. Lahirnya NKK/BKK inilah yang akhirnya membatasi ruang gerak mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; font-weight: bold;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pers Indonesia dan Pers Mahasiswa Saat Ini&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Saat ini pers di Indonesia sedang mengalami kebebasannya. Pers memiliki kondisi untuk melaksanakan idealismenya. Meskipun hal itu tidak mutlak karena masih ada beberapa kasus yang menunjukkan pers dalam kondisi tertekan, seperti kasus Tempo. Secara umum pers di Indonesia bisa dikategorikan dalam tiga kelompok. Pertama, pers sebagai corong pemerintah dimana pers seperti ini lebih condong berpihak pada pemerintah dan biasanya dimiliki oleh pemerintah. Kedua, pers mengambang dimana pers seperti ini cenderung bersifat oportunis. Ketika kondisi kekuasaan sangat otoriter maka ia akan memuja habis-habisan dan ketika kondisi kekuasaan melemah ia akan ikut-ikutan menghujat. Ketiga, pers progresif dimana pers seperti ini tercermin dalam media massa yang konsisten dalam menjalankan fungsinya sebagai kontrol kekuasaan. Dalam kondisi kekuasaan seperti apapun media massa seperti ini akan tetap pada idealismenya meskipun mempunyai resiko tinggi, yaitu dibredel.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sedangkan pers mahasiswa saat ini? Kondisi inilah yang perlu kita telaah lagi. Pasca diberlakukanya NKK/BKK yang menutup ruang gerak mahasiswa, persma kembali lagi mempunyai peranan penting ketika masa reformasi ’98 yang ikut serta dalam proses penggulingan reim orde baru yang sangat menindas. Disini peran persma sebagai media propaganda untuk menentang dan menggulingkan Soeharto. Media terbitan kampus kembali menjadi alat perjuangan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" face="georgia" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Tetapi pasca reformasi peranan persma kembali menyurut. Persma saat ini ibarat hidup enggan mati tak mau. Ia telah kehilangan semangat perjuangannya. Memang tak dapat dipungkiri media terbitan mahasiswa saat ini dikalahkan oleh media umum, baik dari oplah, berita yang disajikan maupun distribusinya. Kehadiran pers yang dikelola oleh aktivis mahasiswa ini jelas bukan pers yang berperilaku umum seperti pers lainnya, melainkan tampil karena tujuan yang khas yang dapat disebut sebagai tujuan perjuangan.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-2155036663180727935?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/2155036663180727935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=2155036663180727935' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/2155036663180727935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/2155036663180727935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/pers-tinjauan-historis-dan-orientasinya.html' title='Pers; Tinjauan Historis dan Orientasinya'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-4739833875482630763</id><published>2008-06-13T05:37:00.003+07:00</published><updated>2008-06-13T05:48:19.309+07:00</updated><title type='text'>F I L S A F A T</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: center;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Sebuah Pengantar&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p style="font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h2  style="margin-left: 36pt; text-align: center; text-indent: -36pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=";font-size:100%;" &gt;I.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pendahuluan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Filsafat / filosofi berasal dari kata Yunani yaitu &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;philos (suka)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;dan &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;sophia (kebijaksanaan)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yang diturunkan dari kata kerja &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;filosoftein&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, yang berarti : mencintai kebijaksanaan, tetapi arti kata ini belum menampakkan arti filsafat sendiri karena “mencintai” masih dapat dilakukan secara pasif. Pada hal dalam pengertian &lt;i style=""&gt;filosoftein&lt;/i&gt; terkandung sifat yang aktif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Filsafat adalah pandangan tentang dunia dan alam yang dinyatakan secara teori. Filsafat adalah suatu ilmu atau metode berfikir untuk memecahkan gejala-gejala alam dan masyarakat. Namun filsafat bukanlah suatu dogma atau suatu kepercayaan yang membuta. Filsafat mempersoalkan soal-soal: etika/moral, estetika/seni, sosial dan politik, epistemology/tentang asal pengetahuan, ontology/tentang manusia, dll.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ketika kita memasuki alam pustaka&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;filsafat maka kita akan bingung sendiri dengan begitu banyaknya buku, thesis, teori yang jumlahnya ribuan banyaknya. Untuk itu agar tidak membuang waktu dan terhindar dari kekacauan, kita dapat memakai cara Engels memisahkan filsafat itu menjadi dua kubu besar yaitu filsafat materialis dan filsafat idealis, materialisme dan idealisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang dipisahkan menurut Engels ialah didasarkan atas sikap yang diambil oleh si pemikir, yakni apa yang pertama ada terlebih dahulu. Yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengatakan benda dahulu baru datang fikiran itulah yang materialis dan yang mengatakan fikiran dahulu baru datang benda itulah yang idealis. Pada kubu idealis kita dapatkan beberapa pemikir terkemuka seperti Plato, Hume, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Berkeley&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan “raksasa pikiran” Hegel, pada kubu materialis kita berjumpa dengan Heraklit, Demokrit, Diderot dan berpuncak pada Marx dan Engels. Diantara kedua kubu ini ada juga yang berdiri ditengah-tengah setengah idealis dan setengah materialis ini disebut dengan penganut filsafat dualisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Pentingnya berfilsafat dan cara belajar filsafat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berfilsafat itu penting, dengan berfilsafat orang akan mempunyai pedoman untuk bersikap dan bertindak secara sadar dalam menghadapi gejala-gejala yang timbul dalam alam dan masyarakat, sehingga tidak mudah tejebak dalam timbul-tenggelamnya gejala-gejala yang terjadi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk belajar berfilsafat orang harus mempelajari filsafat. Cara belajar filsafat adalah menangkap pengertiannya secara ilmu lalu memadukan ajaran dan pengertiannya dalam praktek. Kemudian pengalaman dari praktek diambil dan disimpulkan kembali secara ilmu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Monoisme dan Dualisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Monoisme adalah suatu system filsafat yang bertitik tolak dari satu dasar pandangan , materi atau ide, yang mengatakan materi adalah primer adalah yang tergabung dalam aliran &lt;b style=""&gt;materialisme&lt;/b&gt;, sedangkan yang mengatakan ide adalah primer atau yang pertama mereka inilah yang tergabung dalam lairan &lt;b style=""&gt;idealisme&lt;/b&gt;. Istilah atau perkataan monoisme pertamakali dipakai oleh seorang filsuf&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bernama &lt;i style=""&gt;Chr. Wolf &lt;/i&gt;pada abad ke-18&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dualisme adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari materi dan ide sekaligus. Dualisme menganggap materi dan ide itu sama-sama primer, tidak ada yang sekunder. Keduanya timbul dan ada secara bersamaan. Materi ada karena adanya ide dan juga sebaliknya ide itu ada karena adanya materi. Tapi pada hakikatnya pandangan ini idealis juga, karena pandangan itu tidak lain hanya ada dalam fikiran saja, karena tidak ada dalam kenyataan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 36pt; text-align: center; text-indent: -36pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;II.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Materialisme dan Idealisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 36pt; text-align: center; text-indent: -36pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti sudah dijelaskan diatas apa yang selalu menjadi pertanyaan filsafat akhirnya berpuncak pada apakah yang ada lebih dahulu, apakah yang primer benda atau fikiran, materi atau ide. Yang berpendapat ide/fikiran dahulu ada baru benda kemudian muncul dari padanya adalah yang digolongkan pada kaum Idealisme. Dan yang berpendapat bahwa benda/materi ada lebih dahulu baharu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemudian muncul ide mereka itulah yang berdiri di barisan kaum Materialisme&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi pengertian idealisme itu bukanlah seperti yang difitnahkan oleh orang-orang tertentu yaitu bahwa kaum materialis itu adalah orang-orang yang hanya mencari kesenangan hiduptak terbatas; makan sampai muntah, minum sampai mabuk, penganut sex bebas dsb-nya. Sedangkan kaum Idealis adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kesucian, lebih mementingkan berpikir dari pada makan, dll.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Filsafat Idealisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Idealisme ialah filsafat yang pandangan yang menganggap atau memandang ide itu primer dan materi adalah sekundernya, dengan kata lain menganggap materi berasal dari ide&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau diciptakan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ide.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan David Hume sebagai filsuf idealis subyektif, kita dapat menggambarkan seluruh ahli filsafat idealis dari Plato sampai Hegel,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;“if I go into myself”, “kalau saya memasuki diri saya sendiri”, kata Hume, maka saya jumpai “bundles of conception”, bermacam pengertian, bermacam-macam gambaran tentang benda. “Engkau”, kata Hume cuma “ide” bagi saya (Hume).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi “Engkau” buat Hume adalah saya buat Udin, misalnya. Jadi Udin bagi Hume hanyalah “Ide”, tetapi Hume juga cuma “ide” buat Udin, Udin dipandang dari pihak Hume hanya Ide, hanya gambaran di otak Hume begitu juga sebaliknya. Dengan begitu Hume membatalkan dirinya sendiri , mengakui bahwa dia sendiri tidak ada dan, hanya ide ???&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terhadap adanya pandangan idealisme demikian itu, Lenin dengan tajam mengeritik idealisme sebagai filsafat yang tanpa otak dan dikonsolidasikan oleh kepentingan klas-klas yang berkuasa -- klas-klas pemilik budak, kaum feodal dan kaum borjuasi --.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Aliran-aliran dalam filsafat Idealisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Idealisme Obyektif&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil (Absolute Idea- Hegel / LOGOS-nya Plato) ide diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dsb-nya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi sebagai suatu system filsafat, pandangan dunia ini pertama-tama kali disistimatiskan oleh &lt;i style=""&gt;Plato (427-347 S.M), &lt;/i&gt;menurut Plato dunia luar yang dapat di tangkap oleh panca indera kita bukanlah dunia yang riil, melainkan bayangan dari dunia “idea” yang abadi dan riil. Pandangan dunia Plato ini mewakili kepentingan klas yang berkuasa pada waktu itu di Eropa yaitu klas pemilik budak. Dan ini jelas nampak dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ajarannya tentang masyarakat “ideal”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada jaman feodal, filsafat idealisme obyektif ini mengambil bentuk yang dikenal dengan nama Skolastisisme, system filsafat ini memadukan unsur idealisme &lt;i style=""&gt;Aristoteles (384-322 S.M),&lt;/i&gt; yaitu bahwa dunia kita merupakan suatu tingkatan hirarki dari seluruh system hirarki dunia semesta, begitupun yang hirarki yang berada dalam masyarakat feodal merupakan kelanjutan dari dunia ke-Tuhanan. Segala sesuatu yang ada dan terjadi di dunia ini maupun dalam alam semesta merupakan “penjelmaan” dari titah Tuhan atau perwujudan dari ide Tuhan. Filsafat ini membela para bangsawan atau kaum feodal yang pada waktu itu merupakan tuan tanah besar di Eropa dan kekuasaan gereja sebagai “wakil” Tuhan didunia ini. Tokoh-tokoh yang terkenal dari aliran filsafat ini adalah: &lt;i style=""&gt;Johannes Eriugena (833 M), Thomas Aquinas (1225-1274 M), Duns Scotus (1270-1308 M), &lt;/i&gt;dsb.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kemudian pada jaman modern sekitar abad ke-18 muncullah sebuah system filsafat idealisme obyektif yang baru, yaitu system yang dikemukakan oleh &lt;i style=""&gt;George.W.F Hegel (1770-1831 M).&lt;/i&gt; Menurut Hegel hakekat dari dunia ini adalah “ide absolut”, yang berada secara absolut dan “obyektif” didalam segala sesuatu, dan tak terbatas pada ruang dan waktu. “Ide absolut” ini, dalam prosesnya menampakkan dirinya dalam wujud gejala alam, gejala masyarakat, dan gejala fikiran. Filsafat Hegel ini mewakili klas borjuis Jerman yang pada waktu itu baru tumbuh dan masih lemah, kepentingan klasnya menghendaki suatu perubahan social, menghendaki dihapusnya hak-hak istimewa kaum bangsawan Junker. Hal ini tercermin dalam pandangan dialektisnya yang beranggapan bahwa sesuatu itu senantiasa berkembang dan berubah tidak ada yang abadi atau mutlak, termasuk juga kekuasaan kaum feodal. Akan tetapi karena kedudukan dan kekuatannya masih lemah itu membuat mereka tidak berani&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terang-terangan melawan filsafat Skolatisisme dan ajaran agama yang berkuasa ketika itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pikiran filsafat idealisme obyektif ini dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari dengan berbagai macam bentuk. Perwujudan paling umum antara lain adalah formalisme dan doktriner-isme. Kaum doktriner dan formalis secara membuta mempercayai dalil-dalil atau teori sebagai kekuatan yang maha kuasa , sebagai obat manjur buat segala macam penyakit, sehingga dalam melakukan tugas-tugas atau menyelesaikan persoalan-persoalan praktis mereka tidak bisa berfikir atau bertindak secara hidup berdasarkan situasi dan syarat yang kongkrit, mereka adalah kaum “textbook-thingking”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Idealisme Subyektif&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah seorang uskup inggris yang bernama &lt;i style=""&gt;George Berkeley (1684-1753 M)&lt;/i&gt;, menurut &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Berkeley&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; segala, sesuatu yang tertangkap oleh sensasi/perasaan kita itu bukanlah bukanlah materiil yang riil dan ada secara obyektif. Sesuatu yang materiil misalkan jeruk, dianggapnya hanya sebagai sensasi-sensasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atau kumpulan perasaan/konsepsi tertentu (“bundles of conception” &lt;i style=""&gt;David Hume (1711-1776 M)&lt;/i&gt;, -ed), yaitu perasaan / konsepsi dari rasa jeruk, berat, bau, bentuk dsb. Dengan demikian &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Berkeley&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Hume menyangkal adanya materi yang ada secara obyektif, dan hanya mengakui adanya materi atau dunia yang riil didalam fikirannya atau idenya sendiri saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kesimpulan yang dapat ditarik dari filsafat ini adalah, kecenderungan untuk bersifat egoistis “Aku-isme” yang hanya mengakui yang riil adalah dirinya sendiri yang ada hanya “Aku”, segala sesuatu yang ada diluar selain “Aku” itu hanya sensasi atau konsepsi-konsepsi dari “Aku”. Untuk berkelit dari tuduhan egoistis dan mengedepankan “Aku-isme/solipisme” &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Berkeley&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; menyatakan hanya Tuhan yang berada tanpa tergantung pada sensasi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Filsafat Berkeley dan Hume ini adalah filsafat Borjuasi besar Inggris pada abad ke-18, yang merupakan kekuatan reaksioner menentang materialisme klasik Perancis, sebagai manifestasi dari kekuatiran atas revolusi di Inggris pada waktu itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada abad ke-19, Idealisme subyektif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mengambil bentuknya yang baru yang terkenal dengan nama “Positivisme”, yang di kemukakan pertama kali oleh &lt;i style=""&gt;Aguste Comte (1798-1857 M)&lt;/i&gt;, menurutnya hanya “pengalaman”-lah yang merupakan kenyataan yang sesungguhnya , selain dari pada itu tidak ada lagi kenyataan, dunia adalah hasil ciptaan dari pengalaman, dan ilmu hanya bertugas untuk menguraikan pengalaman itu. Dan masih banyak lagi pemikir-pemikir yang lainnya dalam filsafat ini, misalnya saja &lt;i style=""&gt;William Jones (1842-1910 M) dan John Dewey (1859-1952)&lt;/i&gt;, keduanya berasal dari Amerika Serikat dan pencetus ide “pragmatisme”, menurut mereka Pragmatisme adalah suatu filsafat yang menggunakan akibat-akibat praktis dari ide-ide atau keyakinan-keyakinan sebagai suatu ukuran untuk menetapkan nilai dan kebenarannya. Filsafat seperti ini sangat menekankan pada pandangan individualistic, yang mengedepankan sesuatu yang mempunyai keuntungan atau “cash-value”(nilai kontan)-lah yang dapat diterima oleh akal si “Aku” tsb. Pragmatisme berkembang di Amerika dan adalah filsafat yang mewakili kaum borjuasi besar di negeri yang katanya “the biggest of all”. Sebab dari pandangan filsafat seperti ini Imperialisme, tindakan eksploitasi dan penindasan dapat dibenarkan selama dapat mendapatkan keuntungan untuk si “Aku”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pandangan-pandangan idealisme subyektif dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya tidak jarang kita temui perkataan-perkataan seperti ini :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Baik buruknya keadaan masyarakat sekarang tergantung pada orang yang menerimanya, ialah baik bagi mereka yang menganggapnya baik dan buruk bagi mereka yang menganggapnya buruk.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“kekacauan sekarang timbul karena orang yang duduk dipemerintahan tidak jujur, kalau mereka diganti dengan orang-orang yang jujur maka keadaan akan menjadi baik.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“aku bisa, kau harus bisa juga,” dsb&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0cm 72pt 0.0001pt 36pt; font-family: georgia; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Filsafat Materialisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang pandangannya bertitik tolak dari pada materi (benda). Materialisme memandang bahwa benda itu primer sedangkan ide ditempatkan di sekundernya. Sebab materi ada terlebih dahulu baru ada ide. Pandangan ini berdasakan atas kenyataan menurut proses waktu dan zat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Misal, menurut proses waktu, lama sebelum manusia yang mempunyai ide itu ada didunia, alam raya ini sudah ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menurut zat, manusia tidak bisa berfikir atau mempunyai ide bila tidak mempunyai otak, otak itu adalah sebuah benda yang bisa dirasakan oleh panca indera kita. Otak atau materi ini yang lebih dulu ada baharu muncul ide dari padanya. Atau seperti kata Marx &lt;i style=""&gt;“Bukan fikiran yang menentukan pergaulan, melainkan keadaan pergaulan yang menentukan fikiran.” &lt;/i&gt;Maksudnya sifat/fikiran seorang individu itu ditentukan oleh keadaan masyarakat sekelilingnya, “masyarakat sekelilingnya” –ini menjadi materi atau sebab yang mendorong terciptanya fikiran dalam individu tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Aliran-aliran dalam materialisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Materialisme Mekanik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah, geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya, gerak yang tetap selamanya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin yang tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme mekanik tersistematis ketika ilmu tentang meknika mulai berkembang dengan pesat, tokoh-tokoh yang terkenal sebagai pengusung materialisme pada waktu itu ialah Demokritus (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; 460-370 SM), Heraklitus (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; 500 SM) kedua pemikir Yunanai ini berpendapat bahwa aktivitas psikik hanya merupakan gerakan atom-atom yang sangat lembut dan mudah bergerak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mulai abad ke-4 sebelum masehi pandangan materialisme primitif ini mulai menurun pengaruhnya digantikan dengan pandangan idealisme yang diusung oleh Plato dan Aristoteles. Sejak itu, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;±&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; 1700 tahun lamanya dunia filsafat dikuasai oleh filsafat idealisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Baru pada akhir jaman feodal, sekitar abad ke-17 ketika kaum borjuis sebagai klas baru dengan cara produksinya yang baru, materialisme mekanik muncul dalam bentuk yang lebih modern karena ilmu pengetahuan telah maju sedemikian pesatnya. Pada waktu itu ilmu materialisme ini menjadi senjata moril / idiologis bagi perjuangan klas borjuis melawan klas feodal yang masih berkuasa ketika itu. Perkembangan materialisme ini meluas dengan adanya revolusi industri, di negeri-negeri Eropa. Wakil-wakil dari filsafat materialis pada abad ke-17 adalah &lt;i style=""&gt;Thomas Hobbes(1588-1679 M), Benedictus Spinoza (1632-1677 M)&lt;/i&gt; dsb. Aliran filsafat materialisme mekanik mencapai titik puncaknya ketika terjadi Revolusi Perancis pada abad ke-18 yang diwakili oleh &lt;i style=""&gt;Paul de Holbach (1723-1789 M), Lamettrie (1709-1751 M)&lt;/i&gt; yang disebut juga materialisme Perancis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme Perancis dengan tegas mengatakan materi adalah primer dan ide adalah sekunder, Holbach mengatakan : “materi adalah sesuatu yang selalu dengan cara-cara tertentu menyentuh panca indera kita, sedang sifat-sifat yang kita kenal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari bermacam hal-ichwal itu adalah hasil dari bermacam impresi atau berbagai macam perubahan yang terjadi di alam pikiran kita terhadap hal-ichwal itu”. Materialisme Perancis menyangkal pandangan religus tentang penciptann dunia (Demiurge), yang sebelum itu menguasai alam pikiran manusia.. Bahkan secara terang-terangan Holbach mengatakan “nampaknya agama itu diadakanhanya untuk memperbudak rakyat dan supaya mereka tunduk dibawah kekuasaan raja lalim. Asal manusia merasa dirinya didalam dunia ini sangat celaka, maka ada orang yang datang mengancam mereka dengan kemarahan Tuhan, memakasa mereka diam dan mengarahkan pandangan mereka kelangit, dengan demikian mereka tidak lagi dapat melihat sebab sesungguhnya daripada kemalangannnya itu”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme Perancis adalah pandangan yang menganggap segala macam gerak atau gejala-gejala yang terjadi dialam itu dikuasai oleh gerakan mekanika, yaitu pergeseran tempat dan perubahan jumlah saja. Bahkan manusia dan segala aktivitetnya pun dipandang seperti mesin yang bergerak secara mekanik, ini tampak jelas sekali dalam karya Lamettrie yang berjudul “Manusia adalah mesin”. Mereka tidak melihat adanya peranan aktif dari ide atau pikiran terhadap materi. Pandangan ini adalah ciri dan sekaligus kelemahan materialisme Perancis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Materialisme metafisik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena faktor luar atau kekuatan dari luar. Gerak materi itu disebut gerak ekstern atau gerak luar. selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme metafisik diwakili oleh Ludwig Feurbach, pandangan materialisme ini mengakui bahwa adanya “ide absolut” pra-dunia dari Hegel , adanya terlebih dahulu “kategori-kategori logis” sebelum dunia ada, adalah tidak lain sisa-sisa khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar dunia; bahwa dunia materiil yang dapat dirasakan oleh panca indera kita adalah satu-satunya realitet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tetapi materialisme metafisik melihat segala sesuatu tidak secara keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, atau segala sesuatu itu berdiri sendiri. Dan segala sesuatu yang real itu tidak bergerak, diam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pandangan ini mengidamkan seorang manusia suci atau seorang resi suci yang penuh cinta kasih. Feurbach berusaha memindahkan agama lama yang menekankan hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sebuah agama baru yaitu hubungan cinta kelamin antara manusia dengan manusia. Seperti kata Feurbach: “Tuhan adalah bayangan manusia dalam cermin”, Feurbach menentang teologi, dalam filsafatnya atau “agama baru”-nya Feurbach mengganti kedudukan Tuhan dengan manusia, pendeknya manusia itu Tuhan. Feurbach tidak melihat peran aktif dari ide dalam perkembangan materi, yang materi bagi Feurbach adalah misalnya, manusia (baca: materi, pen) sedangkan dunia dimana manusia itu tinggal tidak ada baginya, atau menganggap sepi ativitet yang dilakukan manusia/materi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme metafisik menganggap kontradiksi sebagai hal yang irasionil bukan sebagai hal yang nyata, disinilah letak dari idealisme Feurbach. Pandangannya bertolak daripada materialisme tetapi metode penyelidikan yang dipakai ialah metafisis. Metode metafisis inilah yang menjadi kelemahan terbesar bagi materialisme Feurbach.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Materialisme dialektis&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materialisme dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi, dan saling bergantung satu dengan lainnya. Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral. Tokoh-tokoh pencetus filsafat ini adalah &lt;i style=""&gt;Karl Marx (1818-1883 M), Friedrich Engels (1820-1895 M).&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Gerakan materi itu adalah gerak intern, yaitu bergerak atau berubah karena dorongan dari faktor dalamnya (motive force-nya). Yang disebut “diam” itu hanya tampaknya atau bentuknya, sebab hakikat dari gejala yang tampaknya atau bentuknya “diam” itu isinya tetap gerak, jadi “diam” itu juga suatu bentuk gerak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 14.2pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Metode yang dipakai adalah dialektika Hegel, Marx mengakui bahwa orang Yunani-lah yang pertama kali menemukan metode dialektika, tetapi Hegel-lah yang mensistematiskan metode tersebut. Tetapi oleh Marx dijungkir balikkan dengan bersandarkan materialisme. Marx dan temannya Engels mengambil materialisme Feurbach dan membuang metodenya yang metafisis sebagai dasar dari filsafatnya. Dan memakai dialektika sebagai metode dan membuang pandangan idealis Hegel.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dialektika Hegel menentang dan menggulingkan metode metafisis yang selama beabad-abad menguasai lapangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;filsafat. Hegel mengatakan “yang penting dalam filsafat adalah metode bukan kesimpulan-kesimpulan mengenai ini dan itu”. Ia menunjukkan kelemahan-kelemahan metafisika :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kaum metafisis memandang sesuatu bukan dari keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, tetapi dipandangnya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sedangkan Hegel memandang dunia sebagai badan kesatuan, segala sesuatu didalamnya terdapat saling hubungan organic.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kaum metafisis melihat segala sesuatu tidak dari geraknya, melainkan sebagai yang diam, mati dan tidak berubah-ubah, sedang Hegel melihat segala sesuatu dari perkembangannya, dan perkembangannya itu disebabkan kontradiksi internal, kaum metafisik berpendapat bahwa: “segala yang bertentangan adalah irasionil”. Mereka tidak tahu bahwa akal (reason)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;itu sendiri adalah pertentangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sumbangan Hegel yang terpenting adalah kritiknya tentang evolusi vulgar, yang pada ketika itu sangat merajalela, dengan mengemukakan teorinya tentang “lompatan” (sprong) dalam proses perkembangan. Sebelum Hegel sudah banyak filsuf yang mengakui bahwa dunia ini berkembang, dan meninjau sesuatu dari proses perkembangannya, tetapi perkembangannya hanya terbatas pada perubahan yang berangsur-angsur (perubahan evolusioner) saja. Sedang Hegel berpendapat dalam proses perlembangan itu pertentangan intern makin mendalam dan meruncing dan pada suati tingkat tertentu perubahan berangsur-angsur terhenti dan terjadilah “lompatan”. Setelah “lompatan” itu terjadi, maka kwalitas sesuatu itu mengalami perubahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi dialektika Hegel ini diselimuti dengan kulit mistik, reaksioner, yaitu pandangan idealismenya sehingga dia memutar balikkan keadaan sebenarnya. Hukum tentang dialektika yaitu hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku didunia ini dipandangnya bukan seabagai suatu hal yang obyektif, yang primer melainkan perwujudan dari “ide absolut”. Kulitnya yang reaksioner inilah yang kemudian dibuang oleh Marx, dan isinya yang “rasionil” diambil serta ditempatkan pada kedudukan yang benar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jembatan antara Marx dan Hegel adalah Feurbach, Materialisme dijadikan sebagai dasar filsafatnya tetapi Feurbach melihat gerak dari penjuru idealisme yang membuat ia berhenti dan membuang dialektika Hegel. Membuat hasil pemeriksaannya terpisah dan abstrak, Marx membuang metode metafisisnya, dan menggantinya dengan dialektika, sehingga menghasilkan sebuah system filsafat baru yang lebih kaya dan lebih sempurna dari pendahulunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 13.5pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 36pt; text-align: center; text-indent: -36pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;III.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Materi dan Ide&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 36pt; text-align: center; text-indent: -36pt;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Materi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materi mempunyai dua pengertian, yaitu arti materi menurut filsafat, dan materi menurut ilmu alam. Materi menurut ilmu alam mempunyai arti yang lebih sempit daripada arti materi menurut filsafat&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Materi menurut ilmu alam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, ialah segala sesuatu yang mempunyai susunan atau yang tersusun secara organis atau dengan kata lain benda. Benda menurut ilmu alam mempunyai tiga bentuk yaitu benda padat (solid), benda cair (liquid) dan gas (gasceus).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Materi menurut filsafat&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;, ialah segala sesuatu yang bisa ditangkap oleh indera manusia, serta bisa menimbulkan ide-ide tertentu. Dengan begitu pengartian materi menurut filsafat mencakup pula pengertian materi menurut ilmu alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Materi mempunyai peranan menetukan ide, materi menimbulkan ide. Ide manusia timbul setelah terlebih dahulu suatu materi ditangkap oleh indera. Sudah jelas yang “memproduksi” ide itu adalah sebuah materi yang sudah mencapai titik perkembangan yang sangat tinggi yang disebut dengan otak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;Ide.&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagaimana yang diterangkan diatas, materialisme dialektis berpendapat bahwa ide itu dilahirkan dan ditentukan oleh materi, ini mengandung dua pengertian:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dipandang dari proses asalnya ide / pikiran, nyatalah bahwa sensasi (perasaan) itu tidak dilahirkan oeh materi biasa. Melainkan semacam organisme tertentu yang telah mencapai perkembangan yang sangat tinggi dan mempunyai struktur yang sangat complex yang kita sebut sebagai otak. Tanpa otak tidak akan ada pikiran / ide, otak atau system urat syaraf yang sangat kompleks adalah hasil tertinggi dari proses perkembangan alam. Oleh karena itu ide juga merupakanproduk dari proses perkembangan dari alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dipandang dari isinya, bagaimanapun ide adalah pencerminan dari kenyataan obyektif. Marx berkata bahwa: “ide tidak lain daripada dunia materiil yang dicerminkan oleh otak manusia, dan diterjemah &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; dalam bentuk bentuk pikiran”. Pencerminan itu hanya bisa terjadi dengan adanya kontak langsung antara kesadaran manusia dengan dunia luar, dengan praktek sosial manusia. Oleh karenanya ide juga merupakan produk dari proses perkembangan praktek sosial manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ide adalah cermin dari materi atau merupakan bentuk lain dari materi. Tetapi ide tidak mesti sama dengan materi, ide dapat menjangkau jauh didepan materi. Walau begitu ide tidak akan dapat lepas dari materi.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Materi menentukan ide, sedangkan ide mempunyai peranan aktif terhadap perkembangan materi. Jadi ide mempunyai peranan aktif, tidak pasif seperti pencerminan cermin biasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan demikian jelaslah pengertian materialisme dialektis tentang materi dan ide bertentangan dengan paham idealisme yang menganggap ide adalah yang terlebih dahulu ada daripada materi. Materialisme dialektis disatu pihak mengatakan materi ada terlebih dahulu daripada ide, tetapi dipihak lain mengakui peranan aktif daripada ide dalam perkembangan materi, ini mengandung dua pengertian :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seperti dijelaskan diatas ide adalah pencerminan materi, tetapi proses pencerminan itu tidak semudah atau sesimple pencerminan dengan kaca-cermin, yang hanya bisa menjelaskan gejala luar saja. Melainkan melalui pencerminan yang aktif, melalui proses pemikiran yang rumit sehingga dapat mencerminkan kenyataan obyektif sebagaimana adanya, baik mengenal sesuatu itu dari gejala luarnya maupun gejala dalamnya atau hakekat suatu materi. Peranan aktif dari ide inilah yang memungkinkan manusia menyempurnakan alat-alat atau perkakas untuk memperbesar kemampuannya dalam mengenal atau mencerminkan keadaan maupun &lt;b style=""&gt;mengubah keadaan&lt;/b&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Peranan aktif ide itu berarti dalam mengenal dan mengubah keadaan itu manusia bertindak dengan sadar, dengan motif atau tujuan tertentu, yaitu untuk memenuhi kebutuhan praktek sosialnya untuk kehidupan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ide revolusioner yaitu ide yang mencerminkan hukum-hukum perkembangan keadaan obyektif, memainkan peranan untuk mendorong perkembangan keadaan. Sebaliknya ide reaksioner,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ialah ide yang berlawanan dengan hukum-hukum perkembangan keadaan obyektif dan menghambat kemajuan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="margin-left: 18pt; text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dengan dijelaskannya keprimeran materi dan peranan aktif ide, materialisme dialektis mengajarkan supaya dalam memandang dan memecahkan permasalahan harus bertolak dari kenyataan yang kongkrit dan berdasarkan data-data yang obyektif, dan jangan bersandar pada dugaan-dugaan subyektif dan hanya terpaku pada buku-buku yang mati, dan juga harus ditujukan pada kebutuhan praktek yang kongkrit. Dipihak lain ia memperingatkan kita kepada pentingnya teori, tetapi dipihak lain ia menolak “pendewaan” kepada teori atau dengan kata lain menentang dengan tegas terhadap kedogmatisan.[]&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify; text-indent: 18pt;font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: center;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;“ Para ahli filsafat hanya telah &lt;i style=""&gt;menafsirkan&lt;/i&gt; dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soalnya ialah mengubahnya ”&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: center;font-family:georgia;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2"  style="text-align: right;font-family:georgia;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i style=""&gt;Karl Marx, thesis ke-11 tentang Feurbach&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-4739833875482630763?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/4739833875482630763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=4739833875482630763' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/4739833875482630763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/4739833875482630763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/f-i-l-s-f-t.html' title='F I L S A F A T'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-6073425023897317347</id><published>2008-06-11T00:23:00.001+07:00</published><updated>2008-06-11T00:26:51.715+07:00</updated><title type='text'>Memahami Dusta dan Kebenaran dalam Sastra</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;Oleh: Herwan FR&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:16;" lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:16;" lang="IN" &gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sebagaimana kita pahami bersama, bahwa selain sebagai dunia rekaan (bukan nyata) dan sebagai dunia refleksi, sastra ternyata juga bisa dikatakan sebagai sebuah dusta. Sastra adalah dusta di dalam dirinya. Dikatakan demikian, lantaran sastra dapat menjadi 'kebenaran' melalui 'pembenaran-pembenaran' yang terjadi secara individual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kebenaran dan dusta itu tak ada satu pun prosedur yang memungkinkannya menjadi 'kebenaran' atau 'dusta' massal atau kolektif. Semua bisa terjadi dalam dunia kemungkinan, sebagaimana semua pihak dapat menerima atau menolaknya melalui standar pribadi yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulannya, dusta dan kebenaran dalam sastra memang tak terbatas, keduanya sedemikian rupa bias bercampur bagai molekul yang saling melarut. Ketika sastra diminta atau dipaksa mendesakkan dunia rekaannya pada pihak lain, ia berhenti menjadi seni. Mungkin ia berubah menjadi slogan, propaganda, agama, sains, atau ideologi. Dan sastra, tak berdaya untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Kebenaran dan Dusta dalam Sastra&lt;/i&gt;, Radhar Panca Dahana menulis, bahwa jika hal di atas terjadi, maka sastra akan bernasib seperti kotak mainan anak, ia akan tergeletak di pojok, di atas lemari baju, atau teronggok di balik etalase barang elektronik; lusuh dan berdebu, terlupakan, tak terbeli. Begitu lemahkah sastra? Demikian kira-kira Radhar kembali bertanya. Sebuah pertanyaan yang kembali membutuhkan jawaban idealistis, mitologis, romantis atau kadang-kadang terlalu dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pertanyaan itu tidak bergema dan bergayut sekalipun, pertanyaan atas posisi sastra akan senantiasa ada, tak pernah berhenti, tak pernah tuntas, dan tak pernah ada simpulan, penyelesaian, atau batasan-batasan definitifnya. Semua sekadar catatan bahwa manusia memang menjalani sebuah proses untuk menemukan dirinya sendiri, menyempurnakan pemahaman-pemahaman atas dunia, menempatkan posisi yang labil di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan pertanyaan-pertanyaan itu senantiasa berulang dan tujuan sebenarnya adalah untuk menemukan manusia yang ternyata selalu hilang (dalam setiap perubahan zamannya). Semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt; Dunia imajinasi yang ditata dalam karya sastra adalah semesta yang menghimpunnya tak hanya 'kesadaran akal' namun juga 'kesadaran batin' dan 'kesadaran badan'. Dunia empirik yang ada padanya tak dapat dijelaskan oleh kategori sehari-hari yang kita pahami, sebagaimana pengalaman batin dan badan takkan pernah mampu kita jelaskan secara menyeluruh. Karakter inilah yang membedakan karya sastra dari produk laboratorium, karya jurnalistik, telaah sejarah, atau penyusunan biografi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, seorang pembaca hendaknya memiliki ancang-ancang sendiri untuk menghadapi karya sastra, karena sekali lagi --semua bergulir dalam satu pusat yang tak terhindarkan: rekonstitusi dan rekonstruksi manusia serta efek-efek lain yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kiranya, pemikiran tentang rekonstruksi manusia serta efek-efek yang ditimbulkannya itu --serta gagasan menarik dari Radhar Panca Dahana tentang kebenaran dan dusta dalam sastra-- akan menjadi menarik apabila lebih dikaji dalam suatu objek kajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali juga merupakan sebuah objek kajian yang menggelitik, bila kita melirik kembali rekonstruksi sebuah naskah sejarah menjadi karya sastra, misalnya --naskah &lt;i&gt;Perang Bubat&lt;/i&gt;. Naskah sejarah Perang Bubat merupakan satu contoh bentuk naskah sejarah yang bisa kita lihat, telah banyak mengalami rekonstruksi dari pengarang dalam wilayah kultur berbeda, antara pengarang berasal dari kultur sosial Jawa dan Sunda masih merupakan satu kajian yang tak pernah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naskah &lt;i&gt;Perang Bubat&lt;/i&gt; sebagai bentuk naskah sejarah ini jelas menjadi naskah karya sastra manakala di dalamnya telah terjadi rekonstruksi oleh pengarang melalui wacana dialog tokoh-tokohnya yang tidak pernah tercatat dalam sejarah. Hal ini sebagaimana yang terjadi dalam bentuk naskah-naskah lain, semisal dalam naskah &lt;i&gt;Ken Arok - Ken Dedes&lt;/i&gt;-nya Pramoedya. Namun, rekonstruksi seperti itu jelas berbeda dengan rekonstruksi naskah yang berbau sejarah seperti &lt;i&gt;Rumah Kaca, Bumi Manusia&lt;/i&gt;, atau lain-lainnya yang kemudian direkonstruksi menjadi sebuah karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksi naskah &lt;i&gt;Perang Bubat&lt;/i&gt; menjadi menarik karena di dalamnya melibatkan berbagai aspek emosi atas pembelaan terhadap sebuah ras, kesukuan dalam dua kultur: Sunda dan Jawa. Dan sebagaimana kita maklumi juga, bahwa dua kubu suku ini telah mengalami 'keretakan' secara latar sosialnya --karena persoalan yang pernah ditimbulkan dalam Perang Bubat itu sendiri sebagai sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian hadir berbagai persoalan khususnya yang menyangkut posisi sebuah karya sastra itu sendiri di tengah rekonstruksi yang demikian, juga tanggung jawab seorang pengarang, dan kesiapan seorang pembaca, apakah masih menganggap naskah seperti itu sebagai karya sastra manakala di dalamnya terjalin rangkaian dialog antartokohnya sebagai hasil rekonstruksi pengarang, serta posisi 'dusta' dan 'kebenaran' yang bukan lagi bergerak dalam batas-batas realitas antara sesuatu yang bersifat empiris dan imajis, melainkan sudah melibatkan aspek-aspek subjektivitas pengarang dengan segala bentuk konsekuensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah kita mulai memahami, bahwa karya sastra bisa menjadi dusta dan kebenaran. Di sini pula kita mulai memahami bahwa 'dusta' yang sesungguhnya adalah 'dusta' hasil rekonstruksi seorang pengarang dari naskah sejarah ke karya sastra, walau sekali lagi --secara garis besar cerita-- tidak beranjak dari kebenaran peristiwa sejarah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekonstruksi naskah sejarah ke sastra dipandang sebagai sebuah 'dusta', manakala aspek-aspek individualisme, bahkan --komunalisme-- telah berlaku di dalamnya. Di situ kita memahami bagaimana posisi 'kebenaran' naskah sebagai sejarah yang diyakini kebenarannya, dan bagaimana posisi 'dusta' dalam naskah sejarah itu sendiri yang telah mengalami rekonstruksi. Sebuah 'dusta' yang sesungguhnya berada di luar keberadaan sebuah karya sastra karena terkait dengan latar belakang pengarang. Dan seorang pembaca, kiranya perlu untuk tahu keberadaan posisinya, bukan hanya berpegangan pada aspek-aspek individual atau komunal. Sebuah kajian yang tentunya memerlukan ruang tersendiri sebagai satu penelitian yang belum tuntas. n penulis adalah penyair dan eseis, tinggal di bandung.&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-6073425023897317347?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/6073425023897317347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=6073425023897317347' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/6073425023897317347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/6073425023897317347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/memahami-dusta-dan-kebenaran-dalam.html' title='Memahami Dusta dan Kebenaran dalam Sastra'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-6237559056354241625</id><published>2008-06-11T00:13:00.001+07:00</published><updated>2008-06-11T00:17:43.740+07:00</updated><title type='text'>Mau ke Mana Pendidikan Dasar Kita?</title><content type='html'>&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;MUNGKIN kita perlu bersyukur karena hampir semua anak Indonesia telah memperoleh akses pendidikan dasar. Meski demikian, kita juga perlu mawas diri. Dalam rangka mawas diri inilah, saya tidak tahu kita harus menangis atau tertawa jika menengok aneka indikator yang tersedia untuk dikaji.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Salah satu komponen Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yaitu Rata-rata Lama Pendidikan, menunjukkan angka- angka yang kurang membanggakan, terutama setelah merdeka lebih dari setengah abad. Angka tertinggi dimiliki Jakarta (9,7 atau setara dengan lulus SLTP), terutama Jakarta Selatan (10,0 atau setara dengan kelas I SMA), dan terendah adalah Nusa Tenggara Barat (5,2 atau setara dengan kelas V SD) dan Kota Sampang, Jawa Timur (2,5 atau tidak sampai kelas III SD). Apa sebabnya? Setelah lebih dari 60 tahun pendidikan nasional pascapenjajahan, generasi dengan lama pendidikan 0-10 tahun seharusnya sudah berganti dengan mereka yang memperoleh akses lebih baik. Mari kita memeriksa dua indikator penting sebagai berikut&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Akses terhadap pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akses terhadap pendidikan memberikan informasi kepada publik tentang berapa banyak anak kita yang dapat memanfaatkan fasilitas pendidikan yang dibangun oleh pemerintah dan masyarakat. Indikator yang digunakan adalah: Angka Partisipasi, Angka Mengulang, Angka Putus Sekolah, Angka Kelulusan, Angka Melanjutkan, dan Angka Penyelesaian. Angka-angka ini bersumber pada data Depdiknas 2002. Di tingkat sekolah dasar (SD/MI) hampir semua indikator cukup memuaskan. Angka Partisipasi tahun 2002 cukup tinggi (APM: 94,04; APK: 113,95; dan APS: 98,53), berarti hampir semua anak usia 7-13 tahun tertampung di sekolah. Angka Mengulang (5,4 persen) dan Angka Putus Sekolah (2,7 persen) cukup rendah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Persoalan timbul ketika kita mengamati Angka Menyelesaikan (tepat waktu) dan Angka Melanjutkan. Meski kebanyakan anak yang melanjutkan ke SD/MI akan lulus, tetapi hanya sekitar 71,8 persen yang berhasil menyelesaikan sekolah tepat waktu (enam tahun). Angka Melanjutkan juga amat mengkhawatirkan, karena hanya separuh (51,2 persen) yang akhirnya melanjutkan ke SMP/MTs.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Angka Partisipasi di SMP/MTs dan tingkat selanjutnya amat dipengaruhi Angka Menyelesaikan dan Angka Melanjutkan yang relatif rendah. Di tingkat SMP/MTs, Angka Partisipasi 2002 cukup tinggi (APM: 59,18; APK: 77,44; APS: 77,78) dan Angka Mengulang (kurang dari 0,5 persen untuk semua kelas) dan Angka Putus Sekolah (3,5 persen) juga cukup rendah. Sekali lagi yang mengganggu adalah Angka Menyelesaikan karena hanya 45,6 persen yang sanggup menyelesaikan sekolah tepat waktu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Kualitas pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagai bangsa yang menyongsong kemajuan Iptek yang amat pesat, kita masih harus berkutat dengan kualitas pendidikan. Terlepas dari kesahihan standar kualitas dalam Ujian Nasional, hasil yang diperoleh adalah baik di tingkat SD/MI maupun SMP/MTs menunjukkan kurang dari 60 persen dari materi belajar yang dikuasai siswa. Ini amat merisaukan. Jika standar kualitas itu digunakan untuk menilai kualitas sekolah di tingkat SMP/ MTs, maka hanya 24,12 persen SMP/MTs yang masuk kategori "sedang" ke atas. Di antara mereka hanya 0,03 persen yang tergolong "baik sekali" dan 2,14 persen tergolong "baik".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jika rasio guru : siswa (1 : 23) dan siswa : kelas dijadikan salah satu tolok ukur kualitas, maka kesan yang diperoleh adalah standar mutu telah dipenuhi. Meski demikian, pengamatan di lapangan menunjukkan distribusi guru dan kelas memang tidak merata, terutama antara kota dan desa. Selain itu, untuk semua provinsi masih ada sekolah-sekolah SD/MI maupun SMP/ MTs yang harus melakukan jam masuk sekolah ganda (double shift) karena kekurangan ruangan. Ketersediaan Laboratorium IPA, Bahasa, dan IPS baru dinikmati 68 persen dari sekolah SMP/MTs yang ada meski tanpa ada informasi tentang kelayakan fasilitas yang ada. Kualitas fisik yang digunakan sebagai tolok ukur adalah kerusakan atau kelayakan ruang kelas. Data menunjukkan, kurang dari separuh (42,82 persen) fasilitas ruang kelas SD/MI berkategori "baik" dan pada tingkat SMP/MTs 85,78 persen dalam kategori itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kualitas guru sudah menjadi perhatian nasional. Kriteria kualitas ditentukan dengan prasyarat pendidikan, yaitu D2 untuk mengajar di SD/MI dan D3 untuk SMP/MTs. Berdasarkan kriteria itu, hanya 49,9 persen guru SD/MI dan 66,33 persen guru SMP/MTs yang memenuhi standar kualitas. Sayang, standar kompetensi bidang pelajaran fakultatif tidak tersedia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akses terhadap buku pelajaran wajib merupakan tolok ukur kualitas yang penting. Pada tingkat SD akses terhadap buku adalah 75 persen untuk bidang studi Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Angka akses terhadap buku menyembunyikan keragaman antarprovinsi. Dari data yang tersedia masih ada kesenjangan dalam akses terhadap buku wajib yang berkisar dari 38,8 persen sampai 99,3 persen (persentase penyediaan buku yang paling rendah adalah buku IPA).&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mencari solusi&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Rata-rata akses terhadap buku pelajaran wajib pada tingkat SLTP sebesar 70 persen dengan kesenjangan berkisar dari 37,6 persen sampai 99,5 persen. Dari data yang ada, penyediaan buku-buku IPA, Fisika, dan Biologi masih terbatas. Selain akses, mutu dari isi pelajaran juga mungkin bermasalah. Menurut analisis Sri Redjeki (1997), sebagai contoh, ditemukan isi buku-buku teks biologi SD-SLTA di Indonesia tertinggal 50 tahun, begitu pula dengan buku teks geografi SLTP yang menunjukkan banyak informasi yang disajikan sudah usang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Solusi yang baik berawal dari pengetahuan yang baik atas masalah. Data-data itu tersedia di lingkungan departemen. Artinya, semua birokrat pendidikan tahu masalah dalam angka itu. Meski demikian, ada aneka masalah lain yang diketahui, tetapi tak pernah dijadikan kajian serius dalam policy making. Misalnya, kita tahu dengan subsidi pemerintah, masyarakat mampu menyekolahkan anak ke SD meski masih banyak yang terseok-seok karena biaya yang dipaksakan, yaitu buku pelajaran nonterbitan Depdiknas, seragam, sepatu, serta transportasi dan makanan (jajan) untuk anak. Pada tingkat SLTP, biaya jauh lebih besar. Persoalan ini klasik, tetapi solusi tak ada yang signifikan. Orangtua masih dipermainkan sekolah yang tidak menggunakan buku terbitan Depdiknas, membeli seragam dan membayar ongkos transpor dan makanan anak sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hal lain yang juga diketahui adalah pengelolaan pendidikan di Indonesia dilakukan Depdiknas dan departemen lain, khususnya Departemen Agama. Investasi pada sekolah di kedua departemen ini amat berbeda sehingga menciptakan kesenjangan mutu. Kita tahu sekolah-sekolah berbasis agama di bawah Departemen Agama banyak dilakukan dalam skala amat kecil sehingga anak tidak terjamin kelanjutan studinya. Masalah ini diketahui, tetapi jarang dibahas karena sensitif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita juga tahu banyak sekolah SD yang rusak dan tidak layak pakai, tetapi aneka keluhan bagai teriakan di padang pasir. Penyebabnya jelas, tanggung jawab pembangunan ada di tingkat kabupaten (Depdagri melalui kantor dinas). Selain persoalan korupsi, tidak semua pemerintah lokal mempunyai komitmen yang tinggi pada sektor pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita sadar mutu pendidikan amat ditentukan kualitas dan komitmen guru, tetapi kita tidak dapat melawan kehendak zaman yang kian alergi dengan sekolah keguruan, IKIP, atau FKIP. Profesi guru menjadi tidak menarik di banyak daerah karena tidak menjanjikan kesejahteraan finansial dan penghargaan profesional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kita tahu untuk memperbaiki sistem pendidikan dasar secara menyeluruh diperlukan komitmen tinggi masyarakat dan pemerintah. Masalah ini sering menjadi wacana politik dan tetap tinggal sebagai wacana seperti dalam grafik berikut. (grafik)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dibandingkan dengan negara-negara serumpun, komitmen Indonesia sampai tahun 1999- 2001 adalah yang terendah. Kenyataan ini sudah lebih dari dua dasawarsa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menghadapi semua masalah yang seharusnya dapat diatasi satu per satu secara serius, kita justru sibuk mengutak-atik kurikulum, "bermain-main" dengan Ujian Nasional, bereksperimen dengan sistem pengelolaan sekolah, sibuk dengan menata kembali peristilahan, dan mengacuhkan berbagai persoalan yang jelas-jelas ada di depan mata. Padahal, semua yang kita lakukan memerlukan sumber daya yang tidak sedikit yang akan lebih baik dialokasikan untuk menyelesaikan hal-hal yang lebih mendasar dulu. Dalam menyaksikan berbagai gebrakan Depdiknas, kita bertanya: Mau dibawa ke mana anak- anak kita? Jika pendidikan dasar dikelola seperti ini, sepuluh tahun lagi angka-angka yang sama akan kita jumpai. Semoga tidak demikian!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: georgia;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Irwanto, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dosen Fakultas Psikologi, Ketua Lembaga Penelitian Unika Atma Jaya, Jakarta&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-6237559056354241625?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/6237559056354241625/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=6237559056354241625' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/6237559056354241625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/6237559056354241625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/mau-ke-mana-pendidikan-dasar-kita.html' title='Mau ke Mana Pendidikan Dasar Kita?'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-8001073897362745713</id><published>2008-06-10T23:43:00.005+07:00</published><updated>2008-06-11T00:04:52.353+07:00</updated><title type='text'>Hermeneutik</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Oleh : Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ABSTRAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutik yang dalam istilah sehari-hari diartikan sebagai interpretasi atau penafsiran, pada awalnya merupakan metode penelitian dalam human sciences. Penerapan hermeneutik dalam human sciences ini diawali oleh F. Schleiermacher dan W. Dilthey, yang kemudian dikembangkan lagi oleh beberapa pemikir sesudahnya seperti Heidegger dan Gadamer. Dalam makalah ini akan ditunjukkan bahwa di dalam sejarah perkembangannya, ilmu-ilmu alam atau natural science - yang berkaitan erat dengan scientific method, objectivity, dan rationality - juga melibatkan unsur-unsur hermeneutik. Beberapa teori dalam ilmu-ilmu alam, misalnya dalam fisika kuantum dan kosmologi, sebenarnya perupakan hasil interpretasi-interpretasi para ilmuwan yang dalam sejarahnya dapat digantikan oleh interpretasi-interpretasi baru atau yang oleh Kuhn disebut sebagai pergeseran paradigma dalam ilmu pengetahuan. Dalam makalah ini akan diuraikan perkembangan pengertian hermeneutik, dilanjutkan dengan diskusi keberadaan hermeneutik dalam ilmu-ilmu alam, termasuk pergeseran paradigma Kuhn, dan diakhiri dengan uraian ringkas beberapa penemuan atau teori dalam ilmu alam yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang dimaksud dengan hermeneutik? Mengapa hermeneutik ditawarkan sebagai salah satu metode penelitian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan atau ilmu sosial?  Apakah hermeneutik juga berlaku dalam ilmu-ilmu alam? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang akan dicoba dijawab dalam makalah ini, dengan penekanan pada pertanyaan terakhir, yang sebenarnya secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa metode penelitian ilmiah atau scientific method memiliki keterbatasan-keterbatasan sehingga dalam situasi dan kondisi tertentu para ilmuwan terpaksa menggunakan interpretasi untuk menjelaskan fenomena alam tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Dalam masa Aufklarung atau Zaman Pencerahan beberapa tokoh filsafat seperti Auguste Comte, Ernst Mach, dan para filsuf dalam Vienna Circle, berpendapat bahwa tidak perlu ada perbedaan metode penelitian atau pendekatan dalam kedua kelompok ilmu pengetahuan tersebut. Kesuksesan pendekatan (metode) ilmiah dalam ilmu-ilmu alam yang berhasil menjelaskan gejala-gejala alam sampai menjadi teknologi, diyakini akan dapat diperoleh juga jika diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Pandangan atau aliran semacam ini disebut aliran positivisme. Dalam perkembangannya, usaha penerapan metode ilmiah ilmu-ilmu alam dalam ilmu-ilmu sosial menimbulkan masalah, bukan saja dari segi keilmuan, tetapi juga segi kemanusiaan. Masalah inilah yang akhirnya memunculkan metode-metode alternatif dalam ilmu-ilmu sosial, yang salah satunya adalah hermeneutik atau penafsiran atau interpretasi.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu alam berkembang sangat cepat. Dalam fisika misalnya, teori atau gagasan 50 tahun yang lalu jauh berbeda dengan teori atau gagasan 100 tahun yang lalu. Gagasan mekanika Newton berbeda dengan gagasan mekanika Kuantum. Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions, yang terbit tahun 1963, menyebutkan bahwa dalam ilmu alam terjadi revolusi, yaitu perubahan dari paradigma lama ke paradigma baru yang begitu signifikan dalam waktu yang singkat, misalnya paham geosentris digantikan oleh paham heliosentris.[*] Perubahan-perubahan yang cepat dalam ilmu-ilmu alam ini menimbulkan pertanyaan pertanyaan. Apakah teori atau pemahaman baru diartikan lebih objektif daripada teori atau pemahaman lama? Benarkah objektivitas masih merupakan salah satu ciri dalam ilmu alam?.[2] Dalam makalah ini, dengan bantuan beberapa contoh nyata perkembangan dalam ilmu-ilmu alam, ditunjukkan bahwa metode pendekatan hermeneutik yang sebenarnya pada awal mulanya bahkan ditujukan untuk melawan paham positivisme, juga terdapat dalam ilmu-ilmu alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan Pengertian Hermeneutik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah hermeneutik mencakup dua hal, yaitu seni dan teori tentang pemahaman dan penafsiran terhadap simbol-simbol baik yang kebahasaan maupun yang non-kebahasaan. Pada awalnya hermeneutik digunakan untuk menafsirkan karya-karya sastra lama dan kitab suci, akan tetapi dengan kemunculan aliran romantisme dan idealisme di Jerman, status hermeneutik berubah. Hermeneutik tidak lagi dipandang hanya sebagai sebuah alat bantu untuk bidang pengetahuan lain, tetapi menjadi lebih bersifat filosofis yang memungkinkan adanya komunikasi simbolik. Pergeseran status ini diawali oleh pandangan Friedrich Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey. Sekarang, hermeneutik tidak lagi hanya berkisar tentang komunikasi simbolik, tetapi bahkan memiliki area kerja yang lebih mendasar, yaitu kehidupan manusia dan keberadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Friedrich Schleiermacher, terdapat dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis. Aspek gramatikal interpretasi merupakan syarat berpikir setiap orang, sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang memahami pribadi penulis. Oleh karenanya, untuk memahami pernyataan-pernyataan dari pembicara, seseorang harus mampu memahami bahasanya sebaik ia memahami kejiwaannya. Semakin lengkap pemahamam seseorang atas sesuatu bahasa dan latar belakang psikologi pengarang, maka akan semakin lengkap pula interpretasinya terhadap karya pengarang tersebut. Kompetensi linguistik dan kemampuan memahami dari seseorang akan menentukan keberhasilannya dalam bidang seni interpretasi. Namun, pengetahuan yang lengkap tentang kedua hal tersebut kiranya tidak mungkin, sebab tidak ada hukum-hukum yang dapat mengatur bagaimana memenuhi kedua persyaratan tersebut.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaitu rekonstruksi historis, objektif dan subjektif terhadap pernyataan. Melalui rekonstruksi objektif-historis, ia bermaksud membahas sebuah pernyataan dalam hubungannya dengan bahasa sebagai keseluruhan. Melalui rekonstruksi subjektif-historis, ia bermaksud membahas awal mula sebuah pernyataan masuk ke dalam pikiran seseorang. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri. Jika diterapkan dalam bidang sains, sebagai contoh, untuk memahami teori relativitas Einstein, maka sebaiknya kita juga berusaha mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi pemikiran Einstein tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik, yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks, dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. Dengan demikian, untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya, termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Hal ini juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilhelm Dilthey (1833-1911) membedakan ilmu pengetahuan ke dalam Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia.  Perbedaan ini sangat penting karena pada kenyataannya kedua jenis ilmu pengetahuan tersebut mempergunakan metodologi atau pendekatan yang berbeda. Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam menggunakan metode ilmiah yang hasil penemuannya dapat dibuktikan dengan menggunakan metode yang sangat ketat, sedangkan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia atau tentang hidup tidak dapat diterapi dengan metode ilmiah seperti halnya pada Naturwissenschaften karena ilmu-ilmu Geisteswissenschaften berhubungan dengan hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilthey menyatakan bahwa metode atau pendekatan hermeneutik merupakan dasar dari Geisteswissenschaften. Ia tertarik pada metode hermeneutik ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu manusia menjadi ilmiah. Persoalan pokok Dilthey adalah bagaimana menemukan metode lain untuk Geisteswissenschaften jika metode ilmiah tidak dapat digunakan. Dari sinilah ia mulai melirik hermeneutik sebagai metode untuk pembahasan Geisteswissenschaften.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang ilmuwan bidang sains, yang dapat menjadi objek penelitian objektif dan ilmiahnya adalah benda-benda yang berada dalam dunia fisik, sedangkan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang bertalian dengan individu hanya dapat dipahami dan diinterpretasikan. Menurut Dilthey, terhadap benda-benda di alam kita hanya mampu "mengetahui", sedangkan terhadap manusia kita mengunakan "pemahaman" dan "interpretasi" untuk "mengetahui" manusia.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan akhir dari pendekatan hermeneutik adalah kemampuan memahami penulis atau pengarang melebihi pemahamanm terhadap diri kita sendiri.  Seorang sejarawan yang menuliskan segala peristiwa sejarah, tidak jauh dari zaman di mana ia hidup, tidak akan mempunyai pandangan yang lebih jernih jika dibandingkan dengan sejarawan yang hidup sekian abad sesudahnya. Namun pandangan semacam ini dapat juga dianggap keliru. Sejauh prasangka dan keikutsertaan penulis yang bersifat subjektif dijauhkan, maka ia dapat melihat segala peristiwa dalam kebenarannya yang objektif atau sebagaimana mestinya terjadi. Dalam pendekatan hermeneutik, seseorang menempatkan dirinya dalam konteks ruang dan waktu, maka visinya juga mengalami berbagai macam perubahan. Ia menggunakan apa saja yang mungkin untuk ditafsirkan. Ini berbeda dengan metode ilmiah yang lebih mementingkan fenomena.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1927, dalam karyanya Sein und Zeit (Being and Time), Martin Heidegger memberikan pengertian baru tentang hermeneutik. Menurut Heidegger, hermeneutik bukanlah mengenai pemahaman komunikasi linguistik, juga bukan merupakan basis dari metodologi bagi ilmu-ilmu tentang kehidupan manusia atau geisteswissenschaften, tetapi hermeneutik lebih merupakan ontologi.[†] Heidegger berpendapat bahwa tugas dari filsafat adalah untuk menunjukkan bagaimana subjek dapat secara rasional memberikan aturan-aturan epistemologi di mana sebuah representasi dikatakan sebagai benar atau salah. Dari suatu posisi tertentu, jalan ke konsepsi tentang kebenaran tidaklah jauh dikaitkan dengan metode yang disediakan oleh metode ilmu-ilmu alam. Model yang seperti ini cenderung melupakan aspek yang paling mendasar, aspek pre-scientific keberadaan manusia di dunia. Inilah yang menjadi ruang lingkup kerja hermeneutik menurut Heidegger. Hermeneutik, atau yang oleh Heidegger disebut hermeneutics of facticity, adalah apa yang oleh filsafat dijadikan hal yang paling utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang berjudul Truth and Method (1960), Hans-Georg Gadamer, yang merupakan murid dari Martin Heidegger, membahas mengenai masalah hermeneutik yang dikemukakan oleh Schleiermacher dan Dilthey dengan menggunakan metode yang disajikan oleh Heidegger dalam bukunya Being and Time. Menurut Gadamer, human sciences selalu berusaha mendekati teks dari suatu posisi yang dijaga berjarak dari teks itu sendiri, yang disebut alienation, yang menghapuskan ikatan-ikatan yang sebelumnya telah dimiliki oleh interpreter dengan objek yang sedang diinterpretasikan. Menurut Gadamer, jarak tersebut dapat diatasi dan ikatan-ikatan tersebut dapat dibangun kembali (re-fusion) melalui mediasi kesadaran akan efek historis (consciousness of the effects of history).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide dasar yang disampaikan oleh Gadamer adalah bahwa pendekatan kita terhadap sebuah fenomena historis (karya seni, karya sastra, teks, dan lain-lain) telah ditentukan lebih dulu oleh pemahaman awal (pre-understandings) dari interpreter-interpreter sebelumnya. Jadi, dengan melepaskan ikatan-ikatan kita sendiri terhadap objek, dan menggantinya dengan hasil interpretasi dari para interpreter sebelumnya, maka kita telah berada pada suatu jaringan interpretasi (interpretational lineage). Dan melalui kesadaran akan efek historis ini, dua titik yang semula terpisah, yaitu subjek dan objek, menjadi tersatukan menyeluruh. Proses ini oleh Gadamer dinamakan fusi horizon (fusion of horizons).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadamer menggolongkan dialektik antara alienation dan re-fusion dalam tiga bidang lingkaran yang berbeda, yaitu estetis, historis, dan bahasa. Dalam masing-masing bidang lingkaran ini, Gadamer menyatakan bahwa kebenaran muncul dari fusi interpreter, dengan segala prasangka awal dan informasi personal yang dimilikinya. Tidak ada satu interpretasi pun yang dapat diklaim sebagai benar; tetapi semua interpretasi, dalam maksud tertentu adalah benar. Sebagai contoh, ketika WS. Rendra membacakan karya puisinya, maka tidak dapat kita katakan pembacaan puisi WS. Rendra tersebut "benar" atau "salah". Yang dapat terjadi adalah bahwa fusi WS. Rendra dan fusi karya puisi tersebut muncul bersama-sama dalam penampilan pembacaan puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutik dalam Ilmu Alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu-ilmu alam - misalnya fisika, biologi, dan kimia - aspek historis, tradisi, dan budaya seringkali tidak diperhitungkan dalam analisis teori-teori dan penjelasannya.[7]  Para ilmuwan cenderung menggunakan pendekatan formal dalam bidang ilmunya, meyakini bahwa ilmu alam adalah metodologi yang singular, yang akan membawa kita pada hasil yang objektif dan realistik terhadap pengamatan suatu fenomena. Pandangan ini merupakan pandangan para penganut positivisme, yang diperkuat oleh penemuan-penemuan dalam ilmu alam yang berhasil menyingkap banyak fenomena-fenomena alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian dalam perkembangannya, muncul beberapa pandangan filosofis mengenai ilmu alam yang sedikit berubah dan rumit. Sejumlah pertanyaan filosofis yang cukup penting berkisar pada isu tentang perubahan keilmiahan (scientific change). Adakah suatu pola yang jelas terhadap cara gagasan-gagasan ilmiah berubah dari waktu ke waktu? Kapankah ilmuwan memutuskan meninggalkan teori lama ketika muncul teori yang baru? Apakah teori-teori yang baru secara objektif lebih baik dibandingkan teori-teori yang lama? Atau apakah konsep objektivitas masih tetap relevan? Sebagai contoh, apakah dengan adanya mekanika kuantum, maka lalu mekanika Newton kemudian ditinggalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi paling modern yang mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah yang diberikan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions pada tahun 1963.  Kuhn berargumentasi bahwa ilmu alam bukanlah suatu metodologi yang singular, tetapi beragam disiplin yang kompleks yang tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan konteks sosial. Menurut Kuhn, kurangnya perhatian para ilmuwan terhadap sejarah ilmu alam menyebabkan mereka - para penganut positivisme - membentuk perspektif kegiatan ilmiah yang tidak akurat dan naif.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti judul buku yang ditulisnya, Kuhn sangat tertarik dengan apa yang ia sebut sebagai revolusi ilmiah atau revolusi ilmu pengetahuan (scientific revolutions) - yaitu suatu periode ketika suatu teori lama digantikan oleh suatu teori baru yang cukup berbeda atau revolusioner. Contoh revolusi ilmu pengetahuan adalah kemunculan teori Copernicus tentang tata surya yang menggantikan teori Ptolomeus, mekanika Newton yang menggantikan mekanika Kartesian, dan teori relativitas Einstein serta teori kuantum yang menggantikan mekanika Newton untuk "dunia yang sangat besar' dan "dunia yang sangat kecil".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan-perubahan dalam ilmu pengetahuan ini tidak lain adalah perubahan-perubahan interpretasi para ilmuwan terhadap fenomena alam yang dihadapinya. Sebelum sebuah interpretasi baru diterima sebagai pengganti interpretasi lama, maka interpretasi baru tersebut akan diuji dengan sangat kritis. Sebagian besar pengujian bukan difokuskan pada bagaimana latar belakang dan metode dari interpretasi baru tersebut, melainkan pada apakah interpretasi baru ini bisa menjelaskan fenomena alam dengan lebih memuaskan atau tidak (memiliki ruang lingkup yang lebih luas). Sebagai gambaran yang sudah sangat populer, ketika Newton menyaksikan buah apel jatuh dari pohonnya, Newton memberikan hipotesis bahwa ada gaya gravitasi yang bekerja antara dua buah benda. Para ilmuwan tidak mempedulikan cara Newton yang hanya dengan melihat buah apel jatuh saja bisa sampai pada hipotesis itu. Contoh lainnya, ilmuwan Belgia bernama Kekule, pada tahun 1865 menyatakan bahwa molekul benzena memiliki struktur heksagonal setelah ia bermimpi tentang ular yang sedang menggigit ekornya sendiri. Yang kemudian diuji oleh para ilmuwan lain adalah kebenaran struktur heksagonal tersebut, bukan kebenaran dari mimpi Kekule itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi ilmu pengetahuan relatif tidak sering terjadi. Sebagian besar sejarah ilmu pengetahuan diisi oleh apa yang oleh Kuhn disebut sebagai "normal science", yaitu kegiatan para ilmuwan hari demi hari. Dalam keseharian para ilmuwan, mereka memiliki apa yang oleh Kuhn disebut paradigma, yaitu sekumpulan asumsi teoretis yang fundamental yang diterima atau disepakati oleh kalangan ilmuwan pada saat itu. Paradigma juga dapat diartikan sebagai jawaban-jawaban yang diberikan oleh para ilmuwan akan berbagai pertanyaan ilmiah, yang didasarkan pada asumsi-asumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paradigma menjadi semacam arah bagi para ilmuwan dalam normal science untuk mencari paradigma baru yang lebih cocok dengan fenomena yang menjadi objeknya. Aktivitas ilmuwan dalam normal science membawa mereka pada penemuan tentang ketidaksesuaian dan anomali suatu paradigma, sehingga paradigma tersebut perlu diperbaiki. Meskipun kesesuaian antara paradigma dengan objek fenomena alam tidak pernah sempurna - selalu terdapat hal yang tidak dapat dijelaskan oleh paradigma tersebut - tetapi para ilmuwan tidak menolak atau meninggalkan paradigma yang berlaku tersebut. Mereka menyebut ketidakcocokan tersebut sebagai rintangan (obstacle) yang dapat diatasi tanpa harus meninggalkan paradigma yang ada. Pada suatu saat akan terjadi krisis di mana sebuah paradigma baru yang benar-benar berbeda yang dapat menjelaskan ketidaksesuaian dan anomali paradigma lama yang diajukan untuk melawan paradigma lama. Dalam krisis ini - yang oleh Kuhn diibaratkan dengan krisis politik - tidak ada bukti-bukti logis yang dapat menyelesaikan peperangan antarparadigma tersebut. Dengan kata lain, pendapat Kuhn tersebut menyebabkan science menjadi irasional, subjektif, dan relatif. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan uraian di atas mungkin akan muncul pertanyaan: bagaimana dengan perbedaan antara Naturwissenscaften atau ilmu-ilmu alam dan Geistesswissenscaften atau ilmu-ilmu sosial yang telah dengan sangat tegas dibedakan oleh Dilthey? Peter Winch dalam bukunya The Idea of Social Science and Its Relation to Philosophy (1958) berpendapat bahwa pemisahan tersebut dapat dipahami sebagai suatu dikotomi linguistik di antara keduanya. Kuhn sendiri, dalam pengantar kumpulan artikelnya Essential Tension (1970) menyatakan: What I as a physicist had to discover for myself, most historians learn by example in the course of professional training. Consciously or not, they are all practitioners of the hermeneutic method. In my case, however, the discovery of hermeneutics did more than make history seem consequntial. Its most immediate and decisive effect was instead on my view of science.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuhn menyatakan dalam kumpulan artikel Essential Tension (1970) bahwa pengamatan-pengamatan selalu diinterpretasikan dalam konteks pengetahuan sebelumnya yang telah dimiliki. Beberapa contoh dalam sejarah ilmu pengetahuan alam menunjukkan bahwa apa yang dilihat oleh seorang pengamat tergantung pada objek yang dilihatnya dan juga pada pengalaman visual-konseptual yang telah diajarkan padanya.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1925 Heisenberg menulis sebuah artikel berbahasa Jerman yang menyampaikan gagasan mekanika kuantum sebagai re-interpretasi kuantum teoretis akan hubungan kinematika dan mekanika. Menurut Heisenberg, mekanika kuantum bukanlah penyelesaian baru dalam mekanika lama, tetapi mekanika baru yang sensitif terhadap intrinsic dependence objek-objek kuantum yang diukur, sesuai dengan fisika klasik daripada fisika kuantum yang baru. Re-interpretasi yang dilakukan Heisenberg ini mencontoh pada apa yang dilakukan Einstein ketika menyelesaikan masalah kontraksi panjang dan dilatasi waktu dengan melakukan re-interpretasi karakter ruang dan waktu. Apa yang dilakukan Heisenberg dan Einstein ini menunjukkan bahwa interpretasi - hermeneutik - juga terdapat dalam fisika, dan tentu saja juga dalam ilmu-ilmu eksperimental lainnya, yang memberikan kontribusi pada perspektif filosofi baru tentang fisika yang boleh jadi telah dibayangkan oleh Einstein dan Heinsenberg.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode hermeneutik yang sebenarnya menjadi salah satu metode dalam ilmu-ilmu sosial berlawanan dengan metode explanatory yang biasanya digunakan dalam ilmu-ilmu alam. Metode explanatory mengarah pada konstruksi model-model matematis dari variabel-variabel yang terukur maupun teoretis. Model-model ini dapat ditolak atau pun diterima didasarkan pada hasil-hasil percobaan yang dilakukan. Namun demikian tidak dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu sosial (atau ilmu tentang manusia) secara eksklusif bersifat interpretatif, juga tidak dapat dikatakan bahwa ilmu-ilmu alam secara eksklusif bersifat explanotary. Penggunaan metode hermeneutis dalam ilmu-ilmu alam seringkali tidak disadari oleh para ilmuwan sendiri, yang boleh jadi ini disebabkan karena begitu kuatnya keinginan ilmuwan untuk bersikap objektif dan rasional. Ilmuwan pada umumnya akan merasa malu dan bersalah jika menyampaikan suatu gagasan tanpa ada bukti-bukti empiris atau pun bukti-bukti logis. Penggunaan metode hermeneutis secara sengaja, dalam sejarahnya, hanya secara berani dilakukan oleh tokoh-tokoh ilmuwan tertentu yang memiliki karisma cukup besar di bidangnya, misalnya, Einstein yang menyampaikan interpretasi tentang cahaya yang bisa melengkung (yang pada akhirnya terbukti benar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha keras untuk mencari arti (meaning) dan pemahaman (understanding) dapat dilakukan dengan berbagai cara; metode ilmiah dalam ilmu alam bukan satu-satunya cara. Ilmu alam juga tidak dapat diklaim dapat memberikan jawaban akhir, melainkan hanya berupa pendekatan pemahaman yang lebih baik akan objek-objek alam semesta sebagai fungsi dari waktu dan usaha yang telah dilakukan.[13] Pendekatan pemahaman lama baik atau cocok untuk waktu dahulu, sedang pendekatan yang baru baik untuk waktu yang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali mengacu kepada pergeseran paradigma dalam ilmu alam sebagaimana yang disebutkan oleh Kuhn, maka dapat dikatakan bahwa terjadi diskontinuitas makna dalam ilmu alam, yaitu dari makna lama dalam paradigma lama ke magna baru dalam paradigma baru. Dalam hermeneutik, makna baru yang benar-benar berbeda tidak harus menggantikan makna lama, sebab, meskipun berbeda, mungkin keduanya valid dalam konteks historis dan budaya. Tentu saja, meskipun model formal keduanya benar-benar tidak dapat didamaikan, kita sering mendapatkan dalam ilmu alam bahwa pemahaman lama berdampingan dengan pemahaman yang baru, misalnya mekanika Newton dengan mekanika kuantum, termodinamika statistik dengan termodinamika fenomenologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa contoh berikut akan mencukupi untuk menunjukkan bagaimana ilmu alam menyertakan interpretasi atau hermeneutik di dalamnya. Dalam astronomi dan kosmologi, peranan hermeneutik sangat signifikan, dikarenakan dibandingkan dengan ilmu-ilmu lain dalam ilmu alam, objek-objek yang dipelajari oleh astronomi tidak dapat diakses melalui eksperimen langsung dan terkontrol, dan juga sulit dimanipulasi.  Dalam kosmologi kontemporer, masalah kerumitan kuantum dan berbagai parameter kosmologi seringkali menimbulkan berbagai spekulasi yang non-empiris, misalnya gagasan tentang string-theory, yaitu teori yang ingin menggabungkan mekanika kuantum dengan teori relativitas, walaupun teorinya sendiri sebenarnya sampai saat ini belum dapat disusun. Teori ini diharapkan dapat menjelaskan peristiwa apa yang terjadi sesaat setelah Big Bang (Dentuman Besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang cukup menarik adalah teori multiverse, yang memberikan kemungkinan adanya jagat raya lain di luar jagat yang kita tempati ini. Sir Martin Rees, seorang kosmologis dari Inggris, dalam suatu kesempatan wawancara menyatakan: [‡]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We can perhaps find intimations of the existence of these other universes. They may affect some detail of the quantum mechanics; there may be gravitational interaction between our universe and another separated by a few millimetres in some other dimension. One of the challenges of 21st-century physics, in my opinion, is to understand the relationship of gravity to the other forces and thereby give us a firmer picture of the initial tiny fraction of a second of our Big Bang. When we have that understanding, we will know whether our Big Bang has unique properties or whether it was part of some ensemble which could display variety. I think it will be attractive if it turns out that there is a multiverse allowing a variety of big bangs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang fisika, khususnya dalam mekanika kuantum, dikenal istilah interpretasi Copenhagen (Copenhagen Interpretation). Sebagai teori tentang atom, mekanika kuantum mungkin merupakan teori yang paling sukses dalam sejarah ilmu alam. Mekanika kuantum memungkinkan fisikawan, ahli kimia, dan para insinyur mengembangkan berbagai teknologi baru melalui pemahaman akan objek-objek atomik. Namun demikian, teori mekanika kuantum ini juga menjadi tantangan bagi imajinasi kita. Mekanika kuantum sepertinya melanggar beberapa prinsip dasar fisika klasik yang telah cukup lama diyakini kesahihannya. Oleh karena itu, interpretasi mekanika kuantum diperlukan untuk menjelaskan pelanggaran-pelanggaran ini. Salah satu perintis interpretasi mekanika kuantum adalah interpretasi Copenhagen, yang terutama dilakukan oleh Niels Bohr, Werner Heisenberg, dan Max Born. Sebenarnya, Bohr dan Heisenberg tidak pernah secara penuh sepakat pada bagaimana memahami formulasi matematis mekanika kuantum, dan tidak satu pun dari mereka yang pernah menggunakan istilah interpretasi Copenhagen. Bohr bahkan menjauhkan dirinya dari apa yang ia sebut interpretasi subjektif Heisenberg.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ilmu alam menemui kebuntuan untuk menjelaskan satu fenomena secara formal, metode interpretasi menjadi salah satu alternatif untuk menjawabnya, walaupun sebagian besar ilmuwan yakin bahwa jawaban ini sebenarnya bukan jawaban yang memuaskan. Ketika para ahli fisika tidak dapat menjelaskan apa makna fisis simbol ψ ("psi") dalam persamaan fungsi gelombang Schroedinger, walaupun penyelesaian matematisnya bisa ditemukan. Akhirnya dilakukanlah suatu interpretasi yang menyatakan bahwa kuadrat dari ψ sebagai rapat probabilitas menemukan partikel pada posisi dan waktu tertentu[15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang biologi molekuler, genom makin sering dirujuk sebagai teks atau kode, yang selanjutnya diinterpretasikan sebagai pembeda antara satu organisme dengan organisme yang lain.[16] Genom menjadi sangat masuk akal - tetapi menimbulkan kebingungan untuk menafsirkan pada awalnya - menjadi book of life, dan menimbulkan keinginan untuk menafsirkannya lebih jauh. Kadang-kadang, genom dikaitkan dengan probabilitas ada tidaknya penyakit keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori evolusi yang diajukan oleh Darwin, masih tetap diperdebatkan apakah evolusi berkaitan dengan keyakinan keagamaan ataukah karena memang ada aturan ilmiahnya seperti yang diusulkan oleh Darwin. Karena para peneliti hanya dapat melakukan simulasi, dan tidak dapat membawa teori evolusi ke laboratorium dan diverifikasi, maka para peneliti tidak dapat menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Argumen-argumen yang ada tersebut tetap akan dalam status sebagai interpretasi di mana fakta-fakta empiris dan argumen-argumen logis dikemukakan untuk mendukung masing-masing pendapat dengan derajat kepuasan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang medis, hermeneutik juga berperan dalam praktiknya. Salah satu pendekatan hermeneutik yang mungkin dalam bidang medis melibatkan pandangan pasien sebagai teks yang harus diinterpretasikan. Meskipun pandangan ini bukan tanpa penolakan, satu cara untuk menerapkan hermeneutik ke dalam bidang kedokteran adalah dengan mengasumsikan keluhan pasien sebagai teks. Keluhan pasien kemudian diinterpretasikan melalui berbagai sumber kedua yang pada akhirnya membentuk catatan medis pasien tersebut. Metode interpretasi untuk praktik pengobatan adalah melalui rencana treatment (perlakuan). Kualitas rencana treatment ini didasarkan pada pengalaman medis sebelumnya dan pendidikan yang diperoleh oleh tenaga medis. Seiring dengan berjalannya waktu, tenaga medis tersebut dapat memverifikasi hasil interpretasinya melalui progress yang dicapai pasien. Pada akhirnya, interpretasi memungkinkan pasien mendapatkan hidup baru dari awal dengan tubuh atau jiwa yang sudah sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kesimpulan, dapat disebutkan bahwa walaupun pendekatan hermeunetik tidak begitu memuaskan para ilmuwan dalam rangka menjelaskan berbagai fenomena alam, namun ternyata pendekatan ini memiliki kontribusi yang cukup penting dalam sejarah perkembangan ilmu-ilmu alam. Pendekatan hermeneutik sebagai metode alternatif juga ikut mendukung terjadinya scientific revolution sebagaimana yang disebutkan oleh Thomas Kuhn. Ilmu-ilmu alam yang oleh penganut paham positivism dianggap sebagai ilmu pengetahuan yang benar-benar objektif, ternyata juga memiliki sedikit sifat subjektif dan tidak benar-benar terbebas dari aspek historisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[*] Paham geosentris berpendapat bahwa bumi merupakan pusat tata surya, sedangkan paham heliosentris memandang matahari sebagai pusat tata surya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[†] Ontologi atau metafisika umum adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang "sungguh-sungguh ada" (ontos on, Yunani) menurut aspeknya yang paling umum (Tjahjadi, Simon, P., Petualangan Intelektual, Penerbit Kanisius, 2004 Halaman 137)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[‡] Sir Martin Rees, dalam wawancara dengan editor Encarta, Latha Menon, dalam Microsoft Encarta Encyclopedia 2006 Edition, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Hardiman, F. Budi, Melampaui Positivisme dan Modernitas, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2003,  Halaman 22-24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Okasha, Samir, Philosophy of Science: A very Short Introduction, Oxford University Press, Oxford, 2002, Halaman 77-78.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Sumaryono, E, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Penerbit Kanisius, 1999, Halaman 41.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Grassie, William, J., "Hermeneutics in Science and Religion", Contribution to Encyclopedia of Religion and Science, Vol.1, Macmillan Reference, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Sumaryono, E, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Penerbit Kanisius, 1999, Halaman 51-54.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Sumaryono, E, Hermeneutik: Sebuah Metode Filsafat, Penerbit Kanisius, 1999, Halaman 63-64.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Heelan, Patrick, A., "After Postmodernism: The Scope of Hermeneutics in Natural Science", dalam Studies in the History and Philosophy of Science (Cambridge)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Okasha, Samir, Philosophy of Science: A very Short Introduction, Oxford University Press, Oxford, 2002, Halaman 81-84.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Bernstein, Richard, J., Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1985, Halaman 22.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Bernstein, Richard, J., Beyond Objectivism and Relativism: Science, Hermeneutics, and Praxis, University of Pennsylvania, Philadelphia, 1985, Halaman 30-31.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Malhotra, Yogesh, Role of Science in Knowledge Creation: A Philosophy of Science Perspective, BRINT Institute, 1994, (URL: http://www.kmbook.com/science.htm" title="http://www.kmbook.com/science.htm" target="_blank"http://www.kmbook.com/science... ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Heelan, Patrick, A., "After Postmodernism: The Scope of Hermeneutics in Natural Science", dalam Studies in the History and Philosophy of Science (Cambridge)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Usher, Peter, D., "Astronomy and The Canons of Hermeneutics: Mercury and Elusiveness of Meaning, dalam The Astronomy Quarterly, Vol. 3, Pachart Publishing House, Tucson, 1979.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Esfeld, Michael, "Quantum Holism and the Philosophy of Mind, dalam Journal of Consciousness Studies 6, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Wilson, Jerry, D., Buffa, Anthony, J., Physics, 3rd Ed, Prentice-Hall Inc., New Jersey, 1990, Halaman 870-871.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] Cherfas, Jeremy, The Human Genome, Dorling Kindersley, London, 2002, Halaman 28.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-8001073897362745713?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/8001073897362745713/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=8001073897362745713' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/8001073897362745713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/8001073897362745713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2008/06/hermeneutik.html' title='Hermeneutik'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-4807543419708872862</id><published>2007-08-19T06:46:00.000+07:00</published><updated>2007-08-19T06:47:12.892+07:00</updated><title type='text'>Pengembangan Kreativitas Diri</title><content type='html'>Oleh : Ahmad Ikhwan Susilo&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Semua orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah...&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Banyaknya calon mahasiswa baru yang gagal dalam SPMB menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi pihak universitas. Pasalnya, mereka bisa membuka jalur khusus di luar jalur reguler (SPMB). Dengan adanya kebijakan pemerintah melalui PP No. 61/1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Sebagai Badan Hukum, yang mengharuskan pihak perguruan tinggi untuk menjalankan otonomi, bisa dilihat mereka akan memanfaatkan peluang seperti ini. Alhasil, perguruan tinggi tersebut akan memasang tarif mahal dengan seenaknya, demi keuntungan pribadi atau perekonomian mandiri lembaga, kepada calon mahasiswa yang lebih memilih jalur ini. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Bagi mereka yang berasal dari kelas menengah ke atas tentu tak menjadi soal asal anak mereka masuk ke PTN yang diidamkan. Namun, akan lain cerita bagi mereka calon mahasiswa dari keluarga miskin yang tidak mampu. Dan pihak kampus tidak memberi banyak pilihan bagi mereka serta tidak begitu peduli dengan kemampuan ekonomi masyarakat yang terbatas ini. Begitu pun dengan PTS  yang dalam hal kualitas tidak kalah dengan PTN. Akan tetap sama masalahnya apabila biaya pendidikan sangatlah mahal. Mereka calon mahasiswa yang miskin tersebut akhirnya hanya bisa bermimpi. Pupus harapan untuk dapat mengenyam pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Kapitalisasi pendidikan telah merubah dari hakekat/tujuan awal pendidikan di negeri ini – seperti yang termaktub dalam mukadimmah konstitusi, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa – ke arah komersialisasi. Akibatnya, banyak generasi muda bangsa ini yang tidak bisa menikmati pendidikan tinggi. Jangankan untuk mengatasi permasalahan mahalnya biaya pendidikan perguruan tinggi, negara saja belum mampu menjawab persoalan mendasar pendidikan, yaitu menggratiskan pendidikan dasar sembilan tahun, seperti yang disebutkan dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 1 dan 2, bahwa; tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar, dan pemerintah wajib membiayainya.  Alih-alih pemerintah justru memberikan kebijakan yang tak bijak dengan menetapkan PTN sebagai Badan Hukum Pendidikan Milik Negara (BHPMN) yang jelas lebih berorientasi profit.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Saya optimis sebenarnya negara mampu menuntaskan segala masalah pendidikan dan membebaskan segala biaya pendidikan, malahan juga biaya kesehatan. Seperti kata Iwan Fals dalam lirik lagunya, bahwa “tugas negara adalah membebaskan biaya pendidikan dan kesehatan. Mengapa tidak? Karena kita kaya raya, baik alam maupun manusianya. Hanya saja dari dulu kita tidak pandai mengolahnya. Negara harus bisa seperti itu. Kalau tidak? Bubarkan saja!” Tentunya ini bukan sebuah pandangan yang utopis atau abstrak.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Potensi Diri&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Gagal dalam SPMB PTN bukan berarti gagal dalam melanjutkan study ke perguruan tinggi. Kita bisa lihat bahwa kualitas PTS itu tidak sepenuhnya berada di bawah PTN. Dia bisa sejajar, atau bahkan lebih baik daripada PTN. Lantas bagaimana jika gagal dua-duanya? Karena kembali lagi pada masalah awal yang mendasar, yaitu biaya kuliah yang begitu mahal. Apakah hal itu berarti kita gagal dalam segala hal dan tak mampu mewujudkan cita-cita yang kita impikan?&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Jika kita mendekonstruksi pemahaman tentang kebenaran absolut pendidikan yang selama ini masih melekat dalam pemikiran masyarakat banyak – bahwa yang namanya belajar atau mengenyam pendidikan itu cuma di sekolah – akan kita temui persepsi baru. Bahwa belajar itu bisa di semua tempat dan kita bisa berguru pada semua orang, termasuk kita berguru pada realitas. Keberhasilan dan kesuksesan masa depan seseorang tidak cukup dinilai apakah dia kuliah atau tidak. Bahkan seandainya kita kuliah pun, belum tentu kelak akan menja- min sebuah kehidupan masa depan yang lebih baik.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal ini bisa kita lihat dengan jelas, bagaimana di Indonesia sekarang ancaman pengangguran merupakan beban berat yang menggelayut di pundak kaum muda. Tiap tahun sejumlah besar pelajar dan mahasiswa harus terjebak dalam keadaan stagnan, bukannya membaktikan ketrampilan dan bakat mereka untuk kesejahteraan masyarakat, seperti menjadi teknisi, ahli mesin, guru, dan sebagainya. Tidak mengherankan apabila kaum muda ini kemudian tertarik pada tindakan-tindakan yang penuh keputusasaan. (Alan Woods, 2005) &lt;br/&gt;     &lt;br/&gt;Namun sayang, paradigma seperti ini belum mampu merubah konstruksi berpikir masyarakat tentang pendidikan. Apalagi di tengah persaingan yang go global, dimana hampir semua perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan selalu mencantumkan syarat S-1 atau minimal D-1 sebagai formalitas. Sedikit sekali diantara perusahaan-perusahaan itu yang melihat kapasitas diri seseorang, skill dan potensi yang dimiliki tanpa harus melihat background pendidikannya. Akhirnya, masyarakat pun harus tunduk pada permainan serba formal seperti ini dan masih berkubang dalam pemikiran bahwa dengan kuliah kelak akan memudahkan mencari pekerjaan.&lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Setiap orang mempunyai potensi dan bakat diri yang terpendam.Pengembangan kreativitas diri dan kerja keras itulah yang menjadi kunci. Seandainya itu bisa tergali dan dimanfaatkan, niscaya keberhasilan dan kesuksesan bisa diraih tanpa harus berpendidikan tinggi. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Pun halnya dengan kebutuhan akan ilmu pengetahuan sebagai referensi dan pengembangan diri agar mampu lebih maju dan bersaing di tengah pesatnya perkembangan jaman, bisa didapat melalui buku-buku atau pendidikan non-formal lainnya. Dengan banyak membaca buku dan sedikit berdiskusi, baik lisan maupun lewat tulisan di media, seperti halnya di prokon aktivis ini, kita akan semakin tahu tentang dunia. Seperti Tantowi Yahya bilang dalam sebuah iklan komersial, kurang membaca dekat dengan kebodohan, dan kebodohan dekat dengan kemiskinan. &lt;br/&gt;&lt;br/&gt;Hal itu sekedar beberapa contoh bagaimana mengembangkan potensi kreativitas diri demi kesuksesan dan keberhasilan di masa depan. Sekali lagi, semua itu bisa diraih tanpa harus mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Kegagalan dalam SPMB PTN atau bahkan gagal kuliah pun, bukan berarti kita gagal dalam segala hal. &lt;br/&gt;  &lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-4807543419708872862?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/4807543419708872862/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=4807543419708872862' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/4807543419708872862'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/4807543419708872862'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2007/08/pengembangan-kreativitas-diri.html' title='Pengembangan Kreativitas Diri'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-5455711511963586456</id><published>2007-06-18T16:01:00.000+07:00</published><updated>2007-06-18T16:08:17.797+07:00</updated><title type='text'>Berani Berbuat Berani Bertanggungjawab</title><content type='html'>Oleh : Ahmad Ikhwan Susilo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada satu pun yang menginginkan KTD(Kehamilan Tidak Diinginkan), tetapi kenyataannya sampai hari ini masih banyak kasus aborsi yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia((World Health Organization-WHO) pada tahun 2006 menyebutkan bahwa tingkat kasus aborsi—spontan maupun tidak spontan—yang terjadi di Indonesia paling tinggi di Asia Tenggara, mencapai 2 juta kasus dari jumlah kasus di negara-negara ASEAN yang mencapai 4,2 juta kasus per tahun. Dari estimasi data tersebut disinyalir akan terus bertambah tiap tahunnya jika tidak segera disikapi.  Sangat memprihatinkan!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus aborsi ini banyak di alami oleh ibu rumah tangga dan remaja putri(ABG) yang mengalami “kecelakaan”. Kebanyakan stigma yang beredar di kalangan masyarakat bahwa mereka yang melakukan praktek aborsi ini akibat hubungan di luar nikah. Memang inilah fakta yang sering diekspose oleh media cetak maupun elektronik. Tetapi, pada kenyataannya banyak penyebab lain yang mengakibatkan seseorang melakukan prektek aborsi. Diantaranya; kegagalan alat kontrasepsi, kondisi kesehatan ibu hamil yang lemah, kemiskinan, pemerkosaan dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, masalah aborsi banyak sekali menuai kontroversi dari pelbagai kalangan. Ada diantaranya beberapa kalangan yang sepakat praktek aborsi ini dilegalkan, seperti yang telah dilakukan oleh beberapa negara di Asia, Eropa dan Amerika. Tentunya hal ini dilandaskan pada beberapa pertimbangan dan sesuai dengan indikasi tertentu, semisal; janin menderita cacat yang serius, pemerkosaan di bawah umur dengan pertimbangan masa depan si korban dan sebagainya. Dalam Islam pun ada kalangan yang membenarkan praktek aborsi. Seperti mazhab Hanafi, proses aborsi dibenarkan apabila usia kehamilan dibawah 120 hari dengan alasan yang rasional dan sesuai dengan hukum Islam. Indikasinya, sebagai contoh; apabila kondisi kesehatan ibu hamil sangat buruk serta proses persalinan beresiko tinggi pada kematian sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sisi lain terjadi polemik dan muncul penolakan dengan tegas  dari beberapa kalangan, khususnya kalangan agama terhadap praktek aborsi. Hal ini dipandang sangat bertentangan dengan agama, tidak bermoral, keluar dari norma normatif dan melanggar hukum. Tindakan ini sama halnya dengan praktek pembunuhan atau penghilangan nyawa calon jabang bayi yang belum tentu berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam UU Nomor 1 Tahun 1946 dan Pasal 346-349 KUHP dinyatakan bahwa praktek aborsi tidak bisa dibenarkan dan bagi orang yang melakukannya harus di tindak tegas karena bertentangan dengan hukum. Pun halnya dengan UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Dalam Pasal 15 ayat 1 dinyatakan bahwa dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu(baca: aborsi). Di luar ketentuan itu termasuk tindakan kriminal(abortus provokatus kriminalis). Namun, sayangnya hal ini belum cukup efektif untuk menekan tingkat aborsi di Indonesia menjadi berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru sebaliknya, praktek aborsi secara ilegal semakin marak dilakukan dan menjadi jalan keluar satu-satunya daripada harus menanggung malu karena KTD. Maka tak ayal tingkat kematian banyak terjadi karena praktek aborsi yang tidak aman yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkompeten dan mempunyai pengetahuan medis yang minim. Biasanya tingkat kematian tertinggi terjadi bila praktek aborsi ini ditangani oleh dukun tradisional daripada praktisi medis yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kesenjangan Gender&lt;/strong&gt;           &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Pun masalah ini tentunya tak luput dari kesenjangan gender, karena di sini jelas sekali bahwa pihak yang paling dirugikan dan harus menanggung beban paling berat adalah perempuan. Mereka tidak hanya menderita secara fisik tetapi juga psikologis. Kondisi ini sama-sama menyakitkan. Secara fisik resiko pendarahan, cacat fisik bahkan sampai menyebabkan kematian bisa saja terjadi. Namun, dampak psikologis juga tak kalah menyakitkan. Bagi mereka yang melakukan aborsi akibat pemerkosaan sudah pasti akan mengalami trauma yang besar, rasa malu, ganggguan mental yang berkepanjangan dan jelas tidak mungkin bisa dilupakan. Sebaliknya bagi mereka yang melakukan aborsi akibat hamil di luar nikah, muncul persepsi negativ di masyarakat, dianggap tidak bermoral, melanggar norma, dan terkucilkan dari masyarakat.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Bagaimana dengan posisi laki-laki di sini? sudah tentu mereka tidak terlalu beresiko tinggi dan tidak terlalu tampak dirugikan. Memang secara fisik kehamilan hanya dialami oleh perempuan, tetapi bukan berarti posisi laki-laki di sini bisa dengan seenaknya lepas dari tanggungjawab. Banyak kasus yang terjadi dimana sosok laki-laki di sini sering lepas dari tanggungjawab dan menyerahkan semua beban pada pihak perempuan. Biasanya mereka hanya bertanggungjawab pada segi ekonominya saja, menanggung biaya aborsi sudah itu lepas tangan. Mereka kebanyakan tidak mau cari repot dengan KTD ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Seks&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;Tak bisa dipungkiri, kebanyakan dari mereka yang mengalami KTD dan aborsi mempunyai pengetahuan seks yang kurang. Kurangnya informasi tentang seksualitas ini menyebabkan angka terjadinya KTD meningkat. Sehingga hal ini juga berdampak pada kasus aborsi yang semakin besar. Ironisnya lagi pada tahun 2006 seorang seksolog Prof Dr dr Wimpie Pangkahila mengatakan, di Indonesia sebanyak enam puluh persen aborsi dilakukan remaja. Umumnya diantara mereka sangat minim memperoleh pendidikan seks yang sehat. Akibatnya, karena dorongan seksual yang tidak bisa dibendung, banyak diantaranya yang akhirnya melakukan hubungan seks bebas dan hamil di luar nikah. &lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;Melihat kondisi di atas kiranya sangat penting memberikan pendidikan seks yang sehat sejak dini. Hal ini sebagai antisipasi terhadap kondisi lingkungan yang menyebabkan seseorang melakukan seks bebas di luar nikah. Tujuannya adalah untuk memberikan pengetahuan tentang dampak negativ dari sebuah perbuatan yang belum mampu di pertanggungjawabkan baik secara mental maupun sosial. Bagi yang sudah terlanjur melakukannya dan mengalami KTD, selayaknya diberikan dorongan agar mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya, baik kepada pihak laki-laki ataupun perempuan agar tidak terjadi kesenjangan gender. Sehingga nantinya hal ini  juga mampu mengurangi praktek aborsi secara ilegal yang beresiko tinggi pada kematian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-5455711511963586456?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/5455711511963586456/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=5455711511963586456' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/5455711511963586456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/5455711511963586456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2007/06/berani-berbuat-berani-bertanggungjawab.html' title='Berani Berbuat Berani Bertanggungjawab'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-1396686089513420732</id><published>2007-06-01T10:28:00.000+07:00</published><updated>2007-06-01T10:49:33.701+07:00</updated><title type='text'>Menabur Benih Masa Depan</title><content type='html'>Oleh : Ahmad Ikhwan Susilo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas pendidikan adalah memerdekakan…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Begitulah apa yang dikatakan oleh Ki Hajar Dewantara tentang bagaimana pendidikan itu seharusnya. Di sekolah para pendidik dituntut untuk mampu memerdekakan peserta didik dari pikiran yang penuh prasangka. Memerdekakan mereka dari sikap mental yang mirip seperti budak. Memerdekakan dari sikap pengecut dan tidak memiliki keberanian dalam mengambil keputusan, dan memerdekakan peserta didik dari pola pikir yang asing. Lalu, mengajarkan pada mereka bagaimana menghidupkan nilai-nilai ideal dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pun demikian halnya dengan apa yang ditulis oleh Paulo Freire, bahwa hakekat pendidikan adalah untuk memanusiakan manusia(humanisasi). Pendidikan dijadikan sebagai medium pembebasan dari belenggu ketertindasan dan kebodohan. Dalam prosesnya, belajar bukanlah mengkonsumsi ide, tetapi terus-menerus menciptakan ide. Para pendidik, sebagai fasilitator, harus mampu membangun kesadaran para peserta didik untuk belajar dan melatihnya untuk berpikir kritis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka tak pelak banyak orang berpendapat bahwa maju tidaknya sebuah negara dilihat dari tingkat pendidikannya. Seberapa banyak masyarakatnya yang memperoleh pendidikan sehingga nantinya mampu menghadapi perkembangan jaman yang semakin global.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Di sini sekolah memegang peranan penting dalam menciptakan insan yang berkualitas, bermoral dan bermartabat. Sekolah menjadi tempat pembelajaran para peserta didik dalam melihat realitas dunia. Sehingga keberadaanya mutlak dibutuhkan dan setiap orang juga mutlak untuk mengenyam pendidikan dasar di sekolah. Seperti yang disebutkan dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 1 dan 2 bahwa &lt;em&gt;tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar, dan pemerintah wajib membiayainya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak jarang para orang tua rela melakukan apa saja supaya anaknya bisa bersekolah setinggi-tingginya. Dengan harapan kelak mereka menjadi orang yang berhasil dan mampu mengangkat strata sosialnya. Tidak sedikit pula diantara mereka yang beranggapan bahwa sekolah yang baik dan bermutu adalah sekolah yang mahal. Bagi mereka yang berasal dari kalangan menengah ke atas, tak menjadi soal untuk mengeluar kan kocek yang sedikit lebih asal anaknya bisa masuk di sekolah yang bonafit. Bahkan, kalo perlu lewat jalan "belakang".&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lantas, bagaimana dengan mereka yang berasal dari kalangan menengah ke bawah? Hampir setiap tahun mereka dipusingkan dengan permasalahan ini, antara menyekolahkan anaknya dan memilihkan sekolah. Di satu sisi mereka menginginkan yang terbaik buat anaknya, tetapi di sisi lain kondisi perekonomian tidak memungkinkannya. Dengan kondisi yang seadanya mereka bahkan rela hidup di bawah kecukupan asal anaknya bisa mengenyam pendidikan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ironis memang, apalagi sampai hari ini masih banyak anak-anak yang tidak bisa sekolah akibat permasalahan ekonomi. Walaupun alokasi anggaran pendidikan 20% dari APBN dan APBD sudah di sepakati, namun sekali lagi dalam prakteknya masih tersendat-sendat. Demikian halnya dengan dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS. Berdasarkan data dari Depdiknas, mulai tahun ajaran 2007/2008 ini pemerintah menaikkan jatah dana BOS, untuk SD yang sebelumnya sebesar Rp 235.000 menjadi Rp 254.000 per siswa per tahun dan untuk SMP yang sebelumnya sebesar Rp 324.500 menjadi Rp 354.000 per siswa per tahun. Dalam penyalurannya pun masih bermasalah sehingga dana yang disalurkan tidak merata.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walaupun kenyataannya demikian, tetap kita hargai iktikad baik pemerintah yang "sedikit" peduli dengan dunia pendidikan di negeri ini. Meskipun juga belum ada iktikad untuk menggratiskan pendidikan dasar sembilan tahun(SD-SMP) atau yang setara. Tentunya kita percaya, semua itu butuh proses. Namun, dibalik itu semua tetap harus ada kontrol terhadap pemerintah, dan kita jangan hanya tinggal diam—duduk manis—melihat kenyataan ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendidikan Alternatif&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada pepatah yang mengatakan, &lt;em&gt;setiap orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah&lt;/em&gt;. Itu artinya, dimanapun sebenarnya seseorang bisa mendapatkan pendidikan. Bisa belajar tentang banyak hal ke siapa saja dan dimana saja, kapan pun waktunya. Masih banyaknya masyarakat yang beranggapan bahwa urusan pendidikan—belajar mengajar—hanya di dapat di sekolahan saja, membuktikan bahwa masyarakat belum memahami esensi dari pendidikan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Menjamurnya pendidikan alternatif seperti sekolah rumah atau &lt;em&gt;home schooling&lt;/em&gt; menjadi antitesa bahwa mengenyam pendidikan tidak harus di sekolah-sekolah formal. Dimana selama ini para murid terkekang hak tumbuhnya dengan wajar, dibatasi oleh aturan-aturan yang ada, dan tidak bisa berkreasi dengan bebas sesuai minat dan kemampu annya. Adanya&lt;em&gt; home schooling&lt;/em&gt; ini juga menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang sulit mengakses pendidikan formal karena mahalnya biaya sekolah.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hingga saat ini, kita bisa melihat bahwa dunia pendidikan di Indonesia ternyata belum memunculkan sikap kritis. Keberhasilan seorang anak didik baru dinilai dari tingkat kognitif. Sama sekali belum mencantumkan ranah afektif dan psikomotorik. Padahal, dua ranah itu sama pentingnya sebagai indikator keberhasilan pendidikan. Selain itu, keberhasilan pendidikan juga bisa dilihat dari terciptanya pemerataan pendidikan, dimana kualitas anak didik di daerah tertinggal tersubsidi dengan baik sehingga menyamai kualitas pendidikan di daerah yang lebih maju(&lt;strong&gt;Arief Rachman, 2007&lt;/strong&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Cukup sudah para peserta didik menjadi korban sebuah kurikulum yang "coba-coba". Kini sudah saatnya mereka lebih dikenalkan dengan materi dan dihadapkan pada realitas yang sebenarnya. Di arahkan bagaimana mereka memecahkan masalah(&lt;em&gt;problem solving&lt;/em&gt;), serta menggali potensi mereka sesuai dengan minat dan bakat yang mereka miliki. Selain itu, para pendidik juga dituntut untuk mampu membina unsur spiritual, emosional dan inteletual para anak didiknya. Mereka adalah generasi yang kelak akan menjadi pemimpin negeri ini. Mereka adalah benih-benih masa depan. Apa jadinya jika mereka tidak berpendidikan?. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Catatan bawah&lt;/strong&gt; : Artikel ini sudah dikirim ke rubrik prokon aktivis Jawa Pos, tetapi ternyata penulis belum beruntung karena ini untuk ketiga kalinya penulis mengirimkan artikel tiap minggu dengan tema yang berbeda dan hasilnya belum dimuat juga. Kasian Deh Lu Bro...&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-1396686089513420732?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/1396686089513420732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=1396686089513420732' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/1396686089513420732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/1396686089513420732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2007/06/menabur-benih-masa-depan.html' title='Menabur Benih Masa Depan'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-115583876077576208</id><published>2006-08-18T00:58:00.000+07:00</published><updated>2007-04-21T23:52:49.683+07:00</updated><title type='text'>The Da Vinci Code</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt; The Da Vinci Code&lt;br /&gt;“Mengapa Dihujat? Mengapa Dibela?"&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Makalah untuk :&lt;br /&gt;"Diskusi Besar"&lt;br /&gt;Biro Kajian Ilmiah dan Pelatihan (BKIP)&lt;br /&gt;Asrama Mahasiswa Islam Sunan Giri&lt;br /&gt;Lobby Daksinapati Universitas Negeri Jakarta&lt;br /&gt;Kamis, 29 Juni 2006&lt;br /&gt;Oleh : Theophilus Bela, M.A.,&lt;br /&gt;Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ)&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;Sekjen Komite Indonesia untuk Agama dan Perdamaian&lt;br /&gt;(Indonesian Committee on Religions for Peace IComRP) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Buku novel Dan Brown dengan judul "The Da Vinci Code" (disingkat TDVC) yang terbit tahun 2003 merupakan buku terlaris saat ini karena telah diterjemahkan dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan telah dijual lebih dari 65 juta buah . Kalau jumlah buku ini dibagikan di Indonesia dan Malaysia serta Singapura maka setiap keluarga dapat dijangkau distribusinya . Buku tersebut juga telah difilmkan oleh sutradara Ron Howard dan dibintangi oleh para aktor dan aktris beken seperti Tom Hanks, Audrey Tautou, Jean Reno, Ian McKellen dan Alfred Molina . Pementasan film tersebut juga diluncurkan diseluruh dunia berbarengan dengan dibukanya Festival Film Internasional di Cannes 19 Mei 2006 yang lalu . Keberhasilan peredaran buku dan film tersebut berkat kerjasama bisnis yang sukses dengan perusahaan entertaintment raksasa Sony Columbia dengan investasi sebesar 100 juta dollar Amerika . &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Sebagian orang mengatakan bahwa Dan Brwon dan kawan-kawannya yang terlibat dalam bisnis raksasa ini telah meraup keuntungan jutaan atau malah milyaran dollar Amerika . Selain kagum kita juga bertanya mengapa buku dan film TDVC ini begitu berhasil menembus pasar dunia ?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; Dengan sangat piawi Dan Brown, seorang mantan penyanyi lagu pop telah meramu sebuah ceritera yang amat mengasyikkan dengan menggunakan elemen-elemen historis, seni rupa, ajaran agama Kristen serta banyak lagi ide yang diciptakannya sendiri .Para pembaca yang kurang berhati-hati akan dengan gampang dibawa hanyut oleh alur ceritera Dan Brown yang penuh kejutan dan amat menegangkan itu . Tidak heran bahwa pada buku edisi bahasa Indonesia dikatakan bahwa buku ini akan "memukau nalar, mengguncang iman".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p&gt; Mengapa buku dan film TDVC dapat mengguncang iman umat beragama, khususnya umat Kristiani atau para pengikut Yesus Kristus ? Jawaban singkat atas pertanyaan itu adalah sebagai berikut :&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Dalam bukunya Dan Brown menyerang iman Kristiani yang paling hakiki dengan mengatakan bahwa Yesus hanyalah seorang manusia biasa dan bukan Tuhan sebagaimana diimani oleh kaum Nasrani.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan Brown juga mengatakan bahwa seorang Kaisar Romawi bernama Konstantin telah menetapkan Yesus sebagai Tuhan demi kepentingan politiknya melalui konsili (musyawarah agung Gereja Katolik) dikota Nicea tahun 325 Masehi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan Brown mengatakan bahwa kitab suci umat Kristen (Perjanjian Baru) sekarang adalah kitab suci yang disusun Kaisar Konstantin melalui konsili Nicea tersebut. Selanjutnya Dan Brown mengatakan bahwa kitab suci yang benar dari umat Kristen yang benar malah telah dibakar oleh Konstantin karena kitab suci tersebut mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan tetapi hanyalah seorang manusia biasa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Juga dalam bukunya Dan Brown mengklaim bahwa Yesus telah menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai seorang anak perempuan dari pernikahan tersebut.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dan Brown juga mengatakan bahwa Yesus telah mengangkat perempuan yang bernama Maria Magdalena itu untuk memimpin jemaat atau gerejaNya dan hal ini telah menimbulkan cemburu dan amarah yang besar pada Simon Petrus, seorang pengikut Yesus yang paling senior . Karena takut akan amarah Simon Petrus maka Maria Magdalena mengungsi ke Perancis dan bersembunyi diantara masyarakat Yahudi disana dan dinegeri itu pula dia melahirkan seorang putri dari perkawinannya dengan Yesus, demikian ceritera Dan Brown dalam novelnya .&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt; Dari paparan diatas terlihat bahwa Dan Brown dengan bukunya telah menggabungkan fiksi, sejarah serta data-data yang tidak akurat dalam sebuah alur ceritera yang amat menegangkan sehingga para pembaca gampang hanyut dan mempercayai isi ceritera serta indoktrinasi faham agamanya . Dan Brown malah mengatakan bahwa hubungan seks bebas merupakan sarana yang cocok untuk berhubungan dengan Tuhan .&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Film The Da Vinci Code&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; Pada pembukaan film TDVC ada adegan tentang pembunuhan Jaques Sauniere, kurator museum Louvre di Paris oleh Silas, seorang biarawan berkulit albino dari Opus Dei, yang digambarkan sebagai sebuah organisasi rahasia Gereja Katolik . Pembunuhan oleh Silas tersebut bertujan untuk mendapat rahasia batu kunci Priory of Sion, sebuah biara organisasi rahasia Katolik karena disitu dimuat informasi tentang letak Cawan Kudus (Holy Grail) yaitu cawan yang dipergunakan Yesus saat mengadakan perjamuan malam perpisahan dengan para muridnya sebelum Dia dihukum mati dikayu salib .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggal Jaques Sauniere sempat memberikan petunjuk sandi yang mengakibatkan Robert Langdon, ahli ilmu simbol universitas Harvard ikut terlibat dalam kasus ini .Robert Langdon lalu bekerjasama dengan Sophie Nevue, ahli ilmu sandi pemerintah Perancis yang juga adalah cucu perempuan Jaques Sauniere. Dalam usahanya ini keduanya selalu diburu oleh Kapten Bezu Fache, dari dinas reserse kriminil Perancis yang ingin mengungkap kasus pembunuhan tersebut dan biarawan Silas dari Opus Dei demi untuk menyelamatkan Gereja Katolik . Ditengah cerita Robert Langdon dan Sophie Nevue berjumpah dengan Sir Leigh Teabing, ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan tersebut Teabing menuturkan "rahasia-rahasia" Gereja Katolik seperti tentang Yesus yang adalah manusia biasa belaka, tentang perkawinan Yesus dengan Maria Magdalena, peran Kaisar Konstantine dengan konsili Nicea yang memalsukan kitab injil dsb . Lebih lanjut Teabing menceriterakan bahwa pelukis Leonardo Da Vinci adalah anggota perkumpulan rahasia Priory of Sion dan mengetahui tentang rahasia pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena, sehingga tugas serikat Priory of Sion itu ialah menjaga rahasia tersebut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Leonardo Da Vinci membocorkan rahasia tersebut melalui lukisannya yang terkenal beranama The Last Supper atau perjamuan malam perpisahan Yesus dengan para muridnya sebelum beliau dihukum mati diatas kayu salib .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukisan tersebut dikatakan menyembunyikan beberapa kode yang menunjukkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus . Kode-kode tersebut diantaranya tidak adanya gambar Cawan Kudus dalam lukisan tersebut . Orang yang duduk disebelah kanan Yesus adalah Maria Magdalena dan bukan Yohanes, seorang murid Yesus yang paling muda usia. Posisi tubuh Yesus dan Maria Magdalena didalam lukisan tersebut membentuk huruf V, supaya orang yang mencari Cawan Kudus akan menangkap huruf V ini dan mendapati bahwa sesungguhnya Maria Magdalena-lah Sang Cawan Kudus yang mereka cari .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huruf V adalah simbol Cawan Kudus dan juga simbol perempuan . Leonardo Da Vinci memakai Cawan Kudus sebagai kode untuk memberitahukan bahwa Yesus menikah dengan orang yang duduk disebelah kanannya yaitu Maria Magdalena .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lukisan tersebut kelihatan bahwa Petrus amat marah kepada Maria Magdalena dan menunjuk lehernya dengan jari telunjuknya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teabing juga menjelaskan bahwa Gereja Katolik telah berkonspirasi untuk menutup-nutupi fakta bahwa Yesus itu sebenarnya manusia biasa saja dan bahwa Vatikan mengetahui kebohongan tersebut dan sengaja merahasiakannya demi mempertahankan kekuasaan gereja .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejutan terakhir ialah bahwa Teabing sendiri adalah tokoh kunci dalang pencarian batu kunci Priory of Sion, yang digambarkan sebagai sebuah organisasi rahasia Katolik dan bahwa Sophie Nevue, sang ahli sandi pemerintah Peranci itu sebenarnya adalah keturunan Maria Magdalena dari pernikahannya dengan Yesus .&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Mengapa buku novel The Da Vinci Code "dihujat" ?     &lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; Buku novel Dan Brown TDVC itu merupakan sebuah tanda zaman yang menantang semua orang yang percaya kepada Kristus untuk menyatakan imannya . Pernyataan iman tersebut hendaknya tidak dikemukakan secara defensif atau konfrontatif namun harus lebih merupakan sebuah introspeksi terhadap hati nurani kaum beriman, yang harus committed terhadap kegiatan memperdalam pegetahuan tentang kitab suci ajaran Kristus, demikan pendapat seorang pakar hukum Gereja Katolik yang bernama Romo Bruno Esposito.&lt;br /&gt;Seorang pakar sejarah filsafat abad pertengahan yang bernama Benedetto Ippolito mengatakan bahwa buku Dan Brown tersebut berhasil dalam konteks budaya penuh konspirasi dan tabir rahasia. Ippolito juga mengatakan bahwa kini orang memandang kebenaran ajaran Kristus sekedar hanya sebagai sebuah t e o r i atau malah dianggap sebagai sebuah karangan manusia belaka. Dinegara-negara maju banyak orang kini menganggap Tuhan tidak ada .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sarjana lain yaitu Joan-Adreau Rocha Scarpatte mengatakan bahwa buku Dan Brown itu merupakan sebuah termometer budaya yang memberikan gambaran atas kehidupan kerohanian dinegara-negara maju dewasa ini . Menurut Rocha buku novel itu dapat menimbulkan kebingungan bagi mereka yang kurang kritis sehingga tidak melihat apa yang tersembunyi dibalik ceritera-ceritera dalam buku itu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pakar kitab injil dari University of the Holy Cross (Universitas Salib Suci) yang bernama Bernardo Estrada mengungkapkan bahwa buku novel TDVC banyak bersumber dari buku-buku injil palsu yang beredar pada abad ke-2 Masehi yang memuat ajaran-ajaran yang menyangkal kematian Yesus dikayu salib serta kebangkitanNya dari alam maut . Estrada juga mengemukakan bahwa buku novel Dan Brown telah memberikan gambaran yang keliru tentang hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena. Menurut Estrada hubungan antara mereka yang sebenarnya ialah hubungan spirituil yang harmonis . Yesus juga telah memberikan karunia istimewa kepada Maria Magdalena yakni sebagai orang pertama yang menerima berita suka-cita tentang kebangkitanNya dari alam maut, lebih dahulu dari pemberitaan kepada Petrus, murid paling senior dari Yesus yang adalah Paus pertama umat Katolik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Romo Esposito, pakar hukum Gereja Katolik yang disebut diatas membuat seruan kepada umat yang beriman pada Yesus Kristus untuk melawan relativisme dan kepalsuan yang mengancam umat manusia dewasa ini .&lt;br /&gt;Jadi buku TDVC sesunguhnya merupakan sebuah tantangan bagi umat Kristen sendiri dan bukan bagi mereka yang mengkomersialkan buku dan filmnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengarang Katolik bernama Mark Shea telah menulis sebuah buku yang kalau diterjemahkan berjudul "Penipuan The Da Vinci" telah membeberkan fakta dan fiksi (khayalan) yang ada dibalik buku Dan Brown tersebut .Shea menguraikan hal-hal yang tidak akurat dalam buku Dan Brown dan mengapa hal tersebut mengancam iman umat Kristiani . Shea menulis buku "Penipuan The Da Vinci" karena puluhan juta orang telah membaca novel Dan Brown dan banyak orang telah goyah imannya pada Yesus Kristus dan Gereja Katolik . Buku penuh hujatan dari Dan Brown ini telah menjadi fenomena kebudayaan atau sastra yang menonjol karena buku tersebut telah menyerang Yesus Kristus dan misiNya .Maka dari itu harus dihadapi tantangan tersebut .&lt;br /&gt;Buku TDVC telah menjadi "pseudo-ilmu" atau ilmu palsu tentang iman Kristiani . Disebut "ilmu palsu" karena buku tersebut telah menyerang sendi-sendi iman yang paling suci dari satu milyard umat Katolik diseantero dunia dan juga karena buku tersebut telah mencap Gereja Katolik sebagai sebuah jaringan "Organisasi Para Pembunuh" yang sengaja diciptakan untuk mempertahankan kebohongan tentang keilahian Yesus dan kebangkitanNya dari alam maut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku TDVC telah dijual lebih dari 65 juta buah dan sejak bulan Mei yang lalu filmnya telah beredar diseluruh dunia dan ditonton oleh jutaan orang yang sama sekali buta terhadap sejarah dan pengetahuan teologi agama Katolik . Maka dari itu orang Kristen harus tampil untuk menunjukkan fakta dan meyakinkan para penonton dan pemirsa tentang jeleknya apa yang mereka tonton .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mark Shea dan beberapa kawan seimannya telah membentuk sebuah "Lembaga Pencerahan Da Vinci" dan bekerja sama dengan lembaga pers Katolik berusaha membekali umat Katolik dan semua orang yang berkehendak baik dengan pengetahuan yang memadai saat menghadapi film tersebut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka yang begitu saja menerima film tersebut tidak menyadari akan adanya jebakan-jebakan yang ada didalamnya . Orang umumnya gampang digiring untuk mempercayai sebuah fiksi saat terlena menonton sebuah film dari pada menerima sebuah argumen yang didengarnya dalam sebuah perdebatan atau seminar diruang kuliah .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Dan Brown mengatakan bahwa pelukis Leonardo Da Vinci tidak memberi Yesus sebuah cawan dalam lukisan "Perjamuan Akhir" dengan maksud memberi kesan bahwa Maria Magdalena adalah cawan yang sebenarnya yang menampung "darah Yesus" yaitu anak dari Yesus . Namun faktanya ialah bahwa dalam lukisan Leonardo Da Vinci tersebut ada terlukis 13 buah cawan . Disini kita melihat dengan jelas bahwa Dan Brown telah memalsukan fakta dan sejarah kesenian .&lt;br /&gt;Dalam bukunya Dan Brown berkali-kali mengungkapkan arti sebuah kata dalam bahasa Aramaic yang diambilnya dari kitab injil palsu Philipus dari abad ke-2 Masehi tanpa dia menyadari bahwa buku tersebut ditulis dalam bahasa Coptic . Disini letak ketidak-akuratan lain yang dibuat Dan Brown .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Brown mengatakan bahwa yang duduk disebelah kanan Yesus dalam lukisan Leonardo Da Vinci ialah Maria Magdalena dan bukan rasul termuda Yesus yang bernama Yohanes . Hal ini tentu bertentangan dengan apa yang kita jumpai dalam injil Johanes 21 : 20 . Ingat buku injil ini ditulis oleh Yohanes sang rasul termuda itu . Masak dia keliru menceriterakan tentang kejadian dimana dia sendiri ikut serta didalamnya .&lt;br /&gt;Juga harus diingat kebiasaan pelukis abad pertengahan untuk melukis seorang pemuda laki-laki dengan menggunakan wajah seorang perempuan . Hal ini mungkin kurang disadari Dan Brown saat meramu ceriteranya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya Dan Brown mengatakan bahwa Maria Magdalena telah menjadi korban fitnah Gereja Katolik berabad-abad lamanya tanpa dia menyadari bahwa Maria Magdalena adalah seorang kudus yang dihormati dalam tradisi agama Katolik .Dalam buku injil diberitakan bahwa Maria Magdalena itu seorang pendosa yang telah bertobat dan menjadi seorang murid Yesus yang setia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam novelnya Dan Brown menuduh Vatikan menjadi dalang dari bermacam komplotan dan persekongkolan jahat yang katanya telah berlangsung berabad-abad lamanya tanpa dia sendiri menyadari bahwa waktu itu Vatikan belum ada sehingga bagaimana Vatikan bisa berkomplot ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bohong paling besar ialah claim Dan Brown bahwa sebelum tahun 325 Masehi tidak ada seorangpun yang mengakui Yesus lebih dari "seorang manusia biasa" atau "manusia yang bisa mati" , sampai saat Kaisar Konstantin memanipulir konsili Nicea untuk menetapkan Yesus sebagai Tuhan melalui sebuah voting yang hasilnya hampir berimbang.&lt;br /&gt;Dan Brown tidak bertanya pada dirinya sendiri mengapa kalau Yesus hanya seorang "manusia biasa" mengapa Yesus mendirikan gerejaNya, demikian juga apa gunanya sebuah gereja dalam 300 tahun permulaan sejarahnya apabila pada waktu itu tidak ada seorangpun yang menyembah Yesus sebagai Tuhan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang claim Dan Brown bahwa Kaisar Kostantin telah berperan dalam penetapan kitab-kitab suci Perjanjian Baru termasuk empat kitab injil perlu dikatakan bahwa ini adalah isapan jempol belaka dari sipenulis novel itu . Kaisar Konstantin tidak ada kaitan sama sekali dengan penyusunan dan penetapan kitab-kitab suci umat Kristen tersebut . Santo Ireneus, seorang ulama besar umat Katolik pada tahun 180 Masehi atau 140 tahun sebelum Konstantin dan konsili Nicea telah menulis tentang 4 buah kitab injil yang kita miliki sekarang .Pada tahun 367 Masehi seorang ulama besar Katolik lainnya yaitu Santo Athanasius menulis daftar 27 buku Perjanjian Baru termasuk 4 kitab injil yang telah lengkap sekitar tahun 200 Masehi . Itulah buku-buku Perjanjian Baru yang dimiliki umat Kristen hingga dewasa ini .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga claim Dan Brown bahwa pelukis Leonardo Da Vinci dan juga Isaac Newton adalah anggota sebuah organisasi rahasia Katolik yang bernama Priory of Sion ternyata isapan jempol belaka . Organisasi yang bernama Priory of Sion itu telah didirikan oleh beberapa orang Perancis dengan ketuanya bernama Pierre Plactard pada tahun 1950-an . Plactard tercatat sebagai seorang rasist karena sangat anti-Yahudi dan pernah dihukum karena pemalsuan dokumen . Kalau Leonardo Da Vinci hidup diabad pertengahan Masehi dan Sir Isaac Newton hidup sekitar 200 tahun yang lalu maka mustahil dua tokoh sejarah itu menjadi anggota Priory of Sion, yang sama sekali tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Gereja Katolik .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam buku novelnya Dan Brown menggambarkan organisasi Katolik Opus Dei seakan-akan sejajar dengan organisasi intelijen sebuah negara adikuasa dewasa ini yang dalam operasinya biasa melakukan penculikan dan pembunuhan misterius serta menjebolkan orang dipenjara-penjara rahasia tentu sangat keterlaluan . Dan Brown dalam novelnya menggambarkan "Romo" Silas sebagai seorang pembunuh bayaran yang amat profesionil tentu tidak sesuai dengan kehidupan nyata seorang pastor Katolik dalam kesehariannya . Dalam kenyataannya Opus Dei merupakan sebuah organisasi awam Katolik yang didirikan oleh seorang pastor Katolik asal Spanyol bernama Jose Maria Escriva de Balaguer pada tahun 1928 . Misi Opus Dei ialah ikut berperan serta dalam usaha mengembangkan iman Kristiani . Anggota Opus Dei kini tercatat sebanyak 87 ribu orang dan tersebar di 63 negara .Secara harfiah kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia Opus Dei berarti Karya Ilahi .Almarhum Paus Johanes Paulus II sangat menaruh kepercayaan pada kelompok Opus Dei dan ini amat bertentangan dengan claim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;    Dan Brown dalam buku novelnya bahwa Paus marah terhadap organisasi tersebut .&lt;br /&gt;Tahun 1975 Jose Maria Escriva meninggal dunia dan kedudukannya sebagai ketua Opus Dei digantikan oleh Alvaro del Portillo . Oleh Almarhum Paus Johannes Paulus II pendiri Opus Dei Jose Maria Escriva ditetapkan sebagai seorang kudus pada tahun 2002. Melalui Opus Dei seorang Katolik bisa menyucikan diri dan ikut menjadi rasul bagi Yesus Kristus. Para Paus dan Gereja Katolik melihat Opus Dei sebagai sebuah kekuatan baru, dengan ajaran penuh motivasi . Demikianlah sekilas gambaran Opus Dei yang sebenarnya seperti tertulis dalam sebuah artikel dalam majalah mingguan Katolik "HIDUP" tanggal 4 Juni 2006 .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Brown juga berusaha mengkrieit atau menciptakan sebuah mitos ajaran agama baru yang feminis dan inti mitos tersebut ialah bahwa Yesus itu sebenarnya seorang feminis yang amat gemar dengan paham agama baru ciptaan Dan Brown .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Brown menyerang Gereja Katolik telah berusaha menutup-nutupi ini semua dengan segala kebohongan tentang keilahian Yesus . Keinginan Dan Brown dalam bukunya ialah agar kita semua mengikuti ajakannya untuk memuja seorang dewi hasil kreasinya karena katanya itu adalah ajaran Yesus . Bualan kosong ini tentu amat bertentangan dengan semua fakta mengenai Yesus yang kita jumpai dalam kitab-kitab injil .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu umat Katolik harus meningkatkan pengetahuannya tentang agamanya baik untuk diri sendiri, anggota keluarga, kawan-kawan serta para tetangga untuk menghindari penyebaran ajaran yang berbahaya ini .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seorang Katolik atau siapa saja menonton film ini tanpa pikiran kritis dan pengetahuan cukup tentang latar belakangnya maka hal ini mengandung bahaya karena buku TDVC telah ditulis dengan tekad untuk menghancurkan iman kepada Yesus Kristus dan menggantinya dengan sebuah pemujaan kepada dewi berhala ciptaan penulis buku tersebut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga terdapat masalah karena kebanyakan pembaca buku tersebut tidak menyadari bahwa buku tersebut akan mendangkalkan pikiran orang tentang seni, sejarah, ilmu teologi dan ilmu perbandingan agama .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat masih segar ingatannya atas keberatan kaum Muslim atas diedarkannya kartun Nabi oleh sebuah surat kabar Eropa dan pada saat yang hampir bersamaan muncul pula buku dan film hasil karya Dan Brown tersebut . Memang para promotor buku dan film tersebut mengambil timing yang tepat dan juga mengatakan bahwa keberatan pihak Katolik terhadap kepalsuan buku dan&lt;br /&gt;film tersebut sebagai sebuah ancaman terhadap hak kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ingin kemukakan bahwa saat menyikapi masalah pemuatan kartun Nabi beberapa waktu lalu pihak Vatikan menekankan agar kebebasan pers atau kebebasan mengemukakan pendapat hendaknya tidak dipakai untuk menghina atau menyerang sebuah agama tertentu .&lt;br /&gt;Perlu diingat bahwa sehubungan dengan kontroversi tentang buku novel Dan Brown tersebut pihakGereja Katolik tidak membenarkan tindakan-tindakan kekerasan dalam segala bentuk manifestasinya .&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Fakta kehidupan keagamaan Katolik di Perancis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; Berikut ini akan dikemukakan sedikit gambaran tentang kehidupan kekatolikan disebuah negara maju dengan mengambil contoh Perancis . Mengenai pendapat orang Perancis tentang Yesus dan Gereja Katolik dapatlah dilaporkan hasil sebuah survey baru-baru ini sebagai berikut :&lt;br /&gt;Dari 10 orang yang ditanyai pendapatnya tentang Yesus dan Gereja Katolik ada 3 yang mengatakan bahwa Yesus pasti atau mungkin tidak pernah ada . 1 orang malah mengatakan bahwa Yesus itu seorang pembohong dan hanya 2 orang yang mengakui keilahian Yesus . 7 orang mengatakan bahwa Yesus sama sekali tidak berpengaruh apa-apapun dalam kehidupnya . 8 orang malah mengatakan bahwa Gereja Katolik merupakan ciptaan manusia belaka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survey diatas dikemukakan oleh sebuah majalah mingguan Katolik Perancis bernama "Famille Chretienne" (Keluarga Kristen) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kita tidak boleh begitu saja mengatakan bahwa hasil survey tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Perancis telah meninggalkan iman atau kebudayaan Kristen .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sample yang disurvey sebanyak 1000 orang ada 21 % mengaku telah membaca buku TDVC dan 47 % pernah mendengar buku tersebut . Kalau dijumlahkan maka hasilnya adalah 68 % atau lebih dari 2/3 dari sample sudah mengetahui tentang adanya buku novel TDVC .&lt;br /&gt;Ada 48 % atau hampir setengah dari mereka yang telah membaca buku tersebut menganggap Yesus hanya sebagai manusia biasa saja, sedangkan hanya 29 % atau kurang dari sepertiga kelompok orang yang belum membaca buku itu berpendapat sama .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca buku itu terpengaruh untuk tidak percaya pada kebangkitan Yesus dari alam maut . Jumlah pembaca yang tidak mengakui kebangkitan Yesus dari alam maut 10,7 % lebih tinggi dari mereka yang belum membacanya .&lt;br /&gt;Jumlah pembaca buku yang mengatakan bahwa Gereja tidak berguna adalah 14 % lebih tinggi dari mereka yang belum membaca buku Dan Brown .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari seperempat atau 26,4 % orang yang belum baca novel tersebut berpendapat bahwa Maria Magdalena adalah istri atau gundik Yesus, sebuah angka yang sudah cukup tinggi . Pada orang-orang yang telah membaca novel Dan Brown maka angka tersebut melonjak mencapai 48,3 % atau hampir setengahnya berpikiran demikian .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai sukses buku dan film TDVC pihak resmi Vatikan dalam hal ini Uskup Agung Angelo Amato, Sekretaris Konggregasi Doktrin Iman pada sebuah kesempatan mengatakan bahwa sukses dari film yang anti Kristus ini disebabkan oleh miskinnya budaya sebagian besar orang Kristen, yang sering tidak mengerti apa sebenarnya arti iman mereka .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku TDVC sungguh sebuah roman kriminil yang "mengasyikkan" penuh dengan pelintiran fakta .Yang mengherankan ialah bahwa buku tersebut amat berhasil menembus pasar walaupun banyak mengandung kejanggalan bukan hanya dalam tulisan mengenai gereja tetapi juga dalam penulisan mengenai sejarah termasuk sejarah kesenian, umpamanya pada bagian mengenai pelukis Leonardo Da Vinci, yang katanya pernah menjadi anggota perkumpulan rahasia "Priory of Sion", yang ternyata baru didirikan tahun 1956, jadi disini terdapat sebuah pemalsuan sejarah yang besar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian orang gemar membaca buku tersebut karena massa pembaca umumnya gemar akan bermacam teori konspirasi dan tidak suka pada hal-hal yang berbau agama, termasuk agama Kristen, terutama menyangkut kecurigaan yang lama terhadap Gereja Katolik yang dituduh bersifat "totaliter" karena strukturnya yang hirarkis. Tambahan lagi perlu diingat bahwa sifat antipati tersebut dikarenakan pihak Gereja Katolik yang berani ngotot menentang pelanggaran-pelanggaran moral dan kesusilaan.&lt;br /&gt;Doktrin Gereja Katolik yang tak mengenal kompromi dalam hal penghormatan terhadap kehidupan seorang manusia sejak pembuahan dalam kandungan rahim hingga kematian, dan penolakan atas perkawinan sejenis serta tidak mengizinkan sebuah perceraian secara apriori telah mengundang perlawanan dan penolakan dari massa umatnya dinegara-negara yang telah maju .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari hasil survey dapat dilihat bahwa ternyata Gereja Katolik masih dihargai karena kegiatan-kegiatan sosial kemanusiannya baik oleh mereka yang telah membaca atau belum membaca novel Dan Brown tersebut . 63 % dari sample survey meberikan penilaian positip atau sangat positip terhadap kegiatan sosial gereja .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku novel dan film hasil karya Dan Brown yang penuh dengan pemutar balikan fakta mengenai apa yang disebut "rahasia-rahasia atau intrik-intrik" gereja, atau yang mengenai diri Yesus, serta hubungan Yesus dengan Maria Magdalena, peran Kaisar Konstatin dalam konsili Nicea dan apa yang disebut "rencana-rencana jahat atau klandestin" dari Opus Dei tentu akan mempengaruhi para pembaca atau penonton film tersebut yang mempunyai pengetahuan yang amat minim mengenai agama Katolik . Ini sungguh amat mengkhawatirkan seperti kita lihat dari hasil survey di Perancis diatas .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun harus juga dikatakan bahwa bagi umat Katolik ini merupakan kesempatan emas untuk menunjukkan wajah gereja yang sejati . Tentang agama Katolik tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dan orang Katolik harus tampil kedepan umum untuk memberikan kesaksian tentang penyelamatan dalam Yesus Kristus yang diyakini sebagai Tuhan yang benar dan manusia yang sejati .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survey majalah mingguan Katolik Perancis tadi menunjukkan bahwa ada peluang untuk mebuka strategi baru dalam kegiatan memperdalam iman umat Katolik dinegeri itu .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadapi tantangan dari buku novel dan film Dan Brown umat Katolik meniru ketangkasan seni bela diri judo, yang akan mengalahkan lawan tanpa kekerasan tetapi dengan menggunakan kekuatan lawan sendiri .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu untuk dicatat bahwa mingguan Katolik Perancis "Famille Chretienne" telah menurunkan empat nomor majalahnya untuk mencounter novel Dan Brown dalam bentuk laporan hasil-hasil survey, interview, tulisan feautures dll yang dapat diakses secara gratis pada website &lt;a href="http://www.davincicode-laverite.com/" target="_blank"&gt;www.davincicode-laverite.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihak Konperensi Para Uskup Katolik Amerika Serikat (United States Conference of Catholic Bishops disingkat USCCB) juga telah mengadakan aksi untuk mengcounter pengaruh buruk novel dan film karangan Dan Brown tersebut dengan membuka sebuah website khusus untuk menyebarkan pesan-pesan rohani bagi mereka yang goyah imannya karena menonton atau membaca karya penulis tersebut . Website Gereja Katolik di Amerika Serikat tersebut adalah sbb : &lt;a href="http://www.jesusdecoded.com/" target="_blank"&gt;www.jesusdecoded.com&lt;/a&gt; Bagi mereka yang ingin mengupas secara kritis buku novel dan film karangan Dan Brown dianjurkan untuk membuka website tersebut . &lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;P e n u t u p&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; Sebagai penutup saya ingin memberikan beberpa kutipan kitab injil mengenai Maria Magdalena, yang dalam tradisi agama Katolik selalu dihormati sebagai seorang kudus . Betul dalam hidupnya dia pernah menjadi seorang pendosa tetapi setelah bertemu dengan Yesus dia bertobat dan menjadi seorang murid Yesus yang setia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab injil karangan Lukas 8 : 1 - 3 dikatakan ada beberapa perempuan yang melayani Yesus dan mereka itu telah disembuhkan Yesus dari roh-roh jahat atau beberapa penyakit, "yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat .... Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu (Yesus dan murid-muridNya) dengan kekayaan mereka" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa tempat dikitab injil kita menjumpai berita tentang Yesus mengampuni wanita yang berdosa atau wanita pelacur .&lt;br /&gt;Pada kitab injil Johanes 7 : 53 - 8 : 11 diberitakan bahwa sekali peristiwa para pemuka bangsa Yahudi membawa kehadapan Yesus seorang wanita yang tertangkap basah berbuat zinah . Para pemuka orang Yahudi yang terdiri dari para ahli hukum Taurat dan kaum Farisi (kaum cerdik pandai) bertanya kepada Yesus apakah perempuan itu harus dihukum rajam, karena hal itu adalah sesuai dengan ajaran Nabi Musa . Mereka mendesak Yesus untuk segera menjawab pertanyaan itu .Namun Yesus tidak menjawab mereka tetapi membungkukkan badanNya dan menulis sesuatu ditanah dengan jariNya . Orang-orang Yahudi itu tidak sabar dan terus mendesak Yesus dengan pertanyaan mereka . Maka bangkitlah Yesus berdiri tegak kembali dan berkata kepada mereka : "Barangsiapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Yesus membungkuk lagi dan menulis lagi ditanah. Setelah mendengar tantangan Yesus tersebut maka menyingkirlah para pemuka bangsa Yahudi tersebut satu persatu dan dimulai dari yang tertua . Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri bersama perempuan itu. Lalu Yesus bangkit berdiri lagi dan berkata kepada perempuan itu, "Hai perempuan, dimanah mereka ? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau ? " Jawab perempuan itu, "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus : "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam injil Lukas 7 : 36 - 50 diceriterakan tentang seorang perempuan pendosa yang menunjukkan penyesalannya dengan membasahi kaki Yesus dengan air matanya dan menyeka dengan rambutnya sendiri lalu mencium kaki Yesus dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi . Yesus mengampuni dosa perempuan itu dengan berkata : "Dosamu telah diampuni." ....."Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti kesetiaan Maria Magdalena terhadap Yesus ditunjukkan dalam injil Johanes 19 : 25 pada saat Yesus tergantung dikayu salib dan akan menemui ajalNya Maria Magdalena juga berdiri dibawah salib bersama Maria, ibu Yesus serta perempuan-perempuan lain dan murid Yesus yang termuda bernama Yohanes .&lt;br /&gt;Juga setelah jenazah Yesus diturunkan dari salib dan dimakamkan sesuai adat orang Yahudi Maria Magdalena dan kawan-kawan perempuan yang lain tetap duduk didepan kubur disaat orang-orang lain telah pergi meninggalkan kubur itu (lihat injil Matius 27 : 61) Setelah meninggalkan kubur Maria Magdalena dan kawan-kawan perempuannya membeli rempah-rempah dan minyak mur . Yesus wafat dan dimakamkan pada hari Jumat dan pada hari Sabtu (Sabat) perempuan-perempuan itu beristirahat sesuai dengan hukum Taurat orang Yahudi . Tetapi pagi-pagi benar waktu hari masih gelap pada hari pertama minggu itu (hari Minggu atau hari ke-3 setelah Yesus wafat) Maria Magdalena dan kawan-kawan perempuannya membawa rempah-rempah dan minyak mur kekubur Yesus untuk mewangikan jenazah Yesus supaya tetap awet sesuai adat kebiasaan orang Yahudi pada zaman itu . Namun sesampai dikubur perempuan-perempuan itu kaget sekali karena melihat batu besar yang menutupi kubur itu telah teguling dan kuburnya sendiri telah kosong . Jenazah Yesus sudah tak ada disana . Melihat itu para perempuan itu bingung dan merasa ketakutan . Maria Magdalena menangis berdiri didepan kubur Yesus . Maria Magdalena merasa sedih sekali karena dikiranya jenazah Yesus telah dicuri orang dari kubur itu . Saat Maria Magdalena menoleh melihat kebelakang Yesus berdiri disitu tetapi Maria Magdalena tidak mengenaliNya. Kata Yesus kepadanya, "Ibu, mengapa engkau menangis ? Siapakah yang engkau cari ? " Mula-mula Maria Magdalena belum menyadari bahwa orang yang beridiri dibelakangnya itu ialah Yesus, namun setelah sejenak Yesus menyapanya lagi dengan menyebut langsung namanya, "Maria !" Langsung Maria Magdalena mebalas sapaan itu dengan mengatakan dalam bahasa Ibrani "Rabuni !" artinya Guru . Maria Magdalena sudah mengenaliNya kembali bahwa itulah Yesus, orang yang dipujanya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi setelah bangkit dari alam maut Yesus menampakkan diri untuk pertama kali kepada Maria Magdalena, lebih dahulu dari pada Petrus dan murid-murid yang lain . (lihat kisah dibuku injil Matius 27 : 61 dan Matius 28 : 1 - 10 dan injil Lukas 23 : 50 - 24 : 12 serta juga injil Johanes 20 : 1 - 29 dan injil Markus 15 : 33 - 47 dan 16 : 1 - 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kesaksian-kesaksian yang diberikan oleh kitab injil tentang Maria Magdalena, orang yang oleh Dan Brown dikatakan bahwa selalu difitnah oleh Gereja Katolik selama berabad-abad lamanya . Jadi apa yang dikatakan oleh pengarang novel yang laris tersebut adalah bohong belaka . Dalam doa yang diserukan kepada orang-orang kudus disurga umat Katolik juga berseru kepada Santa Maria Magdalena memohon doa dan perantaraanya kepada Yesus . Maria Magdalena adalah satu-satunya perempuan dan murid Yesus yang disebut namanya dalam doa tersebut .&lt;br /&gt;Daftar sumber penulisan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Pdt.Dr.Ir.Bambang H. Widjaja (Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia) : Mengungkap "The Da Vinci Code", diturunkan dalam 4 bagian oleh surat kabar harian SINAR HARAPAN, Jakarta, mulai tanggal 15 Mei 2006 dst.&lt;br /&gt;2). Martin Basiang, Fiksi "The Da Vinci Code" ditulis disurat kabar harian SUARA PEMBARUAN, Jakarta, tgl. 7 Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Zenit, sebuah kantor berita internasional yang selalu memberitakan tentang kegiatan Paus dan Gereja Katolik langsung dari Vatikan dengan website &lt;a href="http://www.zenit.org/" target="_blank"&gt;www.zenit.org&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekasi, Jawa Barat, 27 Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Theophilus Bela M.A.&lt;br /&gt;Ketua Umum Forum Komunikasi Kristiani Jakata (FKKJ)&lt;br /&gt;Sekjen Komite Indonesia untuk Agama Agama bagi Perdamaian&lt;br /&gt;(Indonesian Committee on Religions for Peace IComRP)&lt;br /&gt;Duta Besar Perdamaian (Ambasador for Peace)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP 0816-180-6644  Fax 021-426 5903  email : &lt;a href="http://us.f530.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=bela@cbn.net.id" target="_blank"&gt;bela@cbn.net.id&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://us.f530.mail.yahoo.com/ym/Compose?To=fkkj@cbn.net.id" target="_blank"&gt;fkkj@cbn.net.id&lt;/a&gt; lebih lanjut tentang kegiatan kami ketik nama Theophilus Bela di &lt;a href="http://www.google.com/" target="_blank"&gt;www.google.com&lt;/a&gt; lalu pencet Search maka Anda akan menemukan tulisan atau komentar kami tentang berbagai hal menyangkut dialog antar agama Terima kasih&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;strong&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;      &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-115583876077576208?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/115583876077576208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=115583876077576208' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/115583876077576208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/115583876077576208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2006/08/da-vinci-code.html' title='The Da Vinci Code'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-29519692.post-115238876712182502</id><published>2006-07-09T02:52:00.000+07:00</published><updated>2006-07-09T02:59:27.130+07:00</updated><title type='text'>Hari Pers Nasional 2006</title><content type='html'>Revolusi teknologi informasi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perubahan besar yang terus kita alami. Media menjadi multimedia. Tidak lagi terbatas media cetak, sekaligus media elektronik. Radio, film, televisi, internet, semua yang termasuk media digital, kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan media, sebagai sumber informasi. Kita sungguh sedang merasuki apa yang disebut dengan era digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian, apalagi majalah, terikat periodisitas, terbit secara teratur pada waktu tertentu. Media elektronik dan digital tak terikat periodisitas. Peristiwa dan masalah langsung dapat ditayangkan dan disiarkan secara serentak dan serempak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media apa pun memiliki rangkaian tiga peran: informasi, pendidikan, hiburan (entertainment). Ketika media mutakhir terbawa arus peran hiburan, format dan ekspresi hiburan juga melanda peran informasi dan edukasi. Kita kenal munculnya infotainment, edutainment, infomersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media cetak hidup dari pelanggan dan iklan. Di negara yang ekonominya maju, bermunculan media cetak yang hanya hidup dari iklan. Kita kemukakan semua itu untuk melukiskan dalam kondisi macam apakah media yang menjadi multimedia kini hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi dan lingkungan bagaimanakah media cetak kini berada. Ya, media cetak, karena kita menyambut Hari Pers Nasional. Multimedia dihadapkan pada kesempatan dan tantangan. Namun, media cetaklah yang lebih banyak dihadapkan pada tantangan oleh berlanjutnya revolusi teknologi informasi yang berlangsung cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbatas jumlahnya media cetak yang sempat tumbuh sebagai multimedia dan dapat melakukan konvergensi. Semakin besarlah peran modal, baik modal finansial maupun modal kompetensi profesional, termasuk menejemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, proses emansipasi yang berinteraksi dengan demokrasi merangsang. Semakin kuat kebutuhan akan informasi, edukasi, dan entertainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran klasik, tiga serangkai informasi, edukasi, hiburan pun harus diterjemhkan dan dijabarkan secara aktual dan relevan sesuai dengan perkembangan zaman serta sesuai dengan kekhasan masing-masing mediumnya. Tetap berlaku ungkapan Marshall mcLuhan, the medium is the message. Pesan dipengaruhi dan ikut dibentuk oleh mediumnya, entah surat kabar, radio, televisi, maupun internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah juga tetap relevan kaitan interaksi media dengan pandangan kemasyarakatan dan kenegaraannya? Jelas semakin relevan, interaksi itu semakin aktual , mau tidak mau terpengaruh global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, ada baiknya media juga berpaling kesejarahnya. Bagi pers indonesia, sejarah itu panjang dari masa pergerakan. Bagi media elektronik, apalagi digital, sejarah itu bahkan masih perlu dibangun bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, bagaimana ada waktu, ada peluang dan ada saran –finansial, kompetensi profesional, dan manejemen-jika dari surat kabar dan majalah anggota serikat penerbit surat kabar yang ada, barulah 30 persen saja yang masuk kategori “sehat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi keperluan mendesak bagi media untuk menangkap keperluan, selera, dan cita rasa khalayaknya dewasa ini. Sungguh suatu tantangan dan permasalahan yang akumulatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru karena tantangan dan permasalahan serta harapan khlayak itulah hari pers nasional adalah hari berefleksi, belajar dan melangkah menghadapi tantangan yang menghadang di depan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikutip dari tajuk rencana Kompas: Kamis, 9 Februari 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/29519692-115238876712182502?l=bungkapit21artikel.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/feeds/115238876712182502/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=29519692&amp;postID=115238876712182502' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/115238876712182502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/29519692/posts/default/115238876712182502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bungkapit21artikel.blogspot.com/2006/07/hari-pers-nasional-2006.html' title='Hari Pers Nasional 2006'/><author><name>K4p1t</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00245301719475108926</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='18' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_PD1j5O0zIpg/SEr7e_N1y4I/AAAAAAAAADI/9Yc0ME0n1xI/S220/karikatur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
